Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Tren Living Room yang Sudah Ketinggalan Zaman di 2026, Catat!

6 Tren Living Room yang Sudah Ketinggalan Zaman di 2026, Catat!
Ilustrasi living room (pexels.com/Hello Pipcke)
Intinya Sih
  • Desainer interior menilai beberapa tren living room seperti palet warna putih-beige, sofa besar, dan tanaman hias palsu mulai ditinggalkan pada 2026 karena dianggap membosankan dan kurang alami.
  • Tren furnitur serasi dan gaya ultra-minimalis juga mulai pudar, digantikan oleh penataan yang lebih eklektik, berlapis, serta menonjolkan karakter dan kepribadian penghuni rumah.
  • Arah desain living room kini fokus pada kenyamanan, fungsionalitas, serta nuansa hangat yang mencerminkan kehidupan nyata, bukan sekadar tampilan estetika untuk dipamerkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Desain interior selalu berkembang, apa yang terasa baru dan menginspirasi suatu saat bisa terasa tidak relevan lagi. Tren pun cenderung mencerminkan perubahan besar dalam budaya, cara kita hidup, dan bahkan kondisi ekonomi.

Meskipun menjelajahi media sosial dapat memicu inspirasi, banyak tampilan desain interior, salah satunya living room, yang kita lihat sudah mencapai puncaknya. Menurut desainer interior, ada beberapa tren living room yang sudah ketinggalan zaman di 2026. Apa saja? Cek di sini!

1. Palet warna putih dan beige

Ilustrasi living room
Ilustrasi living room (pexels.com/Hammad Dikko)

Tren living room yang sudah ketinggalan zaman di 2026 pertama adalah penggunaan warna putih dan krem. Meskipun paduan warna ini sangat timeless, di tahun 2026 mulai tampak membosankan.

"Tampilan living room yang mewah tetapi terlalu krem ​​dan senada akan kehilangan daya tariknya, karena terlihat datar dan tanpa kehidupan, kurang kontras atau kepribadian," kata Alice Moszczynski, desainer interior yang berbasis di New York, dikutip dari laman The Spruce.

Menurutnya, banyak orang yang saat ini beralih ke palet warna yang lebih ekspresif yang tetap terasa canggih, tetapi juga terasa alami dan manusiawi. Jika ingin tetap memakai warna ini, padukan dengan warna-warna alami yang kaya, seperti cokelat tua, hijau zaitun (olive green), merah karat (rust), dan tanah liat (clay).

2. Sofa berukuran besar

Ilustrasi living room
Ilustrasi living room (pexels.com/Max Vakhtbovych)

Tren sofa untuk living room di tahun 2026 tidak lagi berukuran besar. Sofa-sofa besar ini mulai kehilangan popularitas dan digantikan oleh kelompok tempat duduk yang lebih kecil dan terarah yang mendorong percakapan.

Sofa sectional besar dan empuk yang mendominasi tren di media sosial mulai terasa besar dan kurang elegan, serta terkadang bahkan terlihat berantakan. Ukuran sofa ini terlalu mendominasi ruangan yang lebih kecil dan memprioritaskan ukuran daripada struktur, membuat ruang tamu terlihat berat secara visual.

3. Menampilkan tanaman hias palsu yang terlihat murah

Ilustrasi living room
Ilustrasi living room (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Menurut Libby Baker Speight, pendiri Libby Baker Design Co. di Santa Rosa Beach, Florida, pada tahun 2026, menampilkan tanaman hias palsu yang terlihat murah sudah perlu ditinggalkan.

"Setiap ruangan membutuhkan sedikit kehidupan di dalamnya. Vas bunga atau tanaman hias kecil yang mudah dirawat benar-benar membuat perbedaan. Tanaman palsu sama merepotkannya untuk dibersihkan seperti tanaman asli yang perlu disiram," kata Baker, dikutip dari Southern Living.

Jika kamu tidak dapat merawat tanaman asli tetapi ingin menambahkan nuansa hijau ke ruangan, ada baiknya berinvestasi pada tanaman artifisial berkualitas tinggi, daripada hanya mengumpulkan tanaman palsu yang membuat ruanganmu terlihat 'murahan'.

4. Set furnitur yang serasi

Ilustrasi living room
Ilustrasi living room (pexels.com/Liva Kitchens And Interiors)

Meskipun memilih furnitur dan dekorasi yang saling melengkapi adalah kunci untuk living room yang anggun dan effortless, mencocokkan semuanya secara berlebihan telah membuat ruang ini terlihat ketinggalan zaman. Pada tahun 2026, tren menuju ruangan yang tidak terlalu serasi dan lebih berlapis, serta dirancang dengan sengaja akan terus berlanjut.

"Hal itu membuat ruangan terasa terlalu dibuat-buat dan menghilangkan individualitasnya. Sebagai gantinya, cobalah penataan eklektik dengan mencampur barang-barang vintage dan kontemporer menggabungkan material seperti kayu dan logam, serta menyeimbangkan bentuk yang terstruktur dan lembut," kata Moszczynski.

5. Gaya minimalisme

Ilustrasi living room
Ilustrasi living room (pexels.com/Max Vakhtbovych)

Desain interior ultra-minimalis yang biasanya diaplikasikan pada living room dinilai sudah ketinggalan zaman di 2026.

“Ruang yang terlalu minimalis dan tanpa kepribadian digantikan oleh ruang yang tertata dan terkurasi dengan baik, yang memiliki kedalaman dan karakter,” kata desainer interior Erica Davis, dikutip dari laman Better Homes and Gardens.

Ia berbagi bahwa ruangan yang minim karya seni, buku, pencahayaan berlapis, dan barang-barang pribadi semakin kurang populer. Rumah yang ekspresif dan terasa tertata adalah yang populer di tahun 2026.

6. Desain non-fungsional

Ilustrasi living room
Ilustrasi living room (pexels.com/Alan Antony)

Secara keseluruhan, tren living room yang sudah mulai ditinggalkan adalah yang suasananya menghilangkan kehangatan, kenyamanan, dan kepribadian. Padahal, area ini merupakan ruangan tempat keluarga berkumpul, bersantai, dan bersosialisasi.

"Living room seharusnya bukan sekadar tempat pamer. Meskipun estetika merupakan bagian dari pertimbangan, kenikmatan, dan fungsionalitas harus selalu menjadi faktor utama dalam proses desain," kata Kathy Kuo adalah seorang desainer interior, dikutip dari The Spruce.

Nah, itulah tren living room yang sudah ketinggalan zaman di 2026 menurut sejumlah desainer interior. Semoga bermanfaat dan jadi inspirasi bagi kamu yang ingin mendesain living room di rumah!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More