Ketika mendengar kata bullying, banyak orang mungkin langsung membayangkan seseorang yang membentak, menghina, atau melontarkan kata-kata kasar kepada orang lain. Gambaran tersebut memang tidak salah, tetapi perundungan sebenarnya tidak selalu hadir dalam bentuk yang begitu jelas. Ada kalanya bullying justru muncul melalui perilaku yang terlihat sepele, seperti sengaja mengabaikan, mengucilkan, atau terus-menerus meremehkan seseorang. Karena bentuknya lebih halus, perilaku tersebut sering dianggap hanya sebagai candaan atau masalah hubungan biasa.
Kenapa Bullying Gak Selalu Berupa Bentakan atau Kata Kasar?

- Bullying dapat hadir secara halus melalui pengabaian, pengucilan, peremehan, atau penahanan informasi penting yang dilakukan berulang hingga korban merasa tertekan dan tidak berdaya.
- Pelaku tidak selalu tampak agresif; candaan yang terus menyasar orang yang sama serta respons yang meremehkan perasaan korban dapat membuat korban meragukan dirinya sendiri.
- Perundungan juga terjadi di dunia digital, termasuk penyebaran rumor, mempermalukan lewat konten, komentar menyerang, dan membagikan informasi pribadi tanpa izin.
Take a Deeper Reads

Padahal, perlakuan yang dilakukan berulang kali dapat membuat korban merasa tidak nyaman, tertekan, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Di sekolah maupun di tempat kerja, bullying juga bisa terjadi tanpa adanya satu pun bentakan atau kata kasar. Seseorang bisa saja menjadi sasaran gosip, tidak dilibatkan dalam kelompok, atau dibuat merasa bahwa pendapatnya tidak pernah cukup baik. Lantas, mengapa bullying gak selalu berupa bentakan atau kata kasar maupun tindakan agresif yang terlihat jelas?
1. Bullying bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus

ilustrasi bentuk bullying halus (pexels.com/Antoni Shkraba Studio) Perundungan pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan kata-kata yang menyakitkan. Perilaku yang terus dilakukan untuk merendahkan, mengintimidasi, mengucilkan, atau membuat seseorang merasa tidak berdaya juga bisa menjadi bentuk bullying. Contohnya, seseorang sengaja tidak diajak dalam percakapan atau kegiatan kelompok. Sekilas, tindakan tersebut mungkin terlihat seperti persoalan pertemanan biasa. Namun, jika dilakukan berulang kali, ini bisa membuat seseorang merasa tersisih dan tidak nyaman.
Di tempat kerja, bentuk bullying juga dapat muncul secara lebih tersamar dan sulit dikenali. Misalnya, rekan kerja sengaja tidak memberikan informasi penting yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan atau terus-menerus mengabaikan seseorang dalam diskusi. Komentar yang merendahkan secara terselubung juga dapat menjadi bentuk perundungan jika dilakukan berulang kali.
2. Tidak semua pelaku bullying tampak agresif

ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Helena Lopes) Anggapan bahwa pelaku bullying pasti memiliki sifat kasar juga bisa membuat perilaku perundungan sulit dikenali. Kenyataannya, seseorang yang melakukan bullying bisa saja terlihat ramah, populer, bahkan disukai banyak orang. Ada pelaku yang menggunakan candaan sebagai cara untuk merendahkan orang lain. Ketika korban merasa tersinggung, pelaku kemudian mengatakan bahwa itu hanya bercanda. Pola seperti ini dapat membuat korban ragu terhadap perasaannya sendiri, apalagi jika orang-orang di sekitarnya ikut menganggapnya sebagai lelucon biasa.
Masalahnya, sebuah candaan tidak otomatis menjadi tidak berbahaya hanya karena pelakunya menganggapnya lucu. Dampak candaan tersebut terhadap orang yang menjadi sasaran juga tetap perlu diperhatikan. Terlebih jika candaan terus diarahkan kepada orang yang sama hingga membuatnya merasa tidak nyaman.
3. Pengucilan juga bisa menjadi bentuk bullying

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau) Bullying tidak harus dilakukan dengan menyerang seseorang secara langsung. Justru, mengabaikan atau mengucilkan seseorang secara sengaja dapat menjadi bentuk perundungan yang cukup menyakitkan. Seseorang mungkin tidak pernah dimaki, tetapi terus-menerus tidak diajak makan bersama, tidak dilibatkan dalam percakapan, atau sengaja ditinggalkan ketika kelompok melakukan suatu kegiatan. Jika pola tersebut dilakukan secara berulang dan membuat korban merasa tidak diterima, dampaknya tetap bisa serius.
Pengucilan juga bisa membuat korban kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada satu kalimat kasar pun atau kejadian besar yang bisa ditunjukkan sebagai bukti. Yang dirasakan justru kumpulan perlakuan kecil yang terjadi berkali-kali.
4. Manipulasi dan meremehkan perasaan korban

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Khwanchai Phanthong) Bentuk bullying lainnya bisa muncul ketika seseorang terus meremehkan perasaan atau pengalaman orang lain. Misalnya, korban menyampaikan bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan suatu perlakuan, tetapi justru dijawab dengan kalimat seperti “kamu terlalu sensitif” atau “di sini gak boleh baper.” Jika terjadi sesekali, komentar demikian belum tentu dapat disebut bullying. Namun, ketika respons semacam itu terus digunakan untuk membungkam korban dan mengabaikan perlakuan yang sebenarnya bermasalah, situasinya patut diperhatikan.
Korban akhirnya bisa mulai mempertanyakan dirinya sendiri dan menganggap dirinya terlalu sensitif. Padahal, rasa tidak nyaman tersebut bisa muncul karena ada perilaku yang terus dilakukan secara berulang. Kondisi ini membuat korban semakin sulit membedakan antara perasaannya sendiri dan perlakuan yang memang tidak wajar.
5. Bullying bisa terjadi di balik layar

ilustrasi seseorang mendapatkan cyberbullying (pexels.com/mikoto.raw Photographer) Perkembangan media sosial juga membuat bentuk bullying semakin beragam. Seseorang tidak perlu berhadapan langsung dengan korbannya untuk melakukan perundungan. Menyebarkan rumor di grup chat, sengaja mempermalukan seseorang melalui konten, memberikan komentar yang terus menyerang, atau menyebarkan informasi pribadi tanpa izin dapat menjadi bagian dari cyberbullying. Karena dilakukan melalui layar, pelaku mungkin merasa tindakannya tidak terlalu serius.
Memahami bahwa bullying gak selalu berupa bentakan atau kata kasar amatlah penting. Tujuannya agar tindakan tersebut tidak dianggap sepele. Perundungan bisa hadir lewat kata-kata, tindakan, pengucilan, candaan, maupun perilaku di dunia digital. Semakin beragam bentuknya, semakin penting pula bagi kita untuk tidak hanya melihat bullying dari seberapa keras seseorang berteriak, tetapi juga dari bagaimana perlakuan tersebut memengaruhi perasaan orang lain.























