Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bagian Rumah yang Sering Dibersihkan tapi Ternyata Masih Kotor
ilustrasi menggunakan sarung tangan karet dan masker saat membersihkan rumah pasca banjir (pexels.com/Polina Zimmerman)

Sudah menyapu lantai, mengepel, mengelap meja, dan membersihkan kamar mandi, tetapi rumah masih terasa kurang bersih? Bisa jadi, ada bagian-bagian kecil yang selama ini luput dari perhatian. Permukaannya mungkin terlihat mengilap, tetapi debu, sisa kotoran, minyak, atau mikroorganisme masih bisa tertinggal karena cara membersihkannya kurang tepat.

Kebiasaan membersihkan rumah memang penting, tetapi mengetahui bagian mana yang perlu mendapat perhatian ekstra juga tidak kalah penting. Berikut lima bagian rumah yang sering dibersihkan, tetapi masih berpotensi menyimpan kotoran.

1. Gagang pintu dan sakelar lampu yang sering disentuh

ilustrasi membersihkan gagang pintu (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Gagang pintu dan sakelar lampu termasuk benda yang sering disentuh, tetapi tidak selalu masuk dalam daftar prioritas ketika membersihkan rumah. Kita menyentuh gagang pintu setelah pulang dari luar, sebelum mencuci tangan, atau ketika tangan sedang sibuk membawa barang.

Sakelar lampu juga disentuh berkali-kali setiap hari, sehingga kotoran dan mikroorganisme dapat berpindah ke permukaannya. Dr. Gregory Poland, MD, dari Vaccine Research Group di Mayo Clinic, pernah menjelaskan bahwa benda-benda yang sering disentuh dapat menjadi tempat ditemukannya banyak kuman.

"Keran di kamar mandi, gagang pintu, pegangan eskalator, terminal komputer-apa pun yang sering disentuh oleh banyak orang," jelasnya dalam wawancaranya bersama Mayo Clinic News Network.

 

2. Spons cuci piring dan area sekitar bak cuci

ilustrasi spon cuci piring (pexels.com/cottonbro studio)

Spons cuci piring terlihat bersih setelah dibilas, tetapi sisa makanan, minyak, dan kelembapan dapat tertinggal di sela-selanya. Kondisi tersebut membuat spons yang digunakan berulang kali berpotensi menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme.

Jika spons yang sama dipakai untuk membersihkan berbagai permukaan, kotoran juga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pakar kebersihan Scott Schrader, mengingatkan bahwa spons tidak cocok digunakan untuk semua jenis permukaan. Spons yang sudah terkontaminasi dapat memindahkan bakteri, terutama ketika digunakan pada area persiapan makanan.

“Spons memang praktis, tetapi juga bisa menjadi sarang bakteri. Jangan pernah membersihkan permukaan yang digunakan untuk menyiapkan daging mentah, seperti talenan dengan spons, karena spons akan memerangkap sari daging serta bakteri seperti Salmonella dan E. coli. Alih-alih membersihkan, penggunaan spons justru akan menyebarkan bakteri tersebut ke mana-mana,” katanya dikutip dari Southern Living.

Untuk mengurangi risiko tersebut, bilas spons setelah digunakan, peras airnya, lalu simpan di tempat yang memungkinkan spons mengering. Ganti spons secara berkala, terutama jika sudah berbau, berubah warna, atau rusak. Jangan lupa membersihkan bak cuci, saringan saluran air, dan area di sekitar keran.

3. Keran, wastafel, dan sudut kamar mandi

Ilustrasi membersihkan wastafel kamar mandi (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Wastafel mungkin terlihat bersih setelah digosok, tetapi bagian pangkal keran, sambungan antara bak dan meja, serta lubang pembuangan sering terlewat. Di area tersebut, sisa sabun, kerak mineral, rambut, dan kelembapan dapat menumpuk.

Jika dibiarkan, kotoran bisa membentuk lapisan yang membuat permukaan terlihat kusam atau menimbulkan bau tidak sedap. Saat membersihkan kamar mandi, gunakan sikat kecil untuk menggosok pangkal keran, sambungan silikon, dan sudut wastafel.

