ilustrasi orang berbelanja sedotan stainless (pexels.com/Polina Tankilevitch)
Tren mengurangi sedotan plastik dan menggantinya dengan sedotan stainless steel terus digalakkan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Langkah ini jelas terlihat keren karena mencerminkan kepedulian manusia terhadap kelestarian lingkungan. Namun, kalau kita mengkritisi lebih dalam, tren ini juga kerap dilakukan sebagai fesyen semata. Gak sedikit orang membeli sedotan stainless steel lengkap dengan alat pembersihnya, tetapi hanya sebagai pajangan di media sosial dan jarang sekali digunakan.
Selain dari sisi individu, gimik ini juga kerap diterapkan oleh pelaku industri seperti di kafe, kedai kopi, atau restoran. Dalam praktik greenwashing, banyak pelaku industri mengampanyekan gerakan no straw dan mengganti penggunaan sedotan plastik dengan sedotan kertas atau stainless, tetapi mereka tetap menyajikan minuman menggunakan gelas plastik sekali pakai lengkap dengan tutupnya. Dari kedua kasus itu, alih-alih mengurangi limbah, produksi massal sedotan stainless steel yang minim pemanfaatan dan cuma gimik justru bisa menciptakan jejak karbon baru yang lebih besar dan merusak bumi.
Lantas, apakah tren mengurangi sedotan plastik ini merupakan gaya hidup keren atau sekadar gimik? Jawabannya bergantung pada konsistensi penggunanya. Tren ini menjadi keren dan berdampak nyata jika dijalankan secara konsisten dan sebagai bagian dari perilaku peduli lingkungan. Langkah kecil ini bisa jadi awal yang baik kok untuk melestarikan bumi. Yuk, jaga bumi dan laut kita! Selamat Hari Laut Sedunia, ya!