Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Menikmati Hobi Membaca Tanpa Bikin Dompet Kering, Bisa!

5 Cara Menikmati Hobi Membaca Tanpa Bikin Dompet Kering, Bisa!
ilustrasi membaca buku (pexels.com/stayhereforu)
  • Memanfaatkan perpustakaan fisik maupun digital seperti iPusnas memungkinkan pembaca mengakses banyak judul tanpa menambah beban belanja buku.
  • Bergabung dengan komunitas untuk saling meminjam buku, serta menjadi pengulas di media sosial atau media massa, dapat membuka akses bacaan lebih hemat.
  • Pengeluaran bisa ditekan dengan menjual kembali buku setelah dibaca dan membeli bertahap, kecuali saat diskon besar, agar anggaran tetap terkendali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Membaca buku penting untuk menambah wawasan. Kalau pengetahuan makin luas, kebijaksanaanmu saat menghadapi apa pun boleh jadi meningkat. Masalahnya, harga buku kerap tidak murah. Apalagi, untukmu yang pendapatannya masih pas-pasan. Nah, supaya kamu masih bisa menyalurkan hobi membaca tanpa terlalu menguras kantong, berikut tipsnya:

  1. 1. Jadi member perpustakaan

    membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Nha van)

    Adanya perpustakaan sangat membantu untuk menekan pengeluaran belanja buku. Koleksi perpustakaan banyak sekali dan biasanya ada tambahan buku baru setidaknya setahun sekali. Kamu dapat terus membaca tanpa pusing memikirkan biayanya.

    Kalau koleksi buku di perpustakaan daerah, sekolah, atau kampusmu terbatas, bisa juga pakai aplikasi iPusnas. Perpustakaan digital ini memungkinkanmu meminjam begitu banyak buku fiksi maupun nonfiksi. Penulisnya juga dari dalam dan luar negeri.

    Meminjam buku di perpustakaan itu kudu sabar menunggu antrean apabila stok yang diinginkan habis dipinjam. Akan tetapi, kamu dapat beralih kepada judul buku lainnya sambil menunggu. Hasrat untuk sesekali membeli buku sendiri pasti ada. Anggarannya bisa dialokasikan buat membeli buku yang benar-benar diimpikan saja. Sisanya meminjam.

  2. 2. Saling pinjam dengan anggota komunitas buku

    membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

    Kamu gabung dengan komunitas buku atau tidak? Aktivitas membaca memang paling enak dilakukan sendiri-sendiri. Konsentrasi tidak terganggu. Akan tetapi, bukunya bisa buat barengan. Apalagi, bila kamu dan teman-teman komunitas tinggal satu kota.

    Sambil mengadakan pertemuan rutin untuk membahas buku, kamu dapat membawa koleksi masing-masing yang telah selesai dibaca. Kamu bisa saling pinjam. Buku yang sudah tuntas dibaca dikembalikan pada pertemuan berikutnya.

    Jika kamu mau pakai cara ini, terpenting mampu menjaga buku kawan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai bukunya hilang atau rusak. Kamu juga mesti adil. Kamu tak boleh hanya meminjam buku teman tanpa gantian meminjamkan bukumu. Kamu juga tidak boleh berhenti total dari membeli buku dan bergantung kepada mereka.

  3. 3. Jadi bookstagram atau reviewer dan kerja sama dengan penerbit serta penulis

    membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/kaboompics.com)

    Mengulas buku kemudian diunggah ke media sosial atau dikirim kepada media massa dalam bentuk artikel bukan kegiatan orang yang kurang kerjaan. Aktivitas seperti ini sangat penting untuk lebih memperkenalkan karya para penulis. Bisa juga supaya semangat literasi di Tanah Air kian tinggi.

    Penerbit dan penulis tentu diuntungkan dengan adanya bookstagram dan peresensi buku di media massa. Kamu dapat menandai akun penerbit dan penulis di Instagram supaya mereka tahu usahamu membantu promosi. Seiring waktu dan banyaknya pengikut, kamu dapat memperoleh kiriman buku baru untuk diulas.

    Begitu pula buat kamu yang menulis review buku untuk media massa cetak maupun online. Kamu bisa menghubungi bagian promosi penerbit dan melampirkan bukti resensi yang dimuat. Beberapa penerbit akan memberikan apresiasi berupa buku. Hemat uang belanja buku baru, deh!

  4. 4. Buku yang sudah selesai dibaca langsung dijual lagi

    membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/YIMING TANG)

    Tentu ada rasa sayang yang kuat. Kamu sudah susah-susah menabung untuk membeli sebuah buku. Kamu juga sangat menyukai isinya. Masa begitu buku selesai dibaca mesti cepat-cepat dijual lagi?

    Rasa sayang melepas koleksi buku kudu disingkirkan agar uangmu bisa diputar buat membeli buku-buku lainnya. Makin cepat buku dilepas kembali juga makin bagus harganya. Jika buku sudah berumur lebih dari setahun sejak pembelian dan bukan buku yang laris manis, pasti harganya jatuh.

    Apalagi, bila kertas buku telah menguning. Harga buku 100 ribu rupiah dapat hanya laku 20 ribu rupiah. Sementara itu, buku yang baru sebulan bahkan seminggu sejak dibeli dijual kembali dengan harga hampir sama dengan ketika kamu membelinya tetap diminati.

  5. 5. Beli satu per satu, jangan borong kecuali diskon besar

    membaca
    ilustrasi membaca (pexels.com/HONG SON)

    Kesukaanmu akan buku sangat mungkin membuatmu ingin membeli semua buku yang menarik. Ada buku baru diluncurkan di media sosial penerbit atau penulis, kamu impulsif langsung membelinya. Ketika dirimu jalan-jalan ke toko atau pameran buku tidak bakal puas cuma membeli 1 atau 2 buku.

    Kamu memborong buku sampai puluhan judul. Ini yang bisa membuatmu boros sekali. Gaji 2 jutaan, sekali belanja buku menghabiskan hampir separuhnya. Kamu perlu menahan dorongan membeli buku sebanyak mungkin.

    Apalagi kalau belum bisa dipastikan semuanya bakal dibaca. Mending beli buku satu per satu atau paling banyak dua judul per bulan. Cara ini menghindarkanmu dari kebiasaan belanja buku yang berujung sia-sia. Kecuali, tentu saja, diskonnya besar sekali seperti momen cuci gudang.

    Walaupun harga buku termasuk tidak murah tetap perlu diprioritaskan masuk ke anggaran belanja rutinmu. Jangan sampai wawasan mandek karena semangat berhemat. Cukup disiasati dengan cara-cara di atas dan kamu bisa membaca buku sampai puas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More