"Toilet, wastafel, dan bak mandi menyimpan kuman yang dapat dengan mudah berpindah ke dalam pori-pori spons, tempat yang disukai bakteri, lalu menyebar ke berbagai tempat lain,” ujar Scott Schrader.

“Saya selalu menyarankan klien saya untuk menggunakan sikat pembersih khusus atau tisu disinfektan sekali pakai yang dapat disanitasi setelah digunakan,” lanjutnya.

Pilih pembersih yang sesuai dengan bahan permukaan agar tidak merusak lapisan logam atau batu. Setelah digunakan, bilas sisa sabun dan keringkan bagian yang mudah menampung air. Jika menggunakan cairan pembersih yang kuat, ikuti petunjuk label dan jangan mencampur produk berbahan kimia berbeda, terutama pemutih dengan pembersih asam atau amonia.

4. Remote TV, keyboard, dan ponsel yang jarang dilap

ilustrasi seseorang memegang remote TV (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Remote TV, keyboard komputer, dan ponsel termasuk barang yang sering digunakan, tetapi kerap luput dari jadwal bersih-bersih. Kita bisa memegangnya setelah makan, ketika tangan berkeringat, atau sesudah beraktivitas di luar rumah.

Debu, minyak dari kulit, remah makanan, dan kotoran kecil pun dapat menumpuk di sela tombol atau sudut perangkat. Dr. Gregory Poland dari Mayo Clinic juga menyoroti keyboard komputer sebagai salah satu benda yang dapat mengalami kontaminasi berulang.

"Hal-hal tersebut telah berulang kali terbukti terkontaminasi secara sangat parah," kata Dr. Gregory Poland.

Pernyataan tersebut merujuk pada keyboard yang sering disentuh dan dapat menampung banyak mikroorganisme. Untuk membersihkannya, matikan perangkat dan lepaskan kabel atau sumber daya jika memungkinkan. Gunakan kain mikrofiber yang lembut dan ikuti petunjuk produsen mengenai produk pembersih yang aman.

Hindari menyemprotkan cairan langsung ke perangkat, memasukkan air ke sela tombol, atau menggunakan bahan abrasif yang dapat merusak permukaan. Untuk ponsel, perhatikan juga petunjuk pembersihan layar dan casing karena setiap material memiliki ketahanan berbeda.

5. Tirai kamar mandi, nat keramik, dan sudut shower

ilustrasi membersihkan kamar mandi (freepik.com/rawpixel.com)

Saat membersihkan kamar mandi, perhatian sering terpusat pada lantai dan kloset. Padahal, tirai kamar mandi, nat di antara keramik, serta sudut shower juga bisa menampung sisa sabun, kerak, dan kelembapan. Bagian bawah tirai yang terus terkena air, misalnya, dapat menjadi tempat munculnya noda atau lapisan berlendir jika tidak dibersihkan dan dikeringkan dengan baik.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa metode pembersihan perlu disesuaikan dengan jenis permukaan dan tingkat kekotorannya. Kotoran yang menempel perlu dihilangkan terlebih dahulu agar proses sanitasi atau disinfeksi, jika diperlukan, dapat bekerja dengan baik. Prinsip ini relevan untuk nat keramik dan sudut shower yang sering luput ketika kita hanya menggosok bagian tengah lantai.

Agar hasilnya lebih maksimal, gunakan sikat kecil untuk membersihkan nat dan sudut yang sulit dijangkau. Cuci tirai kamar mandi sesuai petunjuk perawatannya, lalu bentangkan agar cepat kering setelah digunakan. Jika ada jamur, pilih produk yang sesuai dengan permukaan dan gunakan sesuai petunjuk label.

Buka ventilasi atau jendela jika memungkinkan untuk membantu mengurangi kelembapan. Jangan menggosok terlalu keras pada nat atau lapisan silikon karena bisa merusak material yang berfungsi mencegah air merembes.

Rumah yang bersih bukan berarti setiap sudut harus selalu disterilkan, melainkan setiap bagian mendapat perhatian sesuai fungsi dan tingkat kekotorannya. Mulailah dengan memeriksa lima area di atas saat jadwal bersih-bersih berikutnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article