Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tips Menghadapi Imposter Syndrome Saat Dapat Tanggung Jawab Baru

4 min read
5 Tips Menghadapi Imposter Syndrome Saat Dapat Tanggung Jawab Baru
ilustrasi fokus kerja (pexels.com/Jonathan Borba)
  • Tanggung jawab baru dapat memicu imposter syndrome, ketika keraguan diri dan kekhawatiran soal kemampuan muncul meski seseorang dipercaya karena kapasitas yang telah terlihat.
  • Keraguan perlu dipisahkan dari fakta dengan meninjau pengalaman, keterampilan, dan pencapaian; proses belajar, bertanya, menerima masukan, serta kesalahan adalah bagian wajar dari adaptasi.
  • Mencatat perkembangan konkret, berdiskusi dengan atasan atau mentor, dan memandang peran baru sebagai ruang bertumbuh membantu mengelola tekanan tanpa tuntutan harus langsung sempurna.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendapat tanggung jawab baru di tempat kerja seharusnya menjadi momen yang membanggakan, tetapi kenyataannya gak selalu terasa demikian. Ada kalanya kepercayaan yang diberikan justru memunculkan keraguan terhadap kemampuan sendiri, bahkan sampai muncul kekhawatiran bahwa pencapaian selama ini hanya berasal dari keberuntungan. Perasaan semacam ini kerap dikaitkan dengan imposter syndrome, terutama ketika seseorang memasuki peran yang lebih besar dan belum sepenuhnya familier.

Tanggung jawab baru memang membawa tuntutan berbeda sehingga wajar jika proses adaptasinya gak langsung berjalan mulus. Daripada terus membandingkan kemampuan diri dengan ekspektasi yang terlalu tinggi, pengalaman tersebut dapat dijadikan kesempatan untuk mengenali kapasitas sekaligus area yang masih perlu dikembangkan. Supaya keraguan diri gak terus mengambil ruang dalam perjalanan karier, yuk terapkan beberapa cara berikut.

  1. 1. Pisahkan perasaan ragu dari fakta tentang kemampuan

    ilustrasi wanita muslim fokus kerja
    ilustrasi wanita muslim fokus kerja (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

    Rasa gak percaya diri sering membuat pikiran memperlakukan kekhawatiran seolah-olah sebagai kenyataan. Ketika mendapat proyek besar atau posisi baru, satu kesalahan kecil bahkan dapat terasa seperti bukti bahwa diri sebenarnya gak cukup kompeten. Padahal, perasaan belum siap belum tentu menunjukkan bahwa seseorang benar-benar gak memiliki kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.

    Cobalah melihat kembali fakta yang membawa diri sampai pada posisi sekarang, mulai dari pengalaman, keterampilan, pencapaian, sampai kepercayaan yang diberikan oleh orang lain. Tanggung jawab baru biasanya diberikan karena ada kapasitas tertentu yang telah terlihat, bukan semata-mata karena kebetulan. Cara pandang ini membantu menempatkan keraguan secara lebih proporsional tanpa harus mengabaikan bagian diri yang memang masih perlu berkembang.

  2. 2. Berhenti menuntut diri langsung menguasai semuanya

    ilustrasi pria fokus kerja
    ilustrasi pria fokus kerja (unsplash.com/Tim van der Kuip)

    Tanggung jawab baru hampir selalu menghadirkan situasi, keputusan, dan persoalan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Sayangnya, imposter syndrome dapat memunculkan tuntutan bahwa seseorang seharusnya langsung mengetahui semua jawaban sejak hari pertama. Standar seperti ini gak realistis karena kemampuan menjalankan peran baru juga terbentuk melalui proses belajar dan pengalaman.

    Daripada mengejar kesempurnaan, lebih baik fokus pada kemajuan yang dapat dicapai secara bertahap. Beri ruang untuk bertanya, mempelajari prosedur, menerima masukan, dan memperbaiki kesalahan tanpa langsung menganggapnya sebagai kegagalan pribadi. Semakin terbiasa melihat proses belajar sebagai bagian dari tanggung jawab, semakin kecil kemungkinan ketidaktahuan sementara berubah menjadi keraguan terhadap seluruh kemampuan diri.

