Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gen Z dan Milenial Sulit Memutus Rantai Trauma Orangtua, Kamu Juga?

Gen Z dan Milenial Sulit Memutus Rantai Trauma Orangtua, Kamu Juga?
ilustrasi seorang pria (pexels.com/eduardo199o9)
Intinya Sih
  • Trauma pengasuhan dari orangtua sering tertanam dalam alam bawah sadar dan sulit disadari, membuat Gen Z serta milenial kesulitan memutus rantai luka batin tersebut.
  • Banyak yang terjebak pada kebencian terhadap orangtua tanpa mencari solusi profesional, sehingga energi negatif itu berpotensi diteruskan ke pasangan atau anak.
  • Gaya hidup cepat seperti sekolah, kerja, lalu menikah tanpa pemulihan diri membuat trauma lama muncul kembali saat menjadi orangtua dan memengaruhi pola asuh berikutnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semua orang pasti memiliki pengalaman yang kurang baik. Itu bisa terkait dirinya dengan keluarga, teman, atau lingkungan pendidikan dan pekerjaan. Akan tetapi, tidak semua pengalaman tidak menyenangkan itu mengendap menjadi trauma.

Trauma dalam hal ini trauma psikis adalah luka batin yang sangat membekas. Waktu terus berjalan, tetapi luka itu masih meninggalkan berbagai jejak. Kamu bisa mendadak ke-trigger jika berhadapan dengan hal-hal yang berkaitan dengan traumamu.

Ada perasaan sedih yang tak kunjung hilang, ketakutan yang melumpuhkan, dan berbagai emosi negatif lainnya dengan intensitas kuat ketika kamu teringat peristiwa traumatik. Salah satu sumber trauma pada anak ialah berkaitan dengan pengasuhan orangtua. Jika kamu generasi Z atau milenial, apakah merasa memutus rantai trauma pengasuhan sangat berat? Ternyata ini ada penjelasannya, lho.

1. Pastinya gak semua orang mempelajari psikologi

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Toàn Đỗ Công)

Walaupun jiwa tidak terlihat, isinya sangat kompleks. Kamu bisa membayangkannya seperti bawang merah besar. Lapisannya banyak sekali. Luka batin yang mengendap di diri dalam bentuk trauma sering kali berada di lapisan paling dalam.

Bahkan ada orang yang sampai dewasa tidak menyadari dirinya memiliki trauma mendalam. Namun, trauma yang tertanam dalam alam bawah sadar tetap memengaruhi tindakan-tindakannya hari ini. Kalaupun kamu tahu punya trauma terkait cara orangtua mengasuhmu, barangkali tidak dengan memahaminya.

Dirimu hanya berputar-putar di pertanyaan kenapa orangtua melakukan itu? Kenapa juga kamu menjadi begini? Bahkan orang yang mempelajari ilmu psikologi di bangku kuliah dan kebetulan memiliki trauma dalam hidupnya juga mesti menganalisisnya sedikit demi sedikit. Membongkar apalagi memutus rantai trauma memang gak gampang.

2. Berhenti di perasaan benci tanpa solusi lebih lanjut

seorang perempuan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Brd_ Style)

Rasa trauma hampir selalu menimbulkan kebencian pada penyebabnya. Misal, kamu trauma dengan cara pengasuhan orangtua yang sangat keras. Setiap dirimu melakukan kesalahan sekecil apa pun, hukumannya amat berat.

Seperti kamu tidak diberi makan, dipukul gagang sapu sampai memar-memar, dan sebagainya. Tentu seluruh tindakan itu melukaimu secara fisik maupun psikis. Wajar kalau dirimu menjadi benci baik pada perlakuan yang diterima maupun orangtua sebagai pelakunya.

Akan tetapi, saat perasaanmu terhenti hanya pada kebencian, rantai trauma itu bakal terus berlanjut. Harus ada solusi-solusi untuk membawamu pada hati dan hidup yang lebih damai. Sering kali ini memerlukan bantuan profesional.

Jika dirimu tidak pernah mengonsultasikannya dengan psikolog, kamu cuma selamanya membenci. Padahal, energi kebencian amat negatif. Pun mendorongmu melampiaskan kebencian tersebut ke semua orang. Tidak terkecuali, nantinya dirimu dapat berbuat buruk pada anak sendiri.

3. Maraton sekolah, kuliah, kerja lalu menikah sebelum menyembuhkan diri

seorang perempuan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Arny Bareh)

Generasi Z dan milenial sekarang berada di usia yang cukup untuk menikah. Pertanyaannya, apakah mereka yang mempunyai trauma terkait pengasuhan orangtua di masa lampau telah menyembuhkan diri? Kemungkinan belum.

