Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Korban Bullying Memilih Bertahan di Lingkungan Kerja Toksik?
ilustrasi korban bullying (pexels.com/Puwadon Sang-ngern)
  • Korban bullying bertahan di lingkungan kerja toksik karena membutuhkan penghasilan dan takut sulit mendapatkan pekerjaan baru.

  • Korban bisa menganggap perundungan sebagai hal normal atau berharap keadaan akan berubah.

  • Kenyamanan dalam pekerjaan dan dukungan rekan kerja membuat korban sulit memutuskan untuk resign.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perundungan (bullying) di tempat kerja tidak selalu terlihat dalam bentuk pertengkaran atau perkataan kasar yang terang-terangan. Kadang, perilaku yang muncul justru muncul secara halus. Ada yang terus-menerus meremehkan pekerjaan orang lain, mengucilkan seseorang dari lingkungan sosial, memberikan komentar yang menjatuhkan, atau sengaja membuat rekan kerja merasa tidak nyaman.

Yang menarik, korban bullying tidak selalu langsung meninggalkan lingkungan tersebut. Ada orang yang tetap bertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, meski setiap hari harus menghadapi situasi yang membuatnya tertekan. Lantas, mengapa seseorang bisa bertahan di lingkungan kerja yang sebenarnya tidak nyaman?

1. Membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau)

Alasan paling kuat adalah kebutuhan finansial. Tidak semua orang punya pilihan untuk langsung mengundurkan diri ketika menghadapi bullying di tempat kerja. Gaji mungkin dibutuhkan untuk membayar kebutuhan sehari-hari, cicilan, biaya rumah tangga, atau membantu keluarga. Mencari pekerjaan baru juga membutuhkan waktu, sementara seseorang tetap perlu memiliki pemasukan selama proses tersebut.

Karena itu, keputusan untuk bertahan tidak selalu berarti korban menganggap perlakuan tersebut wajar. Bisa saja ia merasa belum punya pilihan lain selain tetap bekerja di sana. Dalam kondisi tertentu, mempertahankan pekerjaan bahkan terasa lebih aman daripada kehilangan sumber penghasilan.

2. Takut sulit mendapatkan pekerjaan baru

ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Korban bullying juga bisa merasa ragu untuk meninggalkan pekerjaannya karena belum tentu mendapatkan tempat kerja yang lebih baik. Apalag, kadang lapangan kerja yang ada memang sedikit atau bidang pekerjaan yang ditekuni memiliki persaingan tinggi. Pikiran seperti, "Bagaimana kalau di tempat baru malah makin buruk?" dapat membuat seseorang memilih bertahan. Pengalaman buruk yang dialami di kantor sekarang juga bisa membuat kepercayaan diri menurun sehingga merasa kemampuan yang dimiliki belum cukup untuk mencari peluang lain.

3. Menganggap perilaku tersebut merupakan bagian dari pekerjaan

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Khwanchai Phanthong)

Bullying di tempat kerja juga bisa menjadi sulit dikenali ketika sudah dianggap sebagai sesuatu yang normal. Sebagai contoh, atasan yang sering memarahi bawahan di depan umum dianggap hanya sedang "tegas". Candaan yang terus menyasar satu orang juga bisa dianggap sebagai hal biasa dalam pertemanan kantor.

Lama-kelamaan, korban mungkin mulai berpikir bahwa dirinya terlalu sensitif atau tidak bisa menerima kritik. Padahal, kritik dan bullying merupakan dua hal yang berbeda. Kritik seharusnya berfokus pada pekerjaan atau perilaku tertentu dan diberikan dengan cara yang pantas. Sementara itu, bullying cenderung melibatkan perilaku merendahkan, mengintimidasi, mengucilkan, atau menyakiti seseorang secara berulang.

4. Masih berharap keadaan akan berubah

ilustrasi lingkungan kerja yang tidak sehat (pexels.com/Yan Krukau)

Tidak semua hubungan di tempat kerja yang buruk berlangsung setiap hari dengan intensitas yang sama. Ada kalanya, pelaku bersikap baik, lalu kembali melakukan tindakan yang menyakitkan. Situasi yang naik turun seperti ini dapat membuat korban berpikir bahwa keadaan sebenarnya masih bisa diperbaiki. Ia mungkin berharap pelaku akan berubah, suasana kantor akan membaik, atau konflik yang terjadi hanya sementara. 

5. Sudah telanjur nyaman dengan hal lain di kantor

ilustrasi makan siang dengan teman sekantor (pexels.com/fauxels)

Lingkungan kerja tidak selalu buruk dalam segala hal. Seseorang mungkin memiliki pekerjaan yang disukai, gaji yang cukup, lokasi kantor yang dekat dengan rumah, atau rekan kerja yang sebenarnya mendukung. Sementara, masalah bullying hanya datang dari satu orang atau kelompok tertentu.

Kondisi seperti ini membuat keputusan untuk resign menjadi lebih rumit. Korban tidak hanya meninggalkan pelaku bullying, tetapi juga harus meninggalkan hal-hal positif yang selama ini membuatnya betah bekerja di sana. Jadi, korban memilih untuk tetap menghadapi pelaku bullying daripada harus meninggalkan banyak hal nyaman di kantor.

Bertahan untuk sementara bukan berarti seseorang gagal melindungi dirinya sendiri. Bisa jadi, ia sedang berusaha mencari jalan keluar yang paling aman dan realistis dari situasi yang sedang dihadapinya. Jika mengalami bullying di tempat kerja, korban bisa mulai mendokumentasikan kejadian yang dialami, mencari dukungan dari orang yang dipercaya, dan mempelajari kebijakan perusahaan terkait perilaku tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article