Pernah merasa sibuk seharian, tetapi pekerjaan penting justru malah belum banyak yang selesai? Kondisi ini bisa terjadi ketika terlalu banyak energi habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Konsep strategic laziness menawarkan cara berbeda untuk mengatur tenaga tanpa harus terus-terusan terlihat produktif.
Alih-alih mengerjakan semuanya sekaligus, kamu memilih mana yang memang layak mendapatkan perhatian lebih. Cara ini bisa diterapkan saat bekerja, belajar, maupun menjalani rutinitas sehari-hari.
Istilah strategic laziness pada dasarnya mengajak seseorang untuk lebih selektif menggunakan energi. Konsep ini mulai banyak dibicarakan karena budaya kerja yang serba cepat sering membuat orang merasa harus selalu sibuk. Padahal, bekerja lebih lama tidak otomatis menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.
Dengan mengurangi aktivitas yang kurang penting, kamu bisa menyimpan energi untuk tugas yang membutuhkan fokus lebih besar. Lalu, bagaimana cara “malas” justru bisa membuat aktivitas sehari-hari lebih efisien?
