Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Membaca Sastra di Usia 20-an, Memahami Diri yang sedang Retak

Membaca Sastra di Usia 20-an, Memahami Diri yang sedang Retak
ilustrasi membaca (pexels.com/Anna Tarazevich)
Share Article

26 Juli merupakan tanggal kelahiran Chairil Anwar dan diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Wujud karya sastra lainnya misalnya, cerita pendek dan novel. Meski terdapat Hari Puisi Nasional, sayangnya membaca karya sastra belum menjadi kegemaran apalagi kebutuhan banyak masyarakat Indonesia.

Malah kerap terdengar pertanyaan buat apa membaca sastra sementara mereka bukan mahasiswa jurusan sastra? Bahkan terdapat pandangan bahwa karya sastra tidak berguna. Cuma bikin orang suka berkhayal. Beda dengan buku-buku nonfiksi seperti pengembangan diri, keuangan, politik, dan sebagainya yang lebih aplikatif dalam hidup.

Padahal, semua bacaan baik. Pun membaca karya sastra apalagi sejak usia muda memberikan segudang manfaat. Saat kamu dilanda berbagai kebingungan mengenai diri dan kehidupan di masa dewasa, sastra membantumu memperoleh pencerahan. Simak dan siapkan bacaan sastra pertamamu.

1. Lagi sering gelisah, curhat ke orang belum tentu bikin tenang

membaca
ilustrasi membaca (pexels.com/Chu Chup Hinh)

Usia 20 tahunan kerap diwarnai dengan kegelisahan. Ada banyak hal yang membuatmu tidak bisa berhenti cemas dari hari ke hari. Apalagi setelah lulus kuliah dan mencari atau baru memperoleh pekerjaan.

Hidup terasa jauh lebih berat dibandingkan ketika dirimu hanya perlu pergi ke kampus setiap hari dengan uang saku yang cukup dari orangtua. Tambah gak nyaman apabila kamu sulit mendapatkan pekerjaan, lagi punya masalah percintaan, atau insecure melihat kecepatan perkembangan teman-teman.

Kalian lulus bareng, tapi nasibnya beda jauh. Curhat tidak selalu memberikan efek yang menenangkan. Kalau kamu mencurahkan isi hati ke kawan yang sama-sama galau, pulang-pulang malah perasaanmu kian gak enak. Sementara orang yang lebih dewasa terkesan menyepelekan persoalanmu. Lari ke sastra akan terasa lebih menenangkan.

2. Sastra menawarkan kedalaman dalam keheningan

membaca
ilustrasi membaca (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Rasa nyaman yang diperoleh ketika kamu membaca sastra di tengah berbagai kegelisahan yang dirasakan bukan tanpa alasan. Meski karya sastra seperti puisi hanya terdiri dari beberapa bait dan tiap baitnya berisi kalimat-kalimat pendek, semua kata dipilih dan disusun dengan pemikiran mendalam.

Kamu akan terhanyut untuk ikut merenungkan pesan yang ingin disampaikan oleh penyair. Begitu juga dengan karya sastra lainnya seperti novel atau cerita pendek. Keduanya lebih panjang daripada puisi pada umumnya, tapi tak membuatmu lekas bosan.

Malah rasanya kamu seperti bersemadi. Duduk diam beberapa jam per hari dan lanjut keesokannya untuk mendalami karya sastra tersebut. Tanpa terasa, kecemasan yang belakangan dirasakan pun reda.

3. Karya sastra menyentuh pikiran dan hati dengan lembut meski bahasanya lugas

membaca
ilustrasi membaca (pexels.com/Yazid N)

Di tengah perasaanmu yang kerap tidak menentu, kamu pasti paling malas kalau diceramahi orang. Sekalipun isi nasihatnya benar, dirimu sedang enggan mendengarkan. Tambah banyak suara yang terdengar justru membuatmu tambah pusing.

Beda dengan karya sastra. Di dalamnya juga terdapat berbagai pesan moral. Akan tetapi, kepiawaian penciptanya dalam mengolah kata membuatmu sebagai pembaca tidak merasa tertekan. Perasaan serta pikiranmu tersentuh oleh kata-kata yang gak berisik, tapi sarat makna.

Beberapa karya sastra memang menggunakan bahasa yang sangat lugas sehingga kerap terasa keras. Namun, umumnya juga tidak membuat hatimu yang sedang retak menjadi pecah sekalian. Kata-kata tersebut dipilih hanya untuk memastikan pembaca sungguh-sungguh menangkap pesan yang hendak disampaikan.

4. Membaca karya sastra meluaskan perspektif tentang masalah-masalahmu

membaca
ilustrasi membaca (pexels.com/Nhà văn)

Karya sastra merupakan bacaan yang kaya. Topik apa pun dapat diangkat ke dalam karya sastra. Ragam karya sastra tidak hanya membicarakan gagasan-gagasan yang idealis dan muluk. Banyak puisi maupun cerita yang berangkat dari kisah sehari-hari.

Karya sastra memotret persoalan yang dirasakan banyak orang. Tak terkecuali masalah yang membuatmu sering cemas. Kamu menjadi merasa dipahami, diwakili, serta tak lagi merasa sendirian.

Uniknya, kerja karya sastra tidak berhenti hanya sampai di situ. Penciptanya bukan sekadar memotret fenomena, melainkan juga menyampaikan banyak gagasan tentang hal tersebut. Rasanya dirimu seperti diajak bertukar pikiran oleh penciptanya yang pasti sudah membaca banyak sekali buku dan memiliki pengalaman hidup yang kaya.

5. Muncul dorongan menulis sehingga makin mengenal diri

membaca buku
ilustrasi membaca buku (pexels.com/meomupmofilm)

Tak semua pembaca akan menjadi penulis profesional. Namun, kebanyakan orang yang gemar menikmati karya sastra bakal mencoba menulis setidaknya buat dibaca kembali oleh diri sendiri atau orang terdekat.

Isinya mungkin random karena kamu belum terbiasa menulis. Dirimu juga tidak berencana untuk memublikasikannya. Namun, seacak apa pun tulisan-tulisanmu pasti menggambarkan hal yang tengah dirasakan dan dipikirkan olehmu.

Lantaran kamu baru membaca beberapa karya sastra, caramu menyampaikan kegelisahan dengan kata-kata menjadi sangat jujur dan apa adanya. Ini menjadi aktivitas pelepasan untuk semua ketidaknyamanan yang selama ini dirasakan. Kamu merasa lebih lega serta tenang setelahnya.

Tak ada kata terlalu tua atau muda untuk membaca berbagai karya sastra. Juga gak butuh latar belakang pendidikan sastra karena karya sastra diciptakan untuk semua kalangan. Daripada kamu galau terus dan merasa gak ada orang yang memahamimu coba baca karya sastra apa saja. Kamu akan menemukan keasyikan tersendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More