ilustrasi rumah dengan banyak bukaan (pexels.com/Firman Marek_Brew)
Nah, mengapa warna soft justru lebih cocok untuk eksterior? Jawabannya berkaitan dengan mood atau kondisi psikologis penghuninya. Nadya Cheirin menjelaskan bagaimana warna sangat berpengaruh pada kondisi emosional atau psikologis seseorang.
Selama ini, ia banyak menemukan fakta bahwa masyarakat sering memilih warna basic seperti butuh untuk cat rumah mereka, baik di dalam maupun luar rumah. Kebanyakan orang tidak terlalu memikirkan sirkulasi, produk, dan warna yang tepat.
"Padahal kalau kita lihat, Scandinavian houses itu udah berani pakai warna-warna yang menyejukkan hati seperti biru muda, hijau muda. Jadi, psikologinya juga bermain di situ," kata Nadya.
Menurutnya, teori warna sangat berperan penting dalam pemilihan warna dinding dan perabotan di rumah. Misalnya, ada empat ruangan. Satu ruangan berwarna gelap dan tiga ruangan berwarna terang juga sangat memengaruhi mood penghuninya.
"Saya selalu menyarankan untuk ruangan itu pakai teori 60-30-10. 60 persen warna dominan, 30 persen warna furnitur, dan 10 persen warna gorden," sambungnya.
Warna merah bisa meningkatkan selera makan. Warna biru dapat memberikan kesan tenang dan membangun rasa percaya.
"Warna-warna terang itu juga membantu kesan ruangan jadi lebih ringan. Jadi, secara visual itu tidak berat," kata Nadya.