“Seiring waktu, sifat abrasifnya meninggalkan bagian yang kusam dan membuat permukaan semakin sulit dibersihkan,” ujar Alicia Sokolowski, president sekaligus co-CEO AspenClean, dikutip dari Martha Stewart.
Produk Pembersih yang Gak Pernah Dipakai Profesional, Ini Alasannya!

- Pembersih abrasif, amonia, klorin, serta bahan asam dapat merusak permukaan tertentu, termasuk stainless steel, kaca, kayu berlapis, marmer, dan granit.
- Kemoceng bulu, spons serbaguna, dan paper towel dinilai kurang efektif karena memindahkan debu, menyimpan bakteri, atau meninggalkan serat; kain mikrofiber lebih disarankan.
- Produk berlilin, berminyak, atau berpewangi kuat bisa meninggalkan residu maupun sekadar menutupi bau; pemutih hanya digunakan sesuai fungsi dan tidak boleh dicampur produk lain.
Membersihkan rumah memang terasa lebih mudah dengan banyak produk pembersih. Namun, produk yang diklaim ampuh dan serbaguna belum tentu menjadi pilihan terbaik karena beberapa justru bisa meninggalkan residu, merusak permukaan, atau menyulitkan proses pembersihan berikutnya.
Ada beberapa jenis produk dan alat pembersih yang sebaiknya gak digunakan sembarangan karena bisa menimbulkan masalah baru. Alasannya beragam, mulai dari tekstur yang terlalu abrasif hingga bahan tertentu yang kurang cocok untuk permukaan atau kebutuhan pembersihan. Berikut produk pembersih yang sebaiknya gak asal kamu gunakan di rumah.
1. Pembersih abrasif berbentuk bubuk

ilustrasi membersihkan rumah (pexels.com/rdne) Pembersih berbentuk bubuk dengan tekstur kasar memang sering digunakan untuk mengatasi noda membandel. Namun, sifat abrasifnya dapat terlalu keras untuk permukaan sensitif, seperti stainless steel, kaca, kayu yang sudah diberi lapisan pelindung, dan keramik. Jika digunakan berulang kali, produk ini bisa membuat permukaan kehilangan kilau dan terlihat kusam.
Soda kue juga perlu digunakan dengan hati-hati meskipun dikenal sebagai bahan pembersih alami. Teksturnya tetap memiliki sifat abrasif sehingga tidak otomatis aman untuk semua material. Sebelum menggunakannya, pastikan permukaan yang ingin dibersihkan memang sesuai dengan rekomendasi perawatannya.
2. Pembersih berbahan amonia atau klorin

ilustrasi semprotan pembersih (unsplash.com/giorgiotrovato) Produk berbahan amonia atau klorin memiliki formula kuat sehingga perlu digunakan dengan hati-hati. Menurut Sokolowski, uapnya dapat terasa menyengat dan meninggalkan bau yang mengganggu, sementara penggunaannya juga membutuhkan tindakan pencegahan tambahan.
“Produk tersebut juga membutuhkan tindakan pencegahan keselamatan tambahan, yang membuat proses membersihkan rumah menjadi lebih lambat,” imbuh Alicia.
Untuk pekerjaan rutin, kamu gak harus selalu memilih produk dengan formula paling kuat. Gunakan produk sesuai kebutuhan dan pastikan mengikuti petunjuk pada label, terutama jika mengandung bahan kimia yang lebih keras. Selain membuat proses pembersihan lebih aman, kebiasaan ini juga membantu menghindari penggunaan bahan kimia secara berlebihan.
3. Kemoceng bulu

ilustrasi membersihkan lampu menggunakan kemoceng (pexels.com/karola-g) Kemoceng bulu memang terlihat praktis untuk membersihkan debu dari sudut ruangan atau bagian rumah yang sulit dijangkau. Sayangnya, alat ini cenderung hanya memindahkan debu alih-alih benar-benar menangkapnya. Debu yang beterbangan kemudian dapat kembali mengendap di furnitur, lantai, atau permukaan lain.
Para ahli menyarankan penggunaan kain mikrofiber sebagai alternatif untuk membersihkan debu. Kain tersebut dapat membantu menangkap debu sehingga kotoran gak sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan begitu, kamu bisa membersihkan permukaan secara lebih efektif tanpa harus mengelap area yang sama berkali-kali.
4. Spons untuk membersihkan secara umum

ilustrasi spons (pexels.com/towfiqubarbhuiya) Spons memang cocok untuk mencuci piring karena teksturnya membantu mengangkat sisa makanan. Namun, spons dapat menyimpan bakteri dan bau sehingga kurang ideal digunakan sebagai alat pembersih serbaguna.
Untuk meja, furnitur, atau permukaan lainnya, kain mikrofiber lebih disarankan karena mudah disanitasi dan efektif menangkap kotoran. Pisahkan kain berdasarkan area penggunaannya agar kotoran gak berpindah antar-ruangan.
5. Semprotan yang mengandung lilin atau minyak

