“Orang tersebut akan enggan kembali kepadamu ketika menghadapi masalah atau situasi tertentu, dan hal itu bisa membuat mereka terlalu khawatir akan menyita waktumu dan mengganggumu dibandingkan mendapatkan apa yang mereka butuhkan,” ujar Mary Abbajay.
Kalimat di Tempat Kerja yang Diam-diam Bisa Melukai Mental Rekan Kerja

Di tempat kerja, gak semua ucapan yang bikin gak nyaman terdengar kasar atau terang-terangan. Ada kalimat yang sekilas terdengar biasa, tetapi ternyata bisa bikin rekan kerja merasa diremehkan, gak didengar, atau bahkan meragukan dirinya sendiri. Kalau sering didengar, ucapan seperti ini bisa bikin suasana kerja jadi gak nyaman.
Karena itu, memilih kata saat ngobrol dengan rekan kerja ternyata gak kalah penting dari isi pembicaraannya. Kadang, sedikit mengubah cara menyampaikan sesuatu sudah cukup untuk membuat lawan bicara merasa lebih dihargai. Nah, berikut beberapa kalimat yang sebaiknya gak asal dilontarkan di tempat kerja.
1. “Jangan tersinggung, tapi ...”

ilustrasi bekerja di kantor (pexels.com/fauxels) Kalimat ini biasanya dipakai sebagai pembuka sebelum menyampaikan kritik. Bukannya bikin lawan bicara lebih siap, kalimat ini justru bisa memberi sinyal bahwa setelahnya bakal ada sesuatu yang kurang enak didengar. Apalagi kalau yang dibahas menyangkut kemampuan, penampilan, atau cara seseorang bekerja.
Mary Abbajay, presiden konsultan pengembangan kepemimpinan Careerstone Group, dikutip dari HuffPist, mengatakan ungkapan seperti “dengan segala hormat” bisa menunjukkan bahwa seseorang sebenarnya gak menghargai lawan bicaranya. Ia bahkan masih mengingat ucapan seorang manajer kepadanya yang terjadi 15 tahun lalu.
2. “Saya gak punya waktu untuk ini.”

ilustrasi dua wanita berbincang (pexels.com/divinetechygirl) Lagi sibuk memang wajar, tetapi mengatakan “saya gak punya waktu untuk ini” berulang kali bisa bikin orang lain merasa gak enak. Apalagi kalau kalimat tersebut muncul saat rekan kerja sedang meminta bantuan atau ingin menyampaikan masalah. Mereka bisa berpikir dua kali sebelum kembali bertanya karena takut dianggap mengganggu.
Menurut Abbajay, respons seperti ini bisa membuat seseorang enggan datang lagi ketika sedang menghadapi masalah. Kalau yang mengucapkannya adalah atasan, anggota tim juga bisa jadi lebih takut mengakui kesalahan atau menyampaikan kabar buruk. Padahal, bisa bertanya dan meminta bantuan merupakan bagian penting dari kerja sama dalam tim.
3. “Yang sebenarnya ingin dia katakan adalah ...”

ilustrasi dua wanita berbincang (pexels.com/divinetechygirl) Pernah gak, kamu selesai bicara dalam rapat lalu ada rekan kerja yang langsung menjelaskan ulang maksudmu? Mungkin niatnya membantu, tetapi kalau dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa terasa seperti mengambil alih pembicaraan. Kamu pun bisa merasa seolah-olah cara bicaramu gak cukup jelas untuk dipahami orang lain.
Menurut Abbajay, hal seperti ini bisa membuat seseorang mulai meragukan kemampuan komunikasinya sendiri. Mereka mungkin berpikir dirinya gak pintar menyampaikan ide atau pendapatnya gak cukup dihargai. Kalau memang ada bagian yang belum jelas, akan lebih baik meminta penjelasan daripada langsung mengartikan ulang perkataan rekan kerja.
"Itu sangat merendahkan. Hal tersebut menurunkan posisi orang lain,” ujar Mary Abbajay.
4. “Kamu terlihat masih muda untuk posisi ini.”

