Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kesalahan saat Magang yang Sebaiknya Dihindari, Jaga Citra Baikmu!
Ilustrasi magang (freepik.com/tirachardz)

Program magang merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa maupun lulusan baru untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Melalui magang, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman praktis, tetapi juga belajar tentang budaya kerja, komunikasi profesional, hingga membangun jaringan yang dapat bermanfaat bagi karier di masa depan.

Oleh karena itu, menjalani magang dengan sikap yang tepat sangat penting agar pengalaman tersebut memberikan manfaat maksimal. Sayangnya, masih banyak peserta magang yang melakukan kesalahan tanpa disadari, seperti kurang proaktif, tidak mampu mengelola waktu, atau mengabaikan etika kerja.

1. Bersikap pasif dan menunggu perintah

ilustrasi magang (pexels.com/Mikhail Nilov)

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan peserta magang adalah hanya menunggu instruksi dari atasan tanpa berinisiatif mencari pekerjaan yang dapat membantu tim. Padahal, perusahaan umumnya mengharapkan peserta magang memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk belajar, bukan sekadar menyelesaikan tugas yang diberikan.

Jika pekerjaan utama telah selesai, cobalah menawarkan bantuan kepada rekan kerja, meminta umpan balik, atau mempelajari proses kerja di divisi lain yang masih berkaitan. Sikap proaktif dan adaptif menunjukkan bahwa kamu memiliki motivasi tinggi untuk berkembang dan mampu bekerja secara mandiri.

"Kualitas magang dan kepribadian proaktif, keduanya berhubungan positif dengan adaptabilitas karier selanjutnya," dikutip dari studi berjudul "The interplay of proactive personality and internship quality in Chinese university graduates' job search success: The role of career adaptability" dalam laman ResearchGate.

2. Tidak berani bertanya ketika mengalami kesulitan

ilustrasi magang (pexels.com/Vitaly Gariev)

Sebagian peserta magang merasa khawatir dianggap tidak kompeten jika terlalu banyak bertanya. Akibatnya, mereka memilih menebak-nebak cara mengerjakan tugas hingga hasilnya kurang sesuai dengan harapan. Padahal, bertanya pada waktu yang tepat justru menunjukkan bahwa kamu ingin memahami pekerjaan dengan benar.

Sebelum bertanya, usahakan mencari informasi terlebih dahulu melalui dokumen, panduan, atau rekan kerja. Jika masih belum memahami, sampaikan pertanyaan secara jelas dan spesifik agar mentor dapat memberikan arahan yang tepat.

3. Kurang disiplin terhadap waktu dan tanggung jawab

ilustrasi magang (pexels.com/Antoni Shkraba)

Datang terlambat, sering melewati tenggat waktu, atau tidak memberi kabar ketika berhalangan hadir merupakan kebiasaan yang dapat memberikan kesan buruk kepada perusahaan. Walaupun masih berstatus peserta magang, profesionalisme tetap menjadi aspek yang dinilai oleh mentor maupun atasan.

Membiasakan diri mengatur jadwal, membuat daftar pekerjaan, dan mengomunikasikan kendala sejak awal merupakan langkah sederhana untuk menunjukkan tanggung jawab. Sikap disiplin juga mencerminkan bahwa kamu dapat dipercaya dalam menjalankan tugas.

 

4. Mengabaikan etika kerja dan komunikasi profesional

Ilustrasi magang kerja (freepik.com/pressfoto)

Etika kerja mencakup banyak hal, mulai dari cara berpakaian, penggunaan bahasa yang sopan, menghargai rekan kerja, hingga menjaga kerahasiaan data perusahaan. Kesalahan kecil seperti mengirim pesan yang tidak profesional atau membicarakan informasi internal perusahaan di media sosial dapat berdampak serius terhadap reputasi peserta magang.

Komunikasi profesional juga berarti mampu menerima kritik dan masukan dengan sikap terbuka. Jadikan setiap umpan balik sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan sebagai bentuk penilaian pribadi yang negatif.

"Profesionalisme menumbuhkan rasa hormat, kepercayaan, dan kolaborasi, memastikan bahwa semua anggota tim bekerja secara harmonis menuju tujuan bersama," kata Dr. Nekeshia Hammond, psikolog san pelatih eksekutif yang berspesialisasi dalam membimbing para eksekutif perusahaan dan pemimpin bisnis dikutip dari Dr Nekeshia Hammond.

"Komunikasi adalah landasan dari setiap organisasi yang berfungsi. Ketika komunikasi terganggu, hal itu dapat menyebabkan kebingungan, kesalahan, dan kegagalan kolaborasi tim," tambahnya.

5. Tidak memanfaatkan kesempatan untuk belajar dan membangun relasi

Ilustrasi magang (freepik.com/tirachardz)

Sebagian peserta magang hanya fokus menyelesaikan tugas harian tanpa mencoba memahami proses bisnis perusahaan secara menyeluruh. Padahal, magang merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para profesional yang telah berpengalaman di bidangnya.

Selain menambah wawasan, bangunlah hubungan yang baik dengan mentor, rekan kerja, maupun peserta magang lainnya. Relasi yang terjalin selama magang dapat menjadi sumber informasi karier, rekomendasi kerja, hingga peluang kolaborasi di masa depan.

Magang bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga menjadi langkah awal untuk membangun reputasi profesional. Kebiasaan positif yang dibangun selama magang akan menjadi bekal penting ketika memasuki dunia kerja setelah lulus.

Curated For You

Editorial Team

Related Article