ilustrasi membersihkan rak buku (pexels.com/polinazimmerman) Produk pembersih dengan kandungan lilin atau minyak berat mungkin membuat permukaan terlihat mengilap setelah digunakan. Namun, efek tersebut bisa berasal dari lapisan yang tertinggal di permukaan, bukan karena kotoran benar-benar dibersihkan secara lebih efektif. Residu berminyak juga dapat menarik debu dan membuat permukaan terlihat semakin kusam seiring waktu.
Masalah lainnya, lapisan tersebut bisa membuat proses membersihkan permukaan pada kesempatan berikutnya menjadi lebih sulit. Kamu akhirnya perlu menghilangkan residu terlebih dahulu sebelum bisa membersihkan kotoran yang baru. Karena itu, jangan hanya melihat efek mengilap sesaat saat menentukan produk pembersih yang akan digunakan.
6. Paper towel

ilustrasi membersihkan kaca (pexels.com/karolinagrabowska) Paper towel memang praktis karena bisa langsung dibuang setelah dipakai. Namun, materialnya mudah hancur ketika basah dan dapat meninggalkan serat kecil di permukaan yang sedang dibersihkan. Penggunaan berulang juga menghasilkan lebih banyak sampah dibandingkan kain yang bisa dicuci dan digunakan kembali.
Marla Mock, presiden Molly Maid dari Neighborly, dikutip dari Martha Stewart, mengatakan paper towel kurang efektif menangkap kotoran karena bisa menyebarkannya dan meninggalkan serat di permukaan. Sebagai gantinya, gunakan kain mikrofiber dan bedakan warnanya berdasarkan area untuk mencegah kontaminasi silang.
7. Pembersih dengan pewangi terlalu kuat

ilustrasi produk pembersih (pexels.com/Ellie Burgin) Pembersih dengan aroma yang sangat kuat memang bisa membuat rumah terasa lebih wangi setelah selesai dibersihkan. Namun, aroma tersebut gak selalu berarti sumber bau sudah benar-benar hilang karena pewangi dapat sekadar menutupinya. Produk dengan parfum yang terlalu kuat juga bisa terasa mengganggu bagi orang yang sensitif terhadap aroma.
Sokolowski menyarankan untuk memilih produk dengan pewangi alami atau tanpa pewangi. Pilihan tersebut dinilai lebih nyaman dan lebih baik untuk kualitas udara di dalam ruangan. Jadi, jangan menjadikan aroma semerbak sebagai satu-satunya tanda bahwa rumahmu sudah benar-benar bersih.
8. Pemutih untuk membersihkan secara umum

ilustrasi produk pemutih baju (pexels.com/ianpanelo) Pemutih memang memiliki fungsi penting untuk mendisinfeksi permukaan tertentu. Namun, Marla Mock menjelaskan bahwa pemutih gak dirancang untuk menghilangkan kotoran atau residu dan formulanya yang kuat bisa bersifat keras terhadap furnitur maupun berbagai permukaan. Karena itu, penggunaannya gak perlu dijadikan pilihan otomatis untuk setiap pekerjaan membersihkan rumah.
Hal yang paling penting, jangan pernah mencampurkan pemutih dengan produk pembersih lain, termasuk cuka, amonia, dan alkohol. Menurut Mock, campuran tersebut dapat menghasilkan gas dan asam korosif yang berbahaya bagi kesehatan serta kondisi rumah. Jika memang perlu menggunakan pemutih, ikuti petunjuk pada label dan gunakan sesuai fungsi yang dianjurkan.
9. Produk pembersih asam untuk batu alam

ilustrasi cuka (pexels.com/birgl) Cuka dan air lemon sering dianggap sebagai bahan alami yang praktis untuk membersihkan rumah. Namun, bahan yang bersifat asam tersebut sebaiknya gak digunakan pada batu alam seperti marmer dan granit. Kandungan asam dapat merusak lapisan permukaan batu sehingga membuatnya tergores secara kimiawi atau kehilangan kilau.
Kerusakan pada batu alam akibat bahan asam juga bisa bersifat permanen. Karena itu, jangan menganggap bahan alami otomatis aman digunakan pada semua permukaan di rumah. Selalu perhatikan jenis material dan pilih produk yang memang sesuai dengan kebutuhan perawatannya.
“Produk yang bersifat asam dapat merusak lapisan pada permukaan batu itu sendiri, menyebabkan batu teretsa atau menjadi kusam, yang dapat menimbulkan kerusakan permanen,” jelas Marla.
Memilih produk pembersih bukan cuma soal mana yang paling ampuh mengangkat noda. Pastikan produk yang digunakan sesuai dengan jenis kotoran dan material permukaan agar rumah bersih tanpa menimbulkan masalah baru.




















