Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Rekomendasi Buku Politik dan Hukum untuk Bahan Diskusi

4 Rekomendasi Buku Politik dan Hukum untuk Bahan Diskusi
ilustrasi orang berdiskusi tentang buku (pexels.com/Eduard Perez)
  • Artikel merekomendasikan empat buku politik dan hukum yang ringan sebagai pemantik diskusi: Catatan Pinggir, How Democracies Die, Kuasa dan Moral, serta Politik Kuasa Media.
  • Catatan Pinggir memuat esai Goenawan Mohamad tentang politik, ketidakadilan, kekuasaan, dan kemanusiaan dengan bahasa puitis; Kuasa dan Moral membahas etika dalam kekuasaan secara komunikatif.
  • How Democracies Die mengulas kemunduran demokrasi melalui pemilu dan lembaga demokratis, sedangkan Politik Kuasa Media menganalisis propaganda media dalam kepentingan politik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Siapa bilang ngobrolin soal politik dan hukum dalam tongkrongan itu membosankan dan membuat pusing? Isu politik sebenarnya seru lho untuk dijadikan bahan diskusi, selama kamu punya pemantik yang pas. Pemantik diskusi itu beragam, bisa dari fenomena yang ada, isu sosial, maupun buku bertema politik dan hukum.

Ingat, gak semua buku politik dan hukum itu berat. Ada sejumlah buku dengan tema tersebut yang tergolong ringan dan cocok untuk bahan diskusi. Berikut 4 rekomendasi buku politik dan hukum yang bisa membuat tongkronganmu makin seru!

  1. 1. Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad

    ilustrasi orang membaca buku
    ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Helena Lopes)

    Catatan Pinggir atau Caping begitu populer di kalangan pencinta literatur dan isu-isu sosial-politik. Catatan Pinggir pada awalnya merupakan esai yang ditulis oleh Goenawan Mohamad di Majalah Tempo