Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Penerapan Loud Budgeting saat Membeli dan Merenovasi Rumah

Penerapan Loud Budgeting saat Membeli dan Merenovasi Rumah
ilustrasi kunci rumah (pexels.com/Jakub Zerdzicki)
Intinya Sih
  • Loud budgeting menekankan keberanian menyampaikan batas kemampuan finansial secara terbuka agar pengeluaran, terutama saat membeli atau merenovasi rumah, tetap sesuai bujet dan tidak berlebihan.
  • Penerapan utamanya mencakup menetapkan batas dana renovasi, memilih rumah kecil dengan desain standar, serta fokus pada fungsi dan keamanan dibanding keindahan semata.
  • Prinsip ini juga mengajarkan untuk tidak mudah mengikuti saran tukang atau tekanan sosial, termasuk dalam memilih cicilan rumah dan penggunaan peralatan listrik mahal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Loud budgeting bukan tindakan berkoar-koar tentang anggaran dan pengelolaan keuanganmu. Namun, dirimu berani mengatakan secara terbuka kemampuan serta prioritas finansialmu pada saat dibutuhkan. Bukan ke sembarang orang.

Topik ini mulai sering dibahas karena tidak sedikit orang yang merasa malu kalau kemampuan keuangannya yang asli diketahui oleh orang lain. Padahal, menutupinya juga tidak selalu baik. Tak jarang sikap berpura-pura mampu soal ekonomi bikin pengeluaran berlipat.

Kamu terlalu sering diminta menjadi donatur acara sampai terpaksa membeli sesuatu yang lebih mahal dari kesanggupanmu. Apalagi ketika dirimu akan membeli atau merenovasi rumah. Tanpa loud budgeting, uang yang dikeluarkan bisa jauh lebih besar dari dana yang disiapkan. Berikut penerapan loud budgeting saat membeli dan merenovasi rumah yang bisa ditiru olehmu.

1. Katakan bujet maksimalmu

renovasi rumah
ilustrasi renovasi rumah (pexels.com/Trần Hồng Công)

Misal, kamu cuma punya uang maksimal 10 juta rupiah untuk merenovasi rumah. Memang ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki. Akan tetapi, hindari bertanya kepada jasa renovasi berapa uang yang dibutuhkan untuk melakukan seluruh perbaikan itu?

Namun, katakan saja bahwa kamu hanya dapat mengeluarkan uang maksimal 10 juta rupiah buat renovasi kali ini. Bagian mana yang dapat diperbaiki dan apa saja material yang bisa dibeli dengan uang segitu? Biarkan tukang yang berpikir tentang alokasinya.

Misal, dirimu ingin membuat tembok keliling. Dana 10 juta tak cukup kalau bahannya bata merah. Namun, anggaran masih memadai apabila menggunakan hebel. Begitu pula ketika kamu membeli atau membangun rumah dari nol. Sampaikan danamu mentok di angka berapa. Syukur harga rumah atau pembangunan masih di bawah bujet. Namun, jangan sampai melebihinya.

2. Jangan malu pilih rumah ukuran kecil dan desain standar

survei rumah
ilustrasi survei rumah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Telah menjadi rahasia umum bahwa harga rumah tidak murah. Tanpa loud budgeting, kemungkinan dirimu mengeluarkan lebih banyak dana tambah gede. Dirimu enggan mengakui bahwa kemampuanmu ialah membeli rumah tipe 30/60, misalnya.

Bukan rumah bertipe lebih besar, seperti 45/80. Demikian juga ketika pihak pengembang memberikan beberapa pilihan desain. Desain standar yang paling sederhana diberi harga paling rendah. Contohnya, bagian halaman belakang masih berupa dapur terbuka.

Sementara desain lainnya, bangunan sudah ditutup penuh sampai belakang. Akan tetapi, ada penambahan biaya hingga 30 juta rupiah. Apabila tambahan sebesar itu memberatkanmu, pilih saja desain pertama. Kelak, pelan-pelan bisa ditambah tembok dan atap sendiri sesuai kemampuan.

3. Fokus di fungsi dan keamanan rumah, bukan memprioritaskan keindahan

renovasi
ilustrasi renovasi (pexels.com/Malú Pérez)

Bukan berarti estetika hunian gak penting. Namun, terpenting ialah memastikan segalanya cukup dulu. Mengejar sisi keindahan rumah tidak akan ada habisnya. Secara naluri, manusia paling suka terus menambahkan ini itu biar rumah tampak lebih keren.