Kehidupan kalian seperti lari maraton yang gak boleh berhenti barang sebentar buat memulihkan stamina. Sejak anak-anak sampai usia 20 tahunan, dirimu sibuk bersekolah kemudian berkuliah. Lantas berusaha secepatnya bekerja.

Begitu kamu merasa telah mandiri secara finansial dan kebetulan punya pacar lalu bergerak ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, tak lama kemudian kalian mendapat momongan. Rangkaian fase ini dibayangkan saja sudah melelahkan.

Efek trauma pengasuhan di masa kecil baru terlihat jelas setelah dirimu dikaruniai buah hati. Bagi orang dengan trauma mendalam seputar pengasuhan, idealnya memang memulihkan diri dulu baru berumah tangga atau memiliki anak. Agar dirimu sungguh-sungguh membuka lembaran hidup yang baru.

4. Hanya fokus ke dendam masa lalu malah salah asuh ke anak

pria di balkon
ilustrasi pria di balkon (pexels.com/Farhan Sadiq Mahi)

Ini yang paling rumit terkait trauma pengasuhan. Tanpa penanganan yang tuntas dari ahlinya, sering kali traumamu justru menciptakan trauma baru pada anakmu. Energi kemarahanmu pada perlakuan orangtua dapat mendorongmu bersikap agresif ke anak serta pasangan.

Atau, bayang-bayang trauma membuatmu ketakutan sekali pada orangtua yang keras. Kamu lantas berpikir anakmu juga wajib takut padamu. Kamu mengadopsi gaya pengasuhan orangtua dan menciptakan trauma pada anak sendiri.

Bisa pula kebencian terhadap perlakuan orangtua bikin dirimu mengubah total gaya pengasuhan pada anakmu. Kamu dulu salah sedikit dihajar oleh orangtua. Kini anakmu melakukan kesalahan apa pun justru dibiarkan dan perilakunya yang kurang baik menjadi-jadi.

5. Menggantungkan pemulihan pada pasangan dan pernikahan

duduk merenung
ilustrasi duduk merenung (pexels.com/ClickerHappy)

Orang dengan trauma pengasuhan wajib berhati-hati sebelum memutuskan untuk berumah tangga serta mempunyai keturunan. Bukan berarti kamu perlu takut menikah. Dirimu juga berhak menemukan kebahagiaan hidup yang sejati bersama seseorang yang mencintai dan dicintai olehmu.

Namun, bahaya apabila kamu menggantungkan pemulihan diri dari trauma pada pasangan setelah kalian menikah. Besar kemungkinan dirimu hanya akan kecewa. Ini memperberat trauma yang dirasakan.

Kamu bakal habis-habisan menyalahkan pasangan apabila dia gak berhasil memperbaiki kondisi mentalmu. Justru ia didakwa sebagai penyebab ketidakbahagiaanmu. Padahal, kejadian traumatis itu sama sekali tak berkaitan dengan dirinya.

Bahkan terjadi sebelum kalian saling mengenal. Ditambah dengan persoalan rumah tangga jauh lebih kompleks ketimbang saat dirimu lajang. Beban psikismu membesar seiring waktu dan bisa sewaktu-waktu meledak dalam bentuk berbagai tindakan.

6. Jurang emosional dengan orangtua begitu dalam, gak pernah ada diskusi

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/el disculpe)

Orangtua yang sampai bikin anak trauma dengan gaya pengasuhannya biasanya selalu mempertahankan jarak. Berbeda dengan orangtua lain yang merangkul anak dengan kasih sayang. Demikian pula dirimu yang kadung trauma menjaga jarak aman semata-mata untuk melindungi diri.

Ini membuat komunikasi kalian tak pernah lancar. Contoh, orangtua selalu melakukan kekerasan fisik padamu saat kamu masih anak-anak sampai remaja. Setelah dirimu dewasa, orangtua memasuki lanjut usia.

Sikapnya masih keras padamu, tetapi tak lagi sampai memukulmu karena bakal kalah tenaga. Hubungan kalian sekilas tampaknya membaik. Namun, selama diskusi tidak terjalin karena satu sama lain merasa asing secara emosi, rasa trauma bukannya reda malah bisa menguat seiring waktu.

Kamu gak pernah tahu alasan orangtua memperlakukanmu sekasar itu. Orangtua juga tidak memahami perasaanmu selama ini. Tak ada rekonsialisasi di antara kalian.

Memutus rantai trauma memang tidak pernah mudah. Apalagi trauma pengasuhan yang dimulai sejak anak-anak. Setiap kejadian dan rasa pedihnya terekam sangat kuat dalam ingatan. Jangan ragu datang ke layanan konsultasi psikologi supaya masalahmu teratasi hingga ke akarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More