Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Gen Z Berani Pindah Karier Demi Hidup Lebih Waras?
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Dulu, berganti pekerjaan terlalu sering dianggap sebagai tanda kurang loyal atau tidak mampu bertahan menghadapi tantangan. Banyak generasi sebelumnya tumbuh dengan keyakinan bahwa pekerjaan yang stabil adalah tujuan utama, bahkan jika harus mengorbankan kenyamanan dan kebahagiaan pribadi.

Namun, pola pikir tersebut mulai berubah seiring masuknya Gen Z ke dunia kerja. Mereka dikenal lebih berani mengambil keputusan besar terkait karier. Lalu mengapa Gen Z begitu berani pindah karier demi hidup yang lebih waras?

1. Kesehatan mental menjadi prioritas utama

Ilustrasi merasa bahagia (unsplash.com/Photo by ooneiroslyl)

Salah satu alasan terbesar mengapa Gen Z berani berpindah karier adalah meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan mental. Generasi ini tumbuh di era ketika isu burnout, kecemasan, dan stres kerja dibahas secara terbuka melalui media sosial, podcast, hingga kampanye kesehatan publik.

Sebuah studi yang dilakukan American Psychological Association (APA), menunjukkan bahwa tempat kerja yang mendukung kesehatan mental tidak hanya baik bagi pekerja, tetapi juga meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Berikut rincian hasilnya:

  • 92 persen pekerja mengatakan sangat (57 persen) atau agak (35 persen) penting bagi mereka untuk bekerja di organisasi yang menghargai kesejahteraan emosional dan psikologis mereka.

  • 92 persen mengatakan sangat (52 persen) atau agak (40 persen) penting bagi mereka untuk bekerja di organisasi yang menyediakan dukungan untuk kesehatan mental karyawan.

  • 95 persen mengatakan sangat (66 persen) atau agak (29 persen) penting bagi mereka untuk merasa dihormati di tempat kerja.

  • 95 persen mengatakan sangat (61 persen) atau agak (34 persen) penting bagi mereka untuk bekerja di organisasi yang menghormati batasan antara waktu kerja dan waktu di luar kerja.

Jadi, mayoritas pekerja melaporkan sangat (36 persen) atau agak (41 persen) puas dengan dukungan untuk kesehatan mental dan kesejahteraan yang mereka terima dari perusahaan mereka. Lebih dari setengahnya (59 persen) sangat (22 persen) atau agak (37 persen) setuju bahwa perusahaan mereka secara teratur memberikan informasi tentang sumber daya kesehatan mental yang tersedia. Lebih lanjut, 72 persen pekerja sangat (30 persen) atau agak (42 persen) setuju bahwa perusahaan mereka membantu karyawan mengembangkan dan mempertahankan gaya hidup sehat.

2. Mereka tidak lagi mendefinisikan diri dari pekerjaan saja

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

Generasi sebelumnya sering menjadikan pekerjaan sebagai identitas utama. Namun, bagi banyak Gen Z, pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan. Mereka juga ingin memiliki waktu untuk keluarga, teman, hobi, kesehatan, dan pengembangan diri.

Dari hasil stusi APA di atas juga bisa diartikan bahwa banyak pekerja modern ingin dihargai sebagai manusia, bukan sekadar mesin produktivitas. Karena itu, ketika pekerjaan mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam kehidupan, Gen Z cenderung mengevaluasi ulang prioritas mereka.

3. Burnout dianggap bukan tanda kesuksesan

Ilustrasi kelelahan (unsplash.com/Photo by LARAM)

Budaya hustle yang sempat populer selama bertahun-tahun mulai mendapat kritik dari kalangan profesional muda. Jika dulu bekerja hingga larut malam dianggap sebagai simbol dedikasi, kini banyak Gen Z melihatnya sebagai tanda adanya masalah dalam sistem kerja.

"Burnout sama pentingnya dengan kondisi kerja dan faktor pribadi, dan ketika ada ketidaksesuaian antara seseorang dan pekerjaannya, risiko burnout akan lebih besar. Dengan kata lain, kelelahan kerja (burnout) adalah masalah hubungan antara pekerja dan tempat kerja," kata profesor psikologi Dr. Christina Maslach dikutip dari We Forum.

Pandangan ini membuat banyak Gen Z tidak lagi menyalahkan diri sendiri ketika merasa kelelahan. Sebaliknya, mereka mulai mempertanyakan apakah lingkungan kerja yang dijalani memang sehat. Jika jawabannya tidak, berpindah karier sering dianggap sebagai langkah rasional daripada bertahan dalam kondisi yang merugikan.

4. Teknologi membuka lebih banyak pilihan karier

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z hidup di masa ketika peluang kerja tersedia dalam berbagai bentuk. Mereka dapat bekerja secara remote, menjadi freelancer, membangun bisnis digital, menjadi content creator, atau mempelajari keterampilan baru melalui kursus online.

Perjalanan karier saat ini tidak lagi berbentuk seperti tangga lurus yang harus dinaiki satu per satu, melainkan memiliki banyak jalur dan kemungkinan. Adanya banyak pilihan membuat risiko berpindah karier terasa lebih besar dibandingkan masa lalu.

5. Mereka mencari makna, bukan sekadar gaji

Ilustrasi berpikir (pexels.com/Photo by Mert Coşkun)

Gaji tetap penting, tetapi banyak survei menunjukkan bahwa Gen Z juga mempertimbangkan makna pekerjaan. Mereka ingin merasa bahwa pekerjaan yang dilakukan memiliki dampak positif, sesuai dengan nilai pribadi, dan memberikan rasa berkembang.

Ketika pekerjaan tidak lagi memberikan rasa bermakna, sebagian Gen Z merasa tidak ada alasan kuat untuk bertahan. Mereka lebih memilih mencari bidang baru yang lebih selaras dengan nilai hidup dan aspirasi pribadi meskipun harus memulai kembali dari awal.

Keberanian Gen Z untuk berpindah karier sering kali dianggap sebagai sikap yang impulsif atau kurang setia terhadap perusahaan. Namun, jika dilihat lebih dalam, keputusan tersebut banyak dipengaruhi oleh perubahan cara pandang terhadap pekerjaan, kesehatan mental, dan makna hidup. Mereka tidak lagi melihat karier sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai salah satu alat untuk membangun kehidupan yang lebih seimbang.

 

Editorial Team

Related Article