ilustrasi sekelompok orang melihat ke laptop (pexels.com/olly) Komentar soal usia atau penampilan kadang dianggap cuma basa-basi, padahal bisa cukup mengganggu. Kalimat seperti “kamu terlihat masih muda untuk posisi ini” bisa membuat seseorang merasa kemampuannya diragukan hanya karena penampilan. Hal serupa juga berlaku untuk komentar tentang rambut, pakaian, atau cara seseorang membawa diri.
Lawrese Brown, pendiri C-Track Training, dikutip dari HuffPost, mengatakan komentar semacam ini bisa membuat karyawan merasa ada yang salah dengan cara mereka menampilkan diri. Ia bahkan menceritakan seorang klien yang disarankan meluruskan rambut agar orang-orang lebih serius kepadanya. Komentar seperti ini tentu bisa bikin seseorang terus mempertanyakan apakah dirinya sudah cukup pantas berada di posisi tersebut.
5. “Saya gak bermaksud seperti itu.”

ilustrasi perempuan sedang bekerja (pexels.com/olia-danilevich) Kalimat “saya gak bermaksud seperti itu” sering muncul ketika ucapan kita ternyata diterima berbeda oleh orang lain. Menjelaskan maksud sebenarnya tentu boleh, tetapi jangan sampai kalimat ini malah membuat perasaan lawan bicara jadi diabaikan. Sebab, niat kita mungkin gak buruk, tetapi dampak perkataan tetap bisa terasa menyakitkan.
Menurut Brown, kita perlu ingat bahwa setiap perkataan punya dampak, terlepas dari niat awalnya. Sebelum melontarkan komentar, coba pikirkan dulu bagaimana orang lain mungkin menerimanya.
6. “Gak ada orang lain yang pernah mempermasalahkan ini.”

ilustrasi kelompok diskusi di kantor (pexels.com/fauxels) Saat seseorang menyampaikan keluhan, membalas dengan “gak ada orang lain yang pernah mempermasalahkan ini” gak otomatis membuat masalahnya hilang. Kalimat tersebut justru bisa membuat orang merasa keluhannya dianggap berlebihan hanya karena rekan kerja lain gak mengalami hal yang sama. Akhirnya, mereka mungkin memilih diam daripada membahas masalah tersebut lebih lanjut.
Menurut Brown, respons seperti ini bisa membuat seseorang merasa bahwa pengalaman atau perasaannya gak layak dianggap serius. Jika terus terjadi, komunikasi dalam tim pun bisa ikut terganggu karena orang-orang memilih menyimpan masalah masing-masing. Padahal, membicarakan masalah sejak awal bisa membantu mencegah kesalahan dan ketegangan yang lebih besar.
“‘Kamu terlalu emosional soal ini, kamu terlalu memasukkan ini ke hati. Orang lain gak pernah mengatakan hal ini.’ Yang tidak kamu sadari ketika mengatakan hal tersebut adalah bahwa kamu sedang meremehkan orang lain,” ujar Lawrese Brown.
7. “Jelas kamu tahu soal ini.”

ilustrasi berkomunikasi dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels) Kata “jelas” bisa terdengar biasa, tetapi konteksnya dapat membuat sebuah kalimat terasa menyudutkan. Misalnya, “jelas kamu tahu kebijakan perusahaan soal ini” bisa membuat seseorang merasa bodoh karena dianggap seharusnya sudah tahu. Padahal, bisa saja memang ada informasi yang belum mereka terima atau pahami.
Menurut psikolog klinis Ryan Howes, dikutip dari HuffPost, kata seperti “jelas” atau “sudah pasti” dapat menyimpan nada permusuhan yang gak terlihat langsung. Ia menyarankan menggunakan kalimat seperti “mungkin kamu belum tahu” agar informasi tetap bisa disampaikan dengan lebih sopan. Perbedaan kecil dalam memilih kata bisa membuat percakapan terasa jauh lebih nyaman.
“Subteksnya adalah, ‘Kenapa kamu tidak tahu? Seharusnya kamu lebih tahu dari itu.’ Kira-kira seperti itulah maksud yang tersirat,” ujar Ryan Howes, seorang sikolog klinis di Pasadena, California, dikutip dari HuffPost.
Kalimat yang terdengar sepele ternyata bisa meninggalkan kesan cukup lama bagi orang yang mendengarnya. Jadi, yuk lebih hati-hati memilih kata agar komunikasi di tempat kerja tetap nyaman dan saling menghargai.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























