Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kesalahan yang Bikin Waktu Habis buat Mencari Barang, Gak Declutter!
ilustrasi desain rumah (pexels.com/Lisa Anna)
  • Muhammad Yusuf Attorik menekankan bahwa merapikan rumah sebaiknya dimulai dari area kecil agar motivasi tidak cepat hilang dan proses beres-beres lebih konsisten.
  • Decluttering penting dilakukan secara rutin untuk memilah barang, menjaga kesehatan, serta membantu orang lain dengan memberikan barang yang sudah tidak terpakai.
  • Alfonsus Kristian dan Ririn Basuki menyoroti pentingnya sistem penyimpanan tetap, kebiasaan mengembalikan barang ke tempatnya, serta membeli barang yang benar-benar fungsional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak merasa kesulitan menata dan menemukan barang-barang di rumah? Kebiasaan meletakkan barang sembarangan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari, loh. Terkadang, hal ini terjadi bukan persoalan barang yang bertambah bayak melainkan barang-barang kecil mulai kehilangan "tempatnya".

Tanpa sadar, sebenarnya ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan hingga menyebabkan kita kesulitan mencari barang di rumah. Ada beberapa kebiasaan buruk yang harus kamu ubah juga demi memiliki hidup yang lebih tertata. Ini dia beberapa kesalahan umum yang bikin waktu habis hanya untuk mencari barang saja.

1. Ingin merapikan semuanya sekaligus

ilustrasi desain rumah (pexels.com/Lisa Anna)

Interior Design Leader IKEA Indonesia, Muhammad Yusuf Attorik, mengatakan bahwa seseorang bisa punya keinginan untuk merapikan rumahnya sekaligus. Justru, keinginan ini adalah kesalahan dalam menata atau membersihkan rumah.

"Jadi kalau misalkan kita lihat rumah berantakan kita langsung goals-nya adalah pengin ngerapiin satu rumah. Kan itu biasanya semangatnya langsung patah ya, akhirnya gak jadi beresin ah besok aja gitu," katanya saat ditemui di IKEA Alam Sutera pada Kamis, (15/4/2026).

Menurutnya, motivasi untuk merapikan seisi rumah sekaligus adalah hal yang salah. Semangat mudah patah hingga akhirnya kita kembali menunda untuk membersihkan rumah. Ia menyebut, membereskan rumah bisa dimulai dari hal yang paling kecil dulu dengan memilih fokus pada satu area dulu.

2. Gak pernah decluttering

ilustrasi decluttering (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Kesalahan kedua adalah membiarkan kebiasaan gak pernah decluttering. Ini adalah kegiatan yang wajib dilakukan setiap orang supaya gak melulu menimbun barang di rumah. Menurut Torik, organizing adalah permasalahan yang gak pernah ada habisnya. Untuk itu, butuh dibiasakan untuk decluttering agar kehidupan bisa menjadi lebih baik.

"Kadang sesuatu yang berantakan itu risikonya cukup banyak. Misalnya, masalah kesehatan juga bisa dikaitkan. Nah, tapi mungkin dari segi selain dari estetika ya, mungkin dari segi-segi lain kesehatan dan keamanan mungkin itu juga menjadi concern juga gitu ketika berantakan terus tadi ada kesandung misalkan paling sering kan gitu atau ada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata gitu kan," kata Torrik.

Torrik menjelaskan, bahwa decluttering merupakan kegiatan mengelompokkan barang-barang sesuai kelompoknya. Lalu, memilah mana yang masih bisa dan gak bisa digunakan lagi.

Ia menambahkan, "Jadi, satu, pengelompokan. Kedua, kita juga harus melihat seberapa sering kita memakai produk-produk itu. Yang ketiga adalah misalkan nih kita sudah mulai decluttering, kita juga bisa membagikannya itu ke orang-orang yang mungkin lebih membutuhkan dan kita jadinya lebih aware bahwa oh ternyata si A atau si orang ini lebih lagi butuh ini nih".

3. Gak ada sistem penyimpanan yang tepat dan tetap

Ilustrasi penyimpanan bawah tempat tidur (unsplash.com/Alex Tyson)

Masalah ketiga adalah kita gak punya sistem penyimpanan yang tetap dan tepat. Sumber kekacauan yang terjadi di pagi hari (morning rush) terkadang disebabkan karena barang-barang yang kecil yang mudah hilang, bukan? Itu terjadi karena gak ada sistem penyimpanan yang baik.

"Masalah barang di rumah itu yang berantakan bukan karena barang yang besar ataupun kecil. Tapi mereka belum punya tempat yang jelas untuk penyimpanannya," ujar Alfonsus Kristian, Business Leader IKEA Indonesia.

Maka dari itu, kamu bisa menerapkan konsep "rumah untuk barang". Dengan kata lain, setiap barang haru punya 'rumah' atau tempat penyimpanannya masing-masing. Ini juga bisa membentuk kebiasaanmu untuk lebih disiplin dan berpikir dua kali saat mengambil atau meletakkan suatu barang.

4. Gak terbiasa mengembalikan barang pada tempatnya

ilustrasi menyimpan barang sementara atau mengeluarkan barang saat dibutuhkan (pexels.com/Blue Bird)

Kesalahan yang paling sering menyebabkan barang hilang dan rumah sulit rapi adalah kebiasaan tidak mengembalikan barang pada tempatnya. Coba refleksikan, apakah kamu juga mengalami hal serupa? Bisa jadi masalahnya bukan karena kebanyakan barang melainkan kamu yang tidak mengembalikan barang pada tempatnya.

"Asalkan barang-barang kecil itu punya rumah, pastinya kita akan terbiasa untuk mengambil dan juga menaruhnya kembali gitu. Jadi kita pun juga tahu di mana kita bisa mencari barang-barang kecil itu," kata Alfonsus.

Sementara itu, Torrik mengatakan, "Banyak orang merasa rumahnya selalu berantakan, padahal sudah sering dirapikan. Biasanya bukan karena ruangnya kurang atau barangnya terlalu banyak, tapi karena sistem penyimpanannya belum benar-benar cocok untuk mereka".

Coba sediakan tempat yang jelas. Misalnya, beberapa tray atau kotak penyimpanan di tempat-tempat yang sering kamu kunjungi, seperti meja rias atau area dekat pintu masuk. Ini akan membantumu menanamkan kebiasaan yang akhirnya menjadi rutinitas.

Kamu juga bisa memakai kotak penyimpanan dengan kategori tertentu. Ketika kamu punya sistem yang tepat, hal itu bukanlah tantangan melainkan aktivitas yang terjadi secara alami dan akan memudahkan kehidupanmu.


5. Banyak barang yang sifatnya gak fungsional

Ilustrasi dekorasi rumah terbuka (pexels.com/Jack Davis)

Terakhir, sebelum membeli suatu barang, cek dulu apakah barang tersebut fungsional. Jangan impulsif membeli suatu barang hanya karena murah, tampak cantik, atau menggemaskan. Kamu juga harus realistis dengan memikirkan apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak.

Menurut Alfonsus, produk kecil seperti box, tray, trolley, atau organiser bukan sekadar tempat penyimpanan, tapi membantu membentuk kebiasaan. Perannya besar untuk menata barang-barangmu di rumah dari yang kecil hingga besar.

"Kita jangan mengikuti maunya rumah, tapi rumah yang harus menunjang kebutuhan kita. Kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa menata rumah cukup dimulai dari hal sederhana yang membuat setiap barang punya tempatnya, sehingga hidup sehari-hari terasa lebih ringan," tutup Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia.

Editorial Team