Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 DIY Kompos Mini untuk Pemula, Mudah Dilakukan di Rumah
ilustrasi membuat kompos (pexels.com/Letícia Alvares)

Mengolah sampah organik menjadi kompos kini semakin mudah dilakukan, bahkan bagi penghuni rumah skala kecil atau kos. Dengan memanfaatkan wadah sederhana seperti ember bekas atau kotak plastik berlubang, siapa pun dapat membuat kompos mini sendiri di rumah. Selain membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, kompos juga menghasilkan pupuk alami yang bermanfaat bagi tanaman.

DIY kompos mini menjadi pilihan tepat bagi pemula karena tidak membutuhkan lahan luas maupun peralatan mahal. Dengan sedikit ketelatenan, sampah dapur sehari-hari dapat berubah menjadi media tanam yang subur.

1. Siapkan wadah kompos yang sederhana

ilustrasi membuat kompos (unsplash.com/Conscious Design)

Langkah pertama adalah menyiapkan wadah kompos. Kamu dapat menggunakan ember bekas, kotak plastik bertutup, atau tong kecil yang diberi beberapa lubang di sisi dan bagian bawah sebagai saluran udara serta drainase. Ukuran wadah bisa disesuaikan dengan jumlah sampah organik yang dihasilkan setiap hari.

Tempatkan wadah di lokasi yang teduh dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Jika tinggal di kos atau rumah mungil, wadah kompos dapat diletakkan di balkon, halaman belakang, atau sudut teras yang tidak terkena hujan secara langsung.

"Carilah sistem pengomposan yang cocok untuk rumah kamu dan pelajari apa saja yang dapat diolah," saran pelopor gerakan zero waste sekaligus penulis buku "Zero Waste Home" Bea Johnson kepada Penguin Random House.

2. Kenali bahan hijau dan bahan cokelat

Membuat kompos dari sampah dapur (unsplash.com/Lenka Dzurendova)

Kompos yang baik membutuhkan keseimbangan antara bahan hijau (green materials) dan bahan cokelat (brown materials). Bahan hijau meliputi sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi, dan teh, sedangkan bahan cokelat dapat berupa daun kering, kertas tanpa tinta mengilap, kardus, atau serbuk kayu.

Potong bahan organik menjadi ukuran kecil agar lebih cepat terurai. Hindari memasukkan daging, ikan, produk susu, minyak, atau makanan berlemak karena dapat menimbulkan bau tidak sedap dan mengundang hama.

"Bahan organik (berbasis karbon) meliputi potongan rumput, daun, sisa-sisa pemangkasan halaman dan pohon, serta sisa makanan," dikutip dari laporan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (U.S. Environmental Protection Agency/EPA) tentang "Composting At Home".

"Mikroorganisme memakan bahan-bahan yang ditambahkan ke tumpukan kompos selama proses pengomposan. Mereka menggunakan karbon dan nitrogen untuk tumbuh dan bereproduksi, air untuk mencerna bahan, dan oksigen untuk bernapas," lanjutnya.

3. Jaga kelembapan dan sirkulasi udara

ilustrasi membuat kompos sendiri (freepik.com/freepik)

Salah satu kunci keberhasilan membuat kompos adalah menjaga kelembapan. Kondisi kompos sebaiknya terasa lembap seperti spons yang telah diperas, tidak terlalu basah maupun terlalu kering. Jika terlalu basah, tambahkan daun kering atau sobekan kardus. Sebaliknya, jika terlalu kering, percikkan sedikit air.

Aduk atau balik isi kompos setiap beberapa hari agar oksigen dapat masuk ke dalam tumpukan. Proses ini membantu mikroorganisme bekerja lebih efektif sekaligus mencegah munculnya bau yang tidak sedap.

"Pengomposan adalah penguraian biologis bahan organik secara aerobik (membutuhkan oksigen) yang dikelola oleh mikroorganisme," kutip dalam EPA.

 

4. Hindari kesalahan yang sering dilakukan pemula

Ilustrasi membuat kompos (freepik.com/freepik)

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah memasukkan terlalu banyak sisa makanan basah tanpa diimbangi bahan kering. Akibatnya, kompos menjadi terlalu lembap, berbau, dan proses pembusukan tidak berlangsung secara optimal.

Kesalahan lainnya adalah mengabaikan proses pengadukan atau menggunakan wadah tanpa ventilasi. Padahal, udara sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme pengurai agar dapat bekerja secara maksimal.

"Masukkan 2-3 bagian bahan cokelat (daun gugur, ranting, koran yang disobek, jerami, serpihan kayu, dan kayu yang diparut) dan 1 bagian bahan hijau (sisa sayuran dan buah, ampas kopi, cangkang telur yang dihancurkan, potongan kebun dan rumput, kantong teh tanpa staples) berdasarkan volume, lalu tambahkan air untuk menjaga kelembapan. Jangan lupa untuk membalik tumpukan kompos. Rotasi bulanan adalah aturan praktis yang baik," dikutip dari panduan U.S. Department of Agriculture (USDA) tentang composting.

5. Manfaatkan kompos yang sudah jadi

ilustrasi membuat kompos (pexels.com/Letícia Alvares)

Kompos yang sudah jadi umumnya berwarna cokelat gelap, bertekstur remah, dan memiliki aroma seperti tanah hutan. Pada kondisi ini, sebagian besar bahan organik sudah tidak lagi terlihat sehingga kompos siap dimanfaatkan.

Kompos dapat dicampurkan ke media tanam tanaman hias, sayuran, atau tanaman buah dalam pot. Kandungan bahan organiknya membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan menyimpan air, dan menyediakan unsur hara secara alami.

DIY kompos mini merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja untuk mengurangi sampah organik sekaligus menghasilkan pupuk alami bagi tanaman. Selain bermanfaat bagi tanaman, kebiasaan membuat kompos juga menjadi kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article