Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sejarah Ka'bah dan Renovasi Pembangunannya Sepanjang Masa

Sejarah Ka'bah dan Renovasi Pembangunannya Sepanjang Masa
ilustrasi sejarah Ka'bah (pixabay.com/Konevi)
Intinya Sih
  • Ka'bah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS atas perintah Allah SWT, menjadi pusat ibadah serta kiblat umat Islam hingga kini.
  • Sepanjang sejarah, Ka'bah mengalami berbagai renovasi besar akibat bencana dan konflik, mulai dari masa Qushay bin Kilab, kaum Quraisy, hingga era kekhalifahan Islam.
  • Renovasi terakhir besar dilakukan pada masa Sultan Murad IV setelah tembok Ka'bah runtuh karena banjir tahun 1039 H, mempertahankan bentuk bangunan peninggalan Al-Hajaj.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ka'bah merupakan situs paling suci dan memiliki tempat istimewa di hati umat Islam. Bagaimana tidak? Ka'bah adalah kiblat salatnya umat Islam dan memiliki sejarah yang sangat panjang.

Pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS yang dibantu oleh Nabi Ismail AS, sejarah Ka'bah telah dimulai sejak masa pra-Islam. Sebenarnya, sejarah Ka'bah tidak berhenti sampai situ. Pasalnya, Ka'bah terus mengalami renovasi dan kebanyakan disebabkan akibat bencana.

Penasaran? Mending simak sejarah Ka'bah beserta timeline renovasinya di artikel ini, yuk!

1. Awal mula pembangunan Ka'bah

Jamaah berkumpul di sekitar kabah
Jamaah berkumpul di sekitar kabah. (pexels.com/ Haydan As-soendawy)

Para sejarawan sepakat bahwa pembangunan awal Ka'bah dimulai pada masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, setelah mendapat perintah dari Allah SWT. Namun, sebagian sejarawan lain juga berpendapat bahwa Ka'bah sebenarnya dibangun oleh malaikat. Ada juga yang berpendapat bahwa pembangunan Ka'bah dimulai sejak masa Nabi Adam AS.

Meski begitu, dilansir Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir memastikan bahwa orang pertama yang membangun Ka'bah adalah Ibrahim dan Ismail. Pasalnya, ia berpendapat bahwa tidak ada satupun riwayat yang sahih dari Rasulullah yang menjelaskan bahwa Ka'bah dibangun sebelum Ibrahim.

Pembangunan Ka'bah diperintahkan oleh Allah SWT langsung kepada Ibrahim dan anaknya, Ismail. Perlahan tapi pasti, Ibrahim dan Ismail mulai membangun Ka'bah dan saling bekerja sama selama berbulan-bulan.

Ka'bah sebagai tempat suci umat Islam ternyata sudah beberapa kali mengalami pembangunan dan rehabilitasi sejak awal pembangunannya. Dirangkum berbagai sumber, sejarah pembangunan Ka'bah menurut para ulama dan sejarawan dapat dibaca pada poin berikutnya.

2. Pertama kali dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

ilustrasi kabah (pexels.com/KOFS 24)
ilustrasi kabah (pexels.com/KOFS 24)

Pembangunan Ka'bah pertama kali dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail. Hal ini seperti tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 127. Allah SWT berfirman,

(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(Q.S. Al-Baqarah: 127)

Kala itu, Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah dari tumpukan batu tanpa perekat tanah. Keduanya membuat tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta, lebarnya 32 hasta, lebar antara rukun Syami dan rukun Gharbi 22 hasta, lebar rukun Gharbi sampai rukun Yamani menjadi 31 hasta, dan lebar antara rukun Yamani dan rukun Aswad menjadi 20 hasta.

Dikutip dari Syakh Husain Abdullah Basalamah dalam kitabnya Tarikhul Ka'bah al-Mu'azhamah, Ibrahim membuat 2 pintu untuk Ka'bah dengan ukuran sama. Satunya berlokasi di dekat Hajar Aswad dan yang lain terletak di dekat rukun Yamani. Saat itu, Ka'bah belum diberi atap.

3. Pembangunan Ka'bah oleh Qushay bin Kilab

Ilustrasi atap Ka'bah masa kini (Pexels.com/Yasir Gürbüz)
Ilustrasi atap Ka'bah masa kini (Pexels.com/Yasir Gürbüz)

Dilansir kitab An-Nasab yang dinukil oleh Az-Aubair bin Bakar, orang pertama dari kalangan Quraisy yang merenovasi pembangunan Ka'bah setelah Nabi Ibrahim adalah Qushay bin Kilab. Dengan hartanya, Qushay bin Kilab menghancurkan Ka'bah, kemudian membangunnya kembali dengan pondasi yang lebih kuat. Beliau menambah tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta dari yang telah dibangun oleh Ibrahim. Pada masa ini juga, dibuat atap Ka'bah dari kayu pohon ad-dum dan pelepah kurma.

4. Renovasi Ka'bah oleh kaum Quraisy

ilustrasi kabah (pexels.com/Jay Haseeb)
ilustrasi kabah (pexels.com/Jay Haseeb)

Fase kedua dalam pembangunan Ka'bah dilakukan oleh Kaum Quraisy. Namun, sebenarnya ini bukan pembangunan, melainkan renovasi. Sebelum Rasulullah SAW diangkat sebagai Nabi, Mekkah diterjang banjir bandang yang menyebabkan dinding Ka'bah roboh.

Saat itu, Rasulullah SAW masih berusia 35 tahun dan ikut serta dalam renovasi Ka'bah dengan ikut mengangkat batu-batu di atas pundaknya. Namun, ketika pembangunan sudah hampir selesai, para suku yang ada di Mekkah justru berselisih soal peletakkan Hajar Aswad. Mereka mendebatkan suku mana yang layak untuk melakukannya. Walau hampir ada pertumpahan darah, akhirnya mereka sepakat untuk menunjuk Muhammad.

