Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kerja Lembur Tak Selalu Efektif, Ini 6 Alasan Tugas Bisa Ditunda
ilustrasi lembur (pexels.com/cottonbro studio)
  • Artikel menyoroti bahwa kerja lembur terus-menerus tidak selalu efektif, karena beberapa tugas sebaiknya ditunda demi hasil yang lebih tepat dan kondisi tubuh yang tetap sehat.
  • Dijelaskan enam alasan penundaan tugas, seperti instruksi belum jelas, perlunya koordinasi, kondisi tubuh lelah, waktu tidak ideal, prioritas lain lebih penting, dan adanya bantuan tim esok hari.
  • Pesan utama artikel menekankan pentingnya mengenali batas diri serta mengatur prioritas agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan maupun keseimbangan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu tipe orang yang ingin segala sesuatunya beres dengan cepat. Dirimu sangat rajin dan akan mudah cemas kalau suatu pekerjaan belum selesai. Orang-orang paling menghindari lembur.

Akan tetapi, kamu justru lebih baik pulang telat dan kurang tidur daripada masih ada pekerjaan tersisa di akhir hari. Awalnya memang semua berjalan baik. Sehabis lembur, dirimu dapat beristirahat dengan tenang sekalipun waktunya lebih singkat.

Namun, lambat laun tugas terasa makin banyak saja. Kamu menambah waktu lembur tiap hari pun pekerjaan gak bisa sepenuhnya selesai. Tidak mungkin untukmu bekerja 24 jam nonstop. Dirimu butuh latihan menunda pengerjaan beberapa tugas. Situasi begini menandakan suatu pekerjaan tidak perlu dtangani sekarang juga.

1. Instruksinya belum jelas

ilustrasi berpikir (pexels.com/Thirdman)

Kamu menerima pekerjaan dari atasan atau klien. Instruksi yang jelas sangat diperlukan agar apa yang dikerjakan olehmu tepat sesuai harapan. Bila ada bagian perintah atau keinginan yang masih kabur, sebaiknya tugas itu gak dieksekusi buru-buru.

Ada peluang kesalahan yang lebih besar dalam pengerjaanmu nanti. Kamu perlu meminta kejelasan dulu pada pemberi tugas. Meski memperbaiki hasil kerja yang kurang pas merupakan bagian dari tanggung jawabmu, jika bisa dihindari akan lebih baik.

Bersabarlah menunggu tanggapan dari pemberi tugas. Selama tanggapan belum ada, jangan merasa bersalah karena dirimu gak bergegas mengerjakannya. Toh, kamu dapat menggunakan waktu buat menggarap tugas lain yang perintahnya sudah clear.

2. Masih butuh berkoordinasi dengan berbagai pihak

ilustrasi koordinasi online (pexels.com/Yan Krukau)

Suatu tugas tidak sepenuhnya dapat dikerjakan sendiri olehmu. Kamu perlu berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Walaupun nantinya dirimu yang mengeksekusi pekerjaan tersebut, hindari mulai menggarapnya sebelum koordinasi dilakukan.

Alasan pertama, mereka dapat merasa tidak dilibatkan sama sekali. Kedua, kamu menjadi lebih rentan melakukan kesalahan. Ketiga, bila dirimu salah, orang-orang bersikap tak mau tahu sebab mereka tidak diajak berkoordinasi sebelumnya.

Jika pun koordinasi sudah sempat dilakukan secara online, jangan langsung dieksekusi apabila masih ada hal-hal yang belum terang. Mungkin kalian perlu bertemu langsung untuk menghindari kesalahpahaman. Koordinasi tidak bisa setengah-setengah kalau kamu tak mau nanti muncul masalah.

3. Kondisimu sudah terlalu lelah

ilustrasi berpikir (pexels.com/Yan Krukau)

Bukan hanya sisi tugasnya yang perlu diperhatikan sebelum kamu memutuskan akan mengerjakannya sekarang atau besok. Kondisimu juga mesti dipikirkan. Sebagai orang yang punya peran utama dalam membereskan tugas, kondisimu mesti fit.

Sedikit capek atau kurang enak badan barangkali memang bukan masalah. Kamu masih dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Jika rasa lelahmu luar biasa, dirimu mengerjakan tugas itu besok pun tak apa.

Hentikan kebiasaan bekerja sampai mengabaikan kesehatan sendiri. Berhenti ketika kamu lelah bukan sikap manja. Itu artinya dirimu memahami dengan baik kebutuhan diri dan menyikapinya secara tepat.

4. Waktunya tanggung, sedang besok lebih longgar

ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kamu berprinsip waktu 5 menit pun sangat penting dan tidak boleh disia-siakan. Benar, waktu memang amat berharga. Waktu yang sudah berlalu tak dapat dikembalikan. Namun, waktu yang terlalu singkat tak cocok untuk mengerjakan tugas yang butuh waktu lama.

Konsentrasi yang diperlukan pun tinggi karena tingkat kesulitannya. Waktu yang amat terbatas malah membuatmu sulit berkonsentrasi. Apalagi setelah ini dirimu mesti melakukan hal lain yang penting dan gak boleh terlambat.

Misal, kamu harus segera berangkat ke bandara. Sementara besok waktumu lebih longgar. Dirimu dapat memakai beberapa jam sekaligus untuk mengerjakan tugas itu. Bila begini, pengerjaannya sekalian besok saja.

5. Ada tugas lain yang lebih perlu diprioritaskan

ilustrasi berpikir (pexels.com/Sora Shimazaki)

Kalau menuruti keinginan barangkali kamu mau menyelesaikan semua tugas secepatnya. Baik pekerjaan prioritas maupun non-prioritas. Jika seluruhnya beres, dirimu tidak lagi punya beban. Masalahnya, apakah waktunya memungkinkan?

Jika waktu minim, kamu mesti mendahulukan tugas prioritas. Pekerjaan selain itu juga bakal tetap dikerjakan. Hanya saja gak sekarang. Pokoknya kapan pun tugas utama telah selesai.

Apabila kamu tidak lagi bekerja memakai skala prioritas malah segalanya dapat berantakan. Di tengah pengerjaan tugas yang kurang mendesak, dirimu teringat tugas prioritas. Kamu mencoba pindah tugas dulu, tetapi tidak pula dapat mengejar tenggat.

6. Kamu capek sendirian jika menggarapnya sekarang, besok ada teman yang bantu

ilustrasi berpikir (pexels.com/MART PRODUCTION)

Berarti tugas tersebut sebetulnya tugas kelompok. Meski kamu bisa saja mengerjakannya sendirian, tapi pasti terlalu melelahkan. Pun gak bagus buat teman-temanmu. Sebagian dari mereka mungkin senang-senang saja menjadi tak perlu capek.

Namun, sebagian lagi menganggapmu tidak menghargai kemampuan mereka. Dari sisimu sendiri pun bakal terlalu lelah mengerjakannya seorang diri. Sudah paling benar kamu menunda pengerjaannya hingga besok.

Orang yang bekerja mesti menggunakan energinya secara tepat. Kamu tak usah berlelah-lelah seorang diri bila seharusnya kelelahan itu dibagi dengan orang lain. Bekerja sesuai porsi menghindarkanmu dari rasa jenuh dan pemikiran seakan-akan teman-teman gak peduli. Padahal, kamu yang memborong tugas bersama.

Punya sifat rajin baik. Akan tetapi, kamu pun pada akhirnya akan mengerti bahwa mustahil menyelesaikan seluruh pekerjaan hari ini. Berusaha terlalu keras selalu melakukannya justru bikin dirimu stres dan kelelahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article