Latar Belakang
[MADING] Konsumsi Tidak Terencana dan Pengeluaran Tersembunyi Remaja
![[MADING] Konsumsi Tidak Terencana dan Pengeluaran Tersembunyi Remaja](https://image.idntimes.com/post/20261106/1000975715_0ce4225f-d889-42d3-b504-3374b1862bb2.jpg)
Hai semua! Perkenalkan kami tim KiddoMedia dari SMA Negeri 1 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang. Pada mading ini kami memilih tema "Anak Muda Melek Financial" dengan topik yaitu Phantom Expenses. Sering kali kita tidak menyadari kenapa sih uang kita cepat habis, padahal jika dipikir kembali kita tidak membeli barang yang mahal. Mading ini berisi tentang pengeluaran pengeluaran kecil yang sering tidak disadari oleh banyak orang, misalnya membayar parkir, langganan aplikasi, dan membeli barang murah yang sekiranya tidak diperlukan dan tidak bermanfaat tetapi dibeli karena alasan 'lucu'.
Tim redaksi kami terdiri dari:
GURU PENDAMPING : Wahyu Langgeng Prastiyo S. Pd
KETUA : Khoiri Agustina Sri Utami
ANGGOTA : Adinda Aurel Ramadhani, Anggun Alpinta, Aiesha Zahraa Khirania Hanggono, Chayara Sachi Shaquilla, Fani Silvia, Khoiri Agustia Sri Utami
PENULIS : Khoiri Agustina Sri Utami
DESAIN VISUAL : Fani Silvia
VIDEOGRAFER : Aiesha Zahraa Khirania Hanggono
Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi mading digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.
Esai

IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) Di era digitalisasi seperti sekarang ini, terutama bagi generasi muda, godaan untuk berbelanja tidak lagi hanya datang dari kebutuhan pokok atau barang-barang bernilai besar, melainkan juga dari hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele. Salah satu bentuk pemborosan yang sering tidak kita sadari adalah membayar parkir. Kasus lain seperti membeli barang secara berlebihan atau impulsive buying juga dapat menjadi salah satu contoh. Fenomena ini disebut dengan Phantom Expenses. Phantom Expenses adalah pengeluaran kecil dan tersembunyi yang terjadi secara berulang, tetapi sering kali tidak disadari atau dilupakan begitu saja oleh seseorang sehingga membuat tabungan cepat menipis. Padahal, sekecil apa pun pengeluaran yang jarang kita sadari, tetap dihitung sebagai pengeluaran.
Barang Lucu, tetapi Masalahnya Berguna atau Tidak?
Kebanyakan orang ketika membeli barang pertama kali akan melihat visualnya, apalagi jika sedang ada diskon atau flash sale. Tidak tahu apakah barang tersebut akan berguna atau tidak, tetapi jika visualnya dianggap imut ataupun lucu, seolah memiliki daya tarik tersendiri dan membuat orang tertarik untuk membeli. Sebuah jurnal yang disusun oleh Dini Oktaviani dan Keni Keni (2024) dalam Program Studi Magister Manajemen, Universitas Tarumanagara, menyatakan bahwa pada dasarnya konsumen merasa tertarik dengan flash sale karena harga produk yang lebih murah sehingga menciptakan rasa urgensi pada konsumen. Hal ini terjadi karena flash sale ditawarkan dalam waktu yang cenderung singkat. Selain itu, konsumen dapat beranggapan bahwa mereka tidak akan memperoleh produk yang jumlahnya terbatas sehingga cenderung membeli tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Kebiasaan tersebut sering kali membuat seseorang membeli barang hanya karena tertarik pada tampilannya, bukan karena benar-benar membutuhkannya. Contohnya, membeli gantungan kunci lucu, aksesori, atau barang-barang kecil lainnya yang sebenarnya sudah dimiliki. Awalnya, harga barang tersebut mungkin terlihat murah dan tidak terlalu membebani keuangan. Namun, jika dilakukan berulang kali, jumlah pengeluaran yang terkumpul bisa menjadi cukup besar. Oleh karena itu, sebelum membeli sesuatu, penting untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan sesaat?
Pengeluaran Kecil yang Sering Terlupakan
Selain kebiasaan berbelanja, terdapat pengeluaran sehari-hari yang sering dianggap tidak berarti, salah satunya adalah biaya parkir. Misalnya, seseorang mengeluarkan uang sebesar Rp2.000 setiap kali parkir. Nominal tersebut mungkin terlihat sangat kecil sehingga tidak terlalu dipikirkan. Namun, jika dilakukan setiap hari selama satu minggu, jumlahnya menjadi Rp14.000. Dalam satu bulan, pengeluaran tersebut dapat mencapai sekitar Rp60.000.
Hal yang membuat Phantom Expenses sulit disadari adalah kebiasaannya yang berlangsung secara terus-menerus. Seseorang mungkin merasa tidak banyak mengeluarkan uang dalam satu hari, tetapi ketika seluruh pengeluaran diperiksa, jumlahnya ternyata cukup besar. Inilah alasan mengapa pengeluaran kecil perlu mendapatkan perhatian yang sama dengan pengeluaran besar.
Dampak Phantom Expenses bagi Generasi Muda
Kebiasaan mengabaikan pengeluaran kecil dapat menimbulkan beberapa dampak, terutama bagi pelajar dan generasi muda yang masih memiliki uang saku terbatas. Salah satu dampak yang paling terasa adalah uang saku menjadi lebih cepat habis sebelum waktunya. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah atau kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, kebiasaan tersebut juga dapat membentuk pola konsumtif. Seseorang menjadi terbiasa membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan manfaat dan kegunaannya. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini dapat membuat seseorang kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal, kemampuan mengelola uang sejak usia muda merupakan salah satu keterampilan penting yang akan berguna hingga dewasa.
Dampak lainnya adalah seseorang menjadi kurang memahami ke mana uangnya digunakan. Ketika tidak memiliki catatan pengeluaran, sulit untuk mengetahui kebiasaan apa yang sebenarnya membuat uang cepat habis. Oleh karena itu, kesadaran dalam mengelola keuangan perlu dibangun sejak dini.
Mengatasi Phantom Expenses dengan Pengelolaan Keuangan Sederhana
Untuk mengatasi Phantom Expenses, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri mencatat setiap pengeluaran, termasuk pengeluaran dengan nominal kecil. Pencatatan ini tidak harus menggunakan aplikasi khusus. Cukup dengan memanfaatkan catatan di ponsel atau buku kecil, seseorang sudah dapat mengetahui ke mana uangnya digunakan.
Langkah kedua adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli barang, sebaiknya pikirkan terlebih dahulu manfaatnya dan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan. Jangan mudah tergoda oleh diskon, flash sale, atau tampilan produk yang menarik. Harga murah tidak selalu berarti hemat apabila barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan.
Selanjutnya, kita dapat membagi uang saku ke dalam beberapa kategori sederhana. Misalnya, jika seorang pelajar memiliki uang sebesar Rp50.000 untuk satu minggu, uang tersebut dapat dibagi menjadi kebutuhan sekolah sebesar Rp20.000, jajan sebesar Rp20.000, dan pengeluaran kecil sebesar Rp10.000. Pembagian ini membantu seseorang memiliki batas pengeluaran sehingga uang tidak habis hanya untuk hal-hal yang kurang penting.
Selain itu, penting untuk membiasakan diri berpikir sebelum melakukan transaksi. Berikan jeda sebelum membeli barang yang tidak direncanakan. Jika setelah dipertimbangkan barang tersebut ternyata tidak terlalu diperlukan, sebaiknya urungkan niat untuk membelinya. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi pembelian impulsif.
Kesimpulan
Phantom Expenses merupakan fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah kemudahan berbelanja pada era digital. Pengeluaran kecil seperti biaya parkir, jajanan tambahan, ongkos kirim, hingga pembelian barang lucu yang sebenarnya tidak diperlukan sering kali dianggap sepele. Namun, jika dilakukan secara terus-menerus, pengeluaran tersebut dapat menguras uang tanpa disadari.
Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan dengan bijak. Mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membagi uang berdasarkan kategori merupakan langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, menghemat uang bukan berarti tidak boleh membeli sesuatu yang disukai, melainkan mampu mengendalikan diri dan memahami prioritas. Sebab, bukan hanya pengeluaran besar yang perlu diperhatikan, tetapi juga pengeluaran kecil yang diam-diam dapat menghabiskan uang kita.
Ruang Kreasi - Komik Pendek

IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) 
IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) Ruang Kreasi - Cerpen

IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) 
IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) 
IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) Ruang Kreasi - Puisi

IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) Rubrik Diskusi 1 — Infografik

IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) Rubrik Diskusi 2 — Poster

IDN Times Xplore (Tim KiddoMedia_SMAN 1 Kota Mungkid) Tanpa kita sadari, akumulasi pengeluaran kecil yang sering diabaikan justru menjadi celah utama yang menguras kondisi finansial generasi muda secara perlahan. Jika dibiarkan berlanjut, kebiasaan ini berisiko membentuk pola hidup konsumtif yang menyulitkan kita dalam membedakan antara kebutuhan esensial dan keinginan sesaat. Oleh karena itu, mari mulai cermat mengelola keuangan sejak dini sebagai langkah nyata demi membangun kemandirian dan kestabilan masa depan.





![[MADING] Memutuskan Rantai Perundungan, Merajut Kembali Kemanusiaan](https://image.idntimes.com/post/20261106/whatsapp-image-2026-11-06-at-14_8e5dbe86-e85f-4586-ba7a-fc88bd4dc44b.jpeg)

![[MADING] FOKUS: FOMO, Kultur, dan Identitas - Masih Jadi Dirimu?](https://image.idntimes.com/post/20261107/cover-mading_e7ab5f4e-f8d3-426a-9a37-bfffda5b5b50.jpeg)
![[MADING] GERAK SOLID - Gerakan Remaja Empatik dan Solidaritas](https://image.idntimes.com/post/20261104/1000405256_02fb74df-d978-4f66-89e5-d206e5379b70.jpg)












![[MADING] Suara Eksistensi Tangan Kiri, Antara Refleksi dan Aksi](https://image.idntimes.com/post/20261106/suara-eksistensi-tangan-kiri-antara-reaksi-dan-aksi_20261106_165026_0000_c782a942-f650-43e6-a11c-422c767497c5.png)
![[MADING] Uangmu, Masa Depanmu: Bekal Anak Muda untuk Masa Depan](https://image.idntimes.com/post/20261106/cover-mading_c56ca11c-8eed-46a2-a32c-9d1ebe2e5136.png)
![[MADING] D.O.M.P.E.T: Dana Optimal Pengelolaan Terpadu](https://image.idntimes.com/post/20261106/dompet_db0078cc-e86f-4aff-a71f-d03f6f093125.png)