Pada pembangunan kedua, Ka'bah ditinggikan menjadi 18 hasta, tetapi panjangnya dikurangi sekitar 6,6 hasta (sebelumnya 30 hasta). Quraisy juga meninggikan posisi pintu dari tanah dan memasang daun pintu yang bisa dikunci. Tak cuma itu, Ka'bah juga dilengkapi dengan atap dan talang air (mizab).

5. Pembangunan Ka'bah pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah

Ilustrasi pintu Ka'bah saat ini (Pixabay.com/Abdullah_Shakoor)
Ilustrasi pintu Ka'bah saat ini (Pixabay.com/Abdullah_Shakoor)

Pembangunan Ka'bah selanjutnya terjadi pada masa Yazid bin Muawiyah, yakni saat era bani Umayyah. Pada akhir 683 M, pasukan Yazid bin Muawiyah menyerbu Abdullah bin Zubair dan pengikutnya di Mekkah. Peperangan ini menyebabkan sebagian dinding Ka'bah roboh dan terbakar.

Abdullah bin Zubair yang saat itu sebagai penguasa Hijaz, beliau kemudian merenovasi Ka'bah sesuai dengan pondasi awal saat masa Ibrahim. Pertama-tama, Ka'bah dihancurkan dan diratakan dengan tanah. Kemudian, Abdullah bin Zubair membangun sejumlah tiang di sekelilingnya dan menutupinya dengan tirai.

Beberapa perubahan Ka'bah pada masa ini, di antaranya adalah menambah bangunan Ka'bah sebanyak 6 hasta yang sebelumnya dikurangi oleh Quraisy. Tinggi Ka'bah ditambah menjadi 10 hasta. Tak lupa juga membuat 2 pintu, yakni satu pintu untuk masuk, sedangkan satunya lagi untuk keluar. Sementara itu, Ibn al-Zubair juga membuat 2 pintu menempel ke tanah dari arah timur dan barat untuk masuk dan keluar.

Abdullah bin Zubair berani melakukan hal ini lantaran beliau bersandar pada hadis yang diriwayatkan oleh Syaikhani yang berbunyi,

“Wahai, ‘Aisyah. Kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan, sungguh aku ingin memerintahkan mereka menghancurkan Ka’bah lalu membangunnya, dan aku masukkan ke dalamnya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan aku buat pintunya menempel dengan tanah, serta aku buatkan pintu timur dan barat, dan aku sesuaikan dengan pondasi Ibrahim”.

(Muttafaqun ‘alaih)

6. Pembangunan Ka'bah setelah Abdullah bin Zubair wafat

ilustrasi ibadah haji di sekitar kabah (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)
ilustrasi ibadah haji di sekitar kabah (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)

Pembangunan Ka'bah selanjutnya terjadi usai Abdullah bin Zubair wafat, yakni dilakukan oleh Al-Hajaj bin Yusuf Al-Tsaqafi. Pembangunan pada masa ini disebabkan adanya keraguan Abdul Malik bin Marwan terhadap pendengaran Abdullah bin Zubair tentang pondasi Ka'bah yang sempat diperselisihkan oleh para pemuka Mekkah.

Malik bin Marwan pun memerintahkan Al-Hajaj untuk membangun Ka'bah seperti sebelum Abdullah bin Zubair mengubahnya. Dilansir NU Online, bunyi perintahnya seperti ini,

“Kalau tinggi bangunan yang dia (Abdullah bin Zubair), biarkan saja. Namun, panjang bangunan itu yang meliputi Hijir Ismail, kembalikanlah seperti semula. Dan tutuplah pintu yang dia buka."

Namun, ternyata Abdul Malik bin Marwan justru menyesal karena telah menghancurkan bangunan Ka'bah yang dibangun Abdullah bin Zubair. Lantaran, Al-Harits bin Abi Rabi'ah justru menguatkan dan membenarkan pendengaran Abdullah bin Zubair itu.

7. Pemugaran oleh Sultan Murad IV

Ilustrasi bagian Rukun Syami (pexels.com/Shams Alam Ansari)
Ilustrasi bagian Rukun Syami (pexels.com/Shams Alam Ansari)

Pada 1039 H, wilayah Mekkah dan sekitar diguyur hujan deras sehingga menyebabkan air masuk ke dalam Masjidil Haram. Hal ini menyebabkan 2 sisi tembok bagian utara (Al-Syami) runtuh dan tembok bagian timur sampai Al-Syami juga ikut roboh.

Selain itu, sejarawan Syaikh Abdullah Al-Ghazi Al-Hindi Al-Makki rahimahullah menyebutkan bahwa tembok sisi Al-Syami yang roboh adalah tembok yang dibangun oleh Al-Hajaj. Tak hanya itu, tangga menuju atap Ka'bah juga ikut runtuh. Sultan Murad IV pun memerintahkan pembangunan Ka'bah dan akhirnya bisa diselesaikan pada 1040 H. Renovasi ini mengikuti bentuk bangunan Al-Hajaj.

Nah, itu tadi kisah sejarah Ka'bah yang sudah mengalami renovasi berkali-kali sejak awal dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Mengingat kisahnya yang panjang, kita sebagai umat Islam yang hidup di masa sekarang, tentunya sangat beruntung bisa mendapati Ka'bah yang terpelihara baik hingga saat saat ini.

Penulis: Fanny Haristianti

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sierra Citra
Febriyanti Revitasari
3+
Sierra Citra
EditorSierra Citra
Follow Us

Related Articles

See More