Kenapa Ada Orang yang Melepas Pekerjaan Bergaji Tinggi?

- Banyak orang memilih meninggalkan pekerjaan bergaji tinggi karena tekanan kerja berlebihan, kompetisi ketat, dan dampak negatif terhadap kesehatan mental maupun fisik.
- Pertentangan dengan nilai pribadi, keinginan ganti bidang kerja, atau kebutuhan mendekatkan diri pada keluarga sering jadi alasan kuat untuk mundur meski gaji besar.
- Faktor lain seperti fokus pada usaha sendiri, permintaan pasangan, hingga masalah kesehatan serius membuat seseorang rela melepas kenyamanan finansial demi keseimbangan hidup.
Besaran gaji sering kali dianggap sebagai pengikat kuat seseorang pada pekerjaannya. Rasanya mustahil untuk seseorang mengundurkan diri dan memilih pekerjaan lain yang penghasilannya lebih kecil. Namun, itulah kenyataan yang kadang terjadi.
Ada orang yang seperti tak merasa sayang untuk melepaskan pekerjaan yang selama ini sudah memberinya keamanan finansial. Statusnya di lingkungan sosial pun ikut terdongkrak. Apakah keputusan ini impulsif atau ia telah memikirkannya masak-masak?
Mengingat kenyamanan hidup yang sudah dirasakan, pasti terdapat pertimbangan matang di balik keputusan tersebut. Dia gak begitu saja mengikuti dorongan hati untuk berhenti bekerja di suatu tempat. Sering kali pilihan melepas pekerjaan bergaji tinggi diambil karena tujuh keadaan di bawah ini.
1. Gak kuat sama tekanan dan kompetisi

Gaji gede biasanya juga seimbang dengan beban pekerjaannya. Malah kadang pendapatan kecil, tapi tekanannya lebih besar. Namun, gak ada tugas enteng dengan penghasilan selangit. Akan tetapi, tingginya gaji tidak serta-merta membuat orang kuat menanggung tekanan pekerjaan.
Juga kompetisi yang begitu sengit. Rasanya terlalu melelahkan. Kalau sudah kena mental, fisik pun pasti terdampak. Keseimbangan hidup tinggal angan-angan. Orang memilih melepasnya daripada keadaan dirinya makin memburuk.
2. Ada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut

Orang tidak selalu bisa membungkam suara nurani meski mendapatkan banyak uang. Di awal mungkin terasa cukup mudah. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, dapat menjadi kian berat. Seperti permintaan atasan makin aneh-aneh.
Contohnya, memanipulasi berbagai laporan untuk mendapatkan kucuran dana lebih besar dari pemberi proyek. Saat benturan antara kepentingan atasan dengan nilai-nilai hidup yang dipegang sudah begitu keras, dia bisa memilih melepas pekerjaan tersebut. Gaji yang tinggi sulit dinikmati karena batin begitu tersiksa.
3. Ingin ganti bidang kerja

Orang yang melepas pekerjaan bergaji besar pasti punya alasan. Akan tetapi, alasan itu juga belum final. Masih ada alasan lain di baliknya. Contohnya, keputusannya meninggalkan pekerjaan itu karena ia ingin mengganti bidang kerja.
Keinginan akan pergantian bidang kerja dilatarbelakangi oleh berbagai hal. Bisa karena bosan, ingin bekerja menyesuaikan dengan pendidikan terakhirnya, dan sebagainya. Walaupun gaji di bidang kerja sekarang sudah gede, bidang kerja lain terlihat lebih menarik untuk dicoba dan diseriusi.
4. Ingin pindah kerja yang lebih dekat atau malah lebih jauh

Soal jarak juga menjadi pertimbangan penting ketika seseorang akhirnya merelakan pekerjaan bergaji besar. Pendapatannya memang gede, tapi kalau itu membuatnya selalu jauh dari keluarga, bisa terasa menyiksa. Apalagi setelah seseorang memiliki anak.
Jauhnya pekerjaan bikin dia gak mengikuti tumbuh kembang anak sendiri. Ia pun rela melepas pekerjaan itu dan mencari penggantinya yang lebih dekat sekalipun gaji berkurang. Akan tetapi, ada pula orang yang justru ingin bekerja lebih jauh. Misalnya, seumur-umur ia belum pernah merantau dan hidup terasa kurang lengkap karenanya.
5. Atau, lebih fokus ke usaha sendiri

Saat usaha yang dirintis makin berkembang, sulit bagi pemiliknya untuk terus bekerja seperti biasa. Ia sudah sampai di persimpangan. Dia kudu memilih salah satu pekerjaan saja agar lelahnya memberi hasil maksimal.
Jika ia tetap menjadi karyawan sambil menjalankan usaha malah keduanya dapat berakhir berantakan. Toh, apabila dia menunjukkan totalitas dalam mengurus usaha, malah mudah baginya memperoleh laba bersih yang lebih besar daripada gaji itu. Bonusnya, ia tak lagi merasa diperintahkan siapa pun.
6. Permintaan pasangan

Sering kali ini dialami oleh perempuan yang sudah menikah. Suami tidak menginginkan dia terus bekerja dengan sejumlah alasan. Seperti ia gak mau istri kecapekan, merasa mampu menghidupi dengan layak, anak gak ada yang menjaga, atau justru diam-diam insecure.
Ya, tipe suami yang gampang merasa rendah diri juga dapat mendesak pasangannya untuk berhenti bekerja. Gaji istri yang lebih gede dari pendapatan suami membuatnya tak nyaman. Mungkin istri masih boleh bekerja, tetapi harus bergaji di bawahnya. Seakan-akan bila penghasilan istri lebih tinggi, akan membeli harga diri suami.
7. Masalah kesehatan serius

Ini situasi yang sangat tidak mudah bagi orang yang bersangkutan. Tak ada masalah dalam pekerjaannya. Ia berada di lingkungan kerja yang sangat positif. Namun, kondisi kesehatannya menuntut perhatian lebih. Penyakitnya berat.
Dia sudah kesulitan mengatur pekerjaan vs jadwal berobat. Keadaan fisiknya pun melemah. Memang di satu sisi, dia butuh banyak uang untuk berobat.
Logikanya, ia justru mesti mempertahankan pekerjaan tersebut. Akan tetapi, ketika keadaan benar-benar tak memungkinkan, kesehatan mesti terlebih dahulu diprioritaskan. Soal pekerjaan dan gaji dipikirkan nanti lagi jika kesehatannya telah membaik.
Gaji besar bukan jaminan orang akan kerasan dalam pekerjaannya. Barangkali keputusannya untuk melepas pekerjaan bergaji tinggi sulit dipahami banyak orang. Namun, tentu hal tersebut juga sudah melalui pemikiran panjang. Termasuk kesiapan seandainya gara-gara keputusan itu, kesejahteraan hidupnya agak menurun.