Kalau dananya ada, tentu bukan masalah. Namun, dengan bujet terbatas, fokus dulu pada fungsi serta keamanan rumah. Terpenting, atap tidak bocor, drainase lancar, dan pencuri gak bisa dengan mudah memasuki rumahmu.

Hal terakhir dapat diberi tambahan terali, pagar, dan CCTV. Gak apa-apa untukmu mengatakan bahwa danamu baru cukup buat hal-hal di atas. Belum ada bujet lebih untuk memperindah rumah, seperti memasang kitchen set.

4. Tidak mengiyakan semua saran tukang terkait renovasi

renovasi rumah
ilustrasi renovasi rumah (pexels.com/Trần Hồng Công)

Untukmu yang akan melakukan renovasi rumah, pasti ngobrol dulu dengan tukangnya. Sering kali di sini tukang kasih banyak masukan. Kadang mereka juga terlalu mendorongmu untuk menambah ini itu.

Padahal, selain dananya belum tentu cukup, dirimu boleh jadi punya keinginan berbeda. Misalnya, masih ada area terbuka di belakang. Kamu sepakat dengan tukang soal perlunya penambahan atap serta talang air.

Namun, tukang mendorongmu supaya halaman yang masih berupa tanah dipasangi keramik sekalian. Dirimu kurang suka dengan ide itu. Di samping anggaran renovasimu mepet, kamu pun lebih senang menanaminya dengan rumput.

Baik di depan maupun di belakang rumah ada tamannya. Katakan saja kedua hal tersebut. Tukang yang harus menurut padamu. Bukan sebaliknya, karena dirimu yang menempatinya dan akan mengeluarkan uang.

5. Ambil rumah subsidi atau cicilan rendah meski lama

renovasi rumah
ilustrasi renovasi rumah (pexels.com/Rodolfo Quirós)

Harga rumah memang tidak murah. Akan tetapi, dari sekian banyak pilihan masih bisa dicari yang paling miring. Kamu dapat memilih berdasarkan lokasi, tipe, serta skema pembayaran yang paling pas buat anggaranmu.

Termasuk, ambil rumah subsidi daripada komersial. Jangan malu mengatakan bahwa tabunganmu baru cukup untuk membeli rumah subsidi dengan cicilan panjang. Hindari memaksakan diri mengambil rumah komersial dengan tipe lebih besar kalau cicilan per bulannya melebihi kemampuan.

Bahkan bila sekarang uangmu tampaknya mencukupi buat membayar cicilannya, pikirkan beberapa tahun ke depan. Dirimu barangkali memiliki tambahan tanggungan sementara cicilan masih berjalan. Bahkan bunganya sudah makin tinggi.

6. Rumah tanpa AC dan mesin cuci gak apa-apa lho

memakai kipas angin
ilustrasi memakai kipas angin (pexels.com/MART PRODUCTION)

Sekarang makin banyak rumah yang dipasangi pendingin udara. Bahkan di daerah yang sebenarnya udaranya tidak terlalu panas. Rumah tanpa AC kerap dianggap ketinggalan zaman dan gak nyaman.

Akan tetapi, peralatan elektronik yang satu ini menyedot banyak listrik. Kamu bisa membeli dan memasang AC, tapi bagaimana dengan tagihan listriknya? Begitu pula dengan perangkat-perangkat lain yang makan banyak daya, misalnya mesin cuci.

Tidak apa-apa, lho, kalau di rumahmu cuma mengandalkan jendela atau kipas angin yang dinyalakan sesekali. Bila ada orang yang bertanya atau mendorongmu untuk ikut memasang AC atau membeli mesin cuci, sampaikan saja bahwa dirimu belum siap membayar tagihan listriknya yang bakal berlipat.

Loud budgeting saat membeli dan merenovasi rumah ialah keberanian membangun batasan sejak dini terkait keuangan. Hal ini dilakukan agar kamu tidak mudah terpengaruh untuk mengeluarkan uang lebih banyak dari kemampuan. Sekarang bukan waktunya pura-pura mampu mengeluarkan uang berapa pun, padahal sumber uangmu terbatas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More