Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Perasaan Nelangsa saat Bekerja Keras demi Sesuap Nasi

5 Perasaan Nelangsa saat Bekerja Keras demi Sesuap Nasi
ilustrasi bekerja keras (pexels.com/setengah lima sore)
Intinya Sih
  • Artikel menggambarkan perjuangan pekerja keras yang rela bekerja tanpa batas waktu demi memenuhi kebutuhan hidup, meski hasilnya sering kali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
  • Perasaan nelangsa muncul ketika pekerja membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih mapan, sementara mereka terus berjuang di tengah tekanan ekonomi dan minimnya penghargaan.
  • Timbul pertanyaan batin tentang keadilan dalam rezeki, saat kerja keras tak selalu membawa kemakmuran, membuat sebagian orang kehilangan semangat dan arah hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bekerja keras artinya bukan sekadar datang ke kantor dan melakukan tugas-tugas sekadarnya sampai tiba jam pulang. Orang yang bekerja keras melakukan usaha lebih untuk mencapai hasil yang diharapkan. Bentuknya bisa dengan ia mau diminta mengerjakan apa pun asal halal.

Dapat pula bekerja tanpa batasan jam kerja yang jelas. Pokoknya, asal masih kuat kerja, ya, kerja terus. Gak kenal kata libur kecuali dia sudah benar-benar kecapekan atau jatuh sakit.

Ia bekerja sekeras itu bukan untuk menumpuk kekayaan. Namun, semata-mata mencari sesuap nasi demi diri sendiri atau bersama keluarganya. Dengan ikhtiar sekencang itu, tak heran apabila muncul perasaan nelangsa saat bekerja keras demi sesuap nasi. Apakah kamu juga pernah merasakannya?

1. Cari uang begini amat

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Perasaan ini muncul ketika hanya demi uang yang gak seberapa, kamu sampai bekerja begitu keras. Bahkan harga dirimu dipertaruhkan. Contohnya, dirimu bekerja sebagai pelayan. Pendapatan mungkin setara atau justru di bawah standar upah minimum.

Namun, tak jarang kamu kena semprotan pengunjung. Dirimu melakukan kesalahan-kesalahan kecil, tetapi reaksinya berlebihan. Seperti pengunjung datang menjelang restoran tutup. Otomatis dirimu mengatakan beberapa menu sudah habis.

Termasuk menu yang ingin dipesannya. Begitu saja bikin emosinya meledak. Seakan-akan kamu dan pihak restoran tidak serius menjalankan usaha. Demikian pula di jam-jam ramai pengunjung. Salah antara minuman yang seharusnya cukup dijawab bukan pesanan mereka pun berbuah makian. Kamu merasa hina sekali di hadapan mereka.

2. Kayaknya hidup orang-orang enak betul

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Syam Arif)

Sembari kamu bekerja, kamu tidak bisa lepas dari pemandangan orang-orang di sekitarmu. Contohnya, pekerjaanmu ialah tukang. Gak peduli panas atau hujan, sebisa mungkin dirimu tetap mengerjakan tugas demi selesai tepat waktu.

Jangan sampai waktu pengerjaan molor dari target. Lelahnya tentu luar biasa terpanggang matahari dari pagi hingga sore. Sementara orang-orang melintas di sekitar lokasi kerjamu dengan kendaraan ber-AC yang sangat nyaman.

Banyak juga orang yang bekerja di kantor-kantor sekitar. Penampilan mereka bersih, rapi, serta wangi. Sangat berbeda denganmu yang banjir keringat sepanjang hari, kulit sampai hitam kelam, dan pakaian lusuh oleh debu serta sengatan matahari.

3. Sampai kapan begini?

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Perasaan nelangsa ketika bekerja tidak hanya dialami oleh orang-orang yang bekerja di lapangan. Kamu yang kerjanya di ruangan nyaman juga bisa merasakannya. Ini gak dapat dihakimi sebagai kurangnya rasa syukur.

Dirimu yang paling tahu situasinya. Seperti posisimu, tak ada tanda-tanda bakal naik walaupun kamu sudah bekerja dengan begitu keras. Pengalaman serta kompetensimu seperti tidak pernah diperhatikan atasan.

Padahal bila posisimu di situ-situ saja, kenaikan gaji jelas tak seberapa dibandingkan dengan biaya hidup. Harus ada kenaikan jabatan dulu agar perubahan pendapatan signifikan. Dirimu sedang bergulat dengan keharusan bersabar untuk kesekian kalinya sambil menahan cemas. Kalau-kalau menunggu kenaikan posisi sampai tua pun tidak berguna.

4. Sepertinya aku paling gagal di antara teman-teman

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/JC Presco)

Sulit buatmu tidak membandingkan diri dengan orang lain ketika kondisimu sedang buruk. Apalagi dengan teman sebaya seperti kawan semasa sekolah atau kuliah. Kamu tahu kehidupan mereka saat ini sangat baik.

Mereka bekerja di bidang-bidang yang prospektif. Posisinya juga bagus. Soal pendapatan jelas di atas rata-rata. Sementara kamu masih terus berjuang dari bawah. Kawan-kawanmu mulai bisa disebut mapan. Sedang dirimu masih gak jelas.

Pekerjaan kadang ada, kadang kosong. Bila pun kamu bekerja setiap hari, hasilnya tak memadai untuk meningkatkan taraf perekonomianmu. Cuma cukup buat menyambung hidup saja. Perasaan gagal sukar dihindari. Tak peduli dulu, dirimu mungkin siswa atau mahasiswa paling cerdas.

5. Apa cuma orang-orang tertentu yang boleh kaya?

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/HONG SON)

Kamu bukan orang yang gampang pesimis tentang masa depan. Akan tetapi, setelah masa kerja yang cukup lama dan hidupmu begini-begini saja, wajar kalau terlintas pertanyaan seperti di atas. Rasanya usahamu dalam mencari uang tak kurang-kurang.

Kamu bahkan berani diadu dengan orang lain soal kesediaan bekerja keras. Namun, entah kenapa kekayaan seperti tidak sudi menjadi milikmu. Kekayaan terus berlari walau dikejar sekuat tenaga dan sekencang mungkin.

Sementara itu, orang lain menjadi kaya semudah membalikkan telapak tangan. Pertanyaan di atas boleh jadi disusul dengan pertanyaan lain. Apabila hanya orang-orang tertentu yang boleh kaya, untuk apa dirimu bekerja sangat keras? Kamu kehilangan semangat serta arah hidup.

Perasaan nelangsa saat bekerja keras demi sesuap nasi saja rasanya sudah bikin jungkir-balik. Makin banyak piring yang harus diisi makin keras pula usaha yang dikerahkan. Hidup dapat terasa bukan lagi berjalan dari hari ke hari, melainkan dari piring ke piring. Saat dirimu bisa membeli sarapan, belum tentu akan dapat membeli makan siang, apalagi malam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More