  3. 3. Catat perkembangan dan pencapaian secara konkret

    ilustrasi mahasiswa belajar
    ilustrasi mahasiswa belajar (pexels.com/Jeswin Thomas)

    Pikiran yang dipenuhi keraguan cenderung lebih mudah mengingat kesalahan daripada keberhasilan yang sudah dicapai. Akibatnya, seseorang dapat merasa terus tertinggal meskipun sebenarnya telah mengalami banyak perkembangan sejak menerima tanggung jawab baru. Mencatat pencapaian dapat menjadi cara sederhana untuk menghadirkan bukti konkret ketika penilaian terhadap diri mulai terasa terlalu negatif.

    Catatan tersebut gak harus berisi keberhasilan besar seperti menyelesaikan proyek penting atau mendapat apresiasi dari atasan. Keputusan yang tepat, masalah yang berhasil diselesaikan, keterampilan baru yang dikuasai, atau masukan positif dari rekan kerja juga layak diperhatikan. Melihat perkembangan dalam bentuk yang lebih nyata dapat membantu diri memahami bahwa kompetensi tumbuh sedikit demi sedikit, bukan muncul secara instan.

  4. 4. Cari dukungan tanpa menganggapnya sebagai kelemahan

    ilustrasi membantu rekan kerja
    ilustrasi membantu rekan kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Menghadapi tanggung jawab baru sendirian dapat memperbesar tekanan karena setiap kesulitan terasa seperti masalah pribadi yang harus diselesaikan tanpa bantuan. Padahal, berdiskusi dengan atasan, mentor, atau rekan yang lebih berpengalaman merupakan bagian normal dari proses adaptasi profesional. Meminta perspektif orang lain gak otomatis menunjukkan bahwa seseorang kurang kompeten dalam menjalankan pekerjaannya.

    Percakapan terbuka juga dapat membantu melihat bahwa orang lain mungkin pernah mengalami keraguan serupa ketika memasuki peran baru. Dari sana, berbagai tantangan yang sebelumnya terasa sangat personal dapat dipahami sebagai bagian dari proses perkembangan karier. Dukungan yang tepat bukan sekadar memberi rasa lega, tetapi juga menyediakan sudut pandang yang lebih objektif ketika penilaian terhadap diri mulai terasa terlalu keras.

  5. 5. Ubah tanggung jawab baru menjadi ruang untuk bertumbuh

    ilustrasi fokus belajar
    ilustrasi fokus belajar (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Tanggung jawab baru akan terasa jauh lebih menekan ketika dipandang sebagai ujian untuk membuktikan bahwa diri pantas berada pada posisi tersebut. Setiap keputusan akhirnya terasa menentukan, sedangkan setiap kesalahan dianggap mampu membongkar kekurangan yang selama ini tersembunyi. Pola pikir seperti ini membuat energi lebih banyak habis untuk mengkhawatirkan penilaian orang daripada memahami pekerjaan itu sendiri.

    Cobalah memandang peran baru sebagai ruang untuk memperluas kemampuan, bukan panggung untuk selalu terlihat sempurna. Kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi, tantangan dapat memperkaya pengalaman, dan ketidakpastian dapat membuka kesempatan mempelajari keterampilan baru. Ketika perhatian beralih dari pembuktian diri menuju pertumbuhan, tekanan akibat imposter syndrome pun dapat terasa lebih mudah dikelola.

    Imposter syndrome saat menerima tanggung jawab baru gak harus menjadi penghalang untuk terus berkembang dalam karier. Keraguan dapat dihadapi dengan melihat fakta secara objektif, memberi ruang untuk belajar, mencatat perkembangan, mencari dukungan, dan mengubah cara memandang tantangan. Pada akhirnya, menjadi kompeten bukan berarti selalu mengetahui segalanya, melainkan bersedia terus belajar dan bertumbuh ketika menghadapi sesuatu yang baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More