Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Target Bullying di Kantor?

4 min read
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Target Bullying di Kantor?
ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau)
  • Bullying kantor bisa muncul lewat pengabaian, penghinaan, lelucon, atau tidak dilibatkan kerja, dan bukan berarti korban bersalah atau pantas menerimanya.
  • Ketimpangan kuasa, status karyawan baru, minim dukungan sosial, serta perbedaan dari kebiasaan kelompok dapat membuat seseorang lebih rentan menjadi sasaran.
  • Bullying berulang saat lingkungan membiarkannya, diperkuat persaingan atau konflik, serta pelaku menganggap korban tidak akan melawan; perusahaan perlu aturan dan mekanisme pelaporan jelas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bullying di tempat kerja tidak selalu muncul dalam bentuk bentakan atau perlakuan kasar yang tampak jelas. Terkadang, bentuk bullying dapat berupa diabaikan terus-menerus, dipermalukan, dijadikan bahan lelucon, atau sengaja tidak dilibatkan dalam pekerjaan tertentu. Situasi seperti ini bisa berlangsung cukup lama sampai korban mulai merasa bahwa dirinya memang tidak disukai oleh orang-orang di lingkungan kerja.

Padahal, menjadi target bullying bukan berarti seseorang melakukan kesalahan atau pantas mendapatkan perlakuan tersebut. Ada banyak faktor yang bisa membuat seseorang lebih mudah dijadikan sasaran, mulai dari dinamika kelompok, budaya kerja yang tidak sehat, sampai adanya rekan kerja yang ingin menunjukkan kekuasaan. Lalu, mengapa seseorang bisa menjadi target bullying di kantor?

  1. 1. Ada ketimpangan posisi atau kekuasaan

    ilustrasi korban bullying
    ilustrasi korban bullying (pexels.com/Khwanchai Phanthong)

    Lingkungan kerja memiliki struktur dan hubungan kekuasaan yang cukup kompleks. Orang yang memiliki posisi lebih rendah, karyawan baru, atau orang yang tidak memiliki banyak dukungan sosial di kantor terkadang lebih rentan diperlakukan tidak menyenangkan. Pelaku bullying bisa memanfaatkan posisi tersebut karena merasa korban tidak memiliki cukup keberanian atau kekuatan untuk melawan. Misalnya, karyawan baru terus diberi pekerjaan di luar tanggung jawabnya, sering disalahkan ketika terjadi masalah, atau dipermalukan di depan rekan kerja lainnya.

    Ketimpangan kekuasaan juga tidak selalu berkaitan dengan jabatan formal di tempat kerja. Popularitas dalam kelompok dapat membuat seseorang memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan rekan lainnya. Begitu pula dengan kedekatan dengan atasan yang bisa membuat seseorang merasa memiliki posisi lebih kuat di lingkungan kerja.

  2. 2. Korban dianggap berbeda dari kelompok

    ilustrasi lingkungan kerja yang tidak sehat
    ilustrasi lingkungan kerja yang tidak sehat (pexels.com/Yan Krukau)

    Perbedaan di lingkungan kerja sebenarnya merupakan hal yang biasa. Namun, dalam kelompok yang kurang terbuka, seseorang yang dianggap berbeda bisa lebih mudah menjadi sasaran. Perbedaan tersebut bisa berupa gaya komunikasi, cara berpakaian, kebiasaan, latar belakang, usia, atau bahkan cara seseorang mengerjakan pekerjaan. Saat lingkungan kerja memiliki budaya yang sangat mengutamakan keseragaman, orang yang tidak mengikuti kebiasaan kelompok bisa dianggap aneh atau sulit diajak bekerja sama. Dari sini, candaan kecil yang awalnya dianggap biasa bisa berkembang menjadi perilaku yang membuat seseorang terus-menerus merasa dikucilkan.

  3. 3. Lingkungan kerja membiarkan perilaku tersebut

    ilustrasi korban bullying
    ilustrasi korban bullying (pexels.com/Puwadon Sang-ngern)

    Bullying juga bisa terus terjadi karena lingkungan di sekitarnya membiarkannya. Saat ejekan, hinaan, atau pengucilan dianggap sebagai candaan biasa, pelaku mungkin merasa tidak ada konsekuensi atas tindakannya. Rekan kerja yang melihat kejadian tersebut tetapi memilih diam juga secara tidak langsung membuat perilaku itu semakin sulit dihentikan.

    Bukan berarti orang yang diam otomatis menjadi pelaku, karena setiap orang memiliki alasan dan posisi yang berbeda. Namun, budaya kerja yang tidak memiliki batas jelas terhadap perilaku merendahkan memang dapat membuat bullying lebih mudah berulang. Karena itu, pencegahan bullying tidak hanya menjadi tanggung jawab korban. Perusahaan juga perlu memiliki aturan dan mekanisme pelaporan yang jelas.

  4. 4. Ada persaingan atau konflik di tempat kerja

    ilustrasi beberapa orang sedang presentasi
    ilustrasi presentasi proyek kantor (pexels.com/Anna Shvets)

    Persaingan di kantor sebenarnya adalah hal yang wajar. Masalahnya, situasi bisa berubah ketika seseorang mulai merasa perlu menjatuhkan rekan kerja agar dirinya terlihat lebih unggul. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari membicarakan keburukan rekan di belakang, tidak memberikan informasi yang sebenarnya dibutuhkan, sampai mengambil hasil kerja orang lain.

    Konflik pribadi juga bisa menjadi awal masalah yang lebih panjang kalau tidak pernah diselesaikan. Awalnya mungkin hanya karena salah paham atau perbedaan cara kerja, tetapi lama-lama bisa membuat hubungan keduanya semakin tidak nyaman. Ketika rekan kerja lain ikut terseret, seseorang akhirnya bisa merasa dikucilkan atau justru menjadi sasaran perlakuan yang tidak menyenangkan secara berulang.

  5. 5. Korban dianggap tidak akan melawan

    ilustrasi korban bullying
    ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau)

    Terkadang pelaku bullying sengaja memilih target yang dianggap tidak akan memberikan perlawanan. Seseorang yang cenderung menghindari konflik atau lebih memilih diam mungkin dianggap sebagai target yang “aman” oleh pelaku. Orang-orang yang dianggap tidak akan melawan ini biasanya memiliki sifat pendiam, pemalu, atau tidak suka berkonfrontasi.

    Kantor seharusnya menjadi ruang bagi seseorang untuk menjalankan pekerjaannya tanpa harus terus-menerus merasa takut. Memahami mengapa seseorang bisa menjadi target bullying di kantor bukanlah untuk mencari kesalahan korban, melainkan untuk melihat pola yang memungkinkan perilaku tersebut terus berlanjut. Dengan begitu, masalah bisa ditangani dari lingkungan dan sistemnya, bukan hanya meminta korban untuk terus menyesuaikan diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More