“Sekarang, setelah bekerja beberapa jam atau bahkan kurang, saya memilih meninggalkan meja kerja sejenak. Bergerak sedikit, entah untuk mengambil kopi, menyiram tanaman, atau berjalan ke luar selama lima menit, ternyata membuat saya lebih fokus dan bisa berpikir lebih jernih. Dengan mengambil jeda singkat, konsentrasi dan produktivitas saya justru meningkat,” demikian ujar Susan, dikutip dari Psychology Today.
Kerja Cepat Belum Tentu Produktif, Ini Bedanya!

- Produktivitas bukan diukur dari banyaknya tugas yang selesai, melainkan dari pekerjaan yang benar-benar mendekatkan seseorang pada tujuan utama.
- Mengerjakan tugas kecil yang nyaman bisa menciptakan kesan sibuk, tetapi tugas besar dan berdampak perlu diprioritaskan lebih dulu.
- Jeda singkat setelah bekerja dapat membantu memulihkan fokus dan kejernihan berpikir, sehingga pekerjaan bisa dilakukan lebih efektif.
Pernah merasa sudah sibuk dari pagi, tetapi menjelang sore pekerjaan penting masih belum kelar? Tab di laptop sudah dibuka banyak, chat sudah dibalas satu-satu, email juga gak ada yang kelewat. Belum lagi ada file yang dirapikan, meeting yang diikuti, dan beberapa tugas kecil yang berhasil dibereskan.
Kalau dilihat dari banyaknya aktivitas, rasanya hari itu produktif banget. Tapi begitu melihat pekerjaan utama, ternyata baru dikerjakan sedikit. Hal seperti ini sebenarnya wajar terjadi ketika kita terlalu fokus membuat semuanya cepat selesai.
Kerja cepat memang ada gunanya, terutama ketika sedang dikejar deadline. Namun, cepat bukan satu-satunya ukuran produktivitas. Ada kalanya kita menyelesaikan banyak hal hanya supaya merasa gak membuang waktu, padahal yang benar-benar penting justru tertunda.
1. Yang penting bukan berapa banyak tugas yang dicentang

Ilustrasi produktif (pexels.com/Malte Luk) Ada kepuasan tersendiri ketika melihat daftar tugas mulai penuh coretan. Satu per satu selesai, rasanya seperti sudah memenangkan hari. Masalahnya, kita sering lupa kalau setiap tugas punya bobot yang berbeda. Membalas tiga email tentu gak bisa disamakan dengan menyelesaikan laporan yang menentukan apakah pekerjaan bisa lanjut ke tahap berikutnya.
Mark Travers, Ph.D., seorang psikolog, dalam Psychology Today, menuliskan bahwa sibuk dan produktif bukan hal yang sama. Kesibukan adalah ketika hari kita dipenuhi berbagai tugas. Produktivitas adalah kondisi ketika kita melakukan sesuatu yang membantu kita semakin dekat dengan tujuan. Sehingga, seseorang bisa saja menghabiskan waktu seharian dengan berbagai aktivitas namun belum mendekati hal yang ingin dicapai.
Gak perlu terlalu cepat puas dengan panjangnya daftar tugas yang berhasil dicoret. Coba lihat lagi apa yang sebenarnya sudah selesai. Kalau pekerjaan yang paling penting justru masih ditunda, mungkin masalahnya bukan kamu kurang cepat, tetapi terlalu banyak waktu habis untuk hal yang kurang mendesak.
2. Gak semua pekerjaan harus langsung dikerjakan

ilustrasi bekerja keras dan produktif (unsplash.com/jeshoots) Pernah punya tugas besar yang sebenarnya sudah tahu harus dikerjakan, tetapi malah memilih membereskan hal-hal kecil dulu? Rasanya lebih ringan memang. Tugas lima menit bisa langsung selesai, sedangkan pekerjaan besar terasa seperti bakal menghabiskan setengah hari. Tanpa sadar, kita jadi terus mencari pekerjaan kecil lain sampai waktu untuk tugas utama ikut habis.
Seorang psikolog, Alice Boyes, Ph.D., dalam Psychology Today menuliskan, sebagian orang merespons kecemasan dengan bekerja keras mengerjakan hal-hal yang terasa nyaman, tetapi mengabaikan tugas yang lebih penting dan terasa gak nyaman. Menurutnya, kebiasaan ini bisa membuat kita merasa produktif karena terus melakukan sesuatu, padahal yang dikerjakan sebenarnya hanya busy work dan gak banyak merubah keadaan.
Daripada mengejar semua pekerjaan sekaligus, kamu bisa pilih dulu mana yang memang paling berpengaruh. Setelah bagian itu selesai atau setidaknya sudah berjalan, barulah pindah ke pekerjaan lain. Dengan cara ini, kamu mungkin gak terlihat sesibuk orang yang mengerjakan semuanya sekaligus, tetapi hasilnya justru bisa lebih terasa.
3. Berhenti sebentar juga bagian dari bekerja

ilustrasi break (freepik.com/freepik) Kebiasaan bekerja tanpa berhenti kadang terasa seperti bukti kalau kita sedang serius, apalagi kalau melihat orang lain masih mengetik ketika kita sudah mulai lelah. Akhirnya, istirahat lima atau sepuluh menit saja bisa terasa seperti membuang waktu.
Padahal, duduk lebih lama di depan laptop gak selalu berarti pekerjaan kita jadi lebih banyak. Seorang psikolog, Susan Newman, Ph.D., mengaku pernah terjebak dalam kebiasaan berusaha menjadi produktif dengan cara yang malah tidak produktif.
Gak masalah kalau pekerjaanmu gak selesai secepat orang lain. Selama kamu tahu mana yang penting, mengerjakannya dengan baik, dan gak memaksakan diri terus-terusan, itu juga sudah termasuk produktif. Jadi sebelum buru-buru menyelesaikan semuanya, coba lihat lagi apa yang memang perlu dikerjakan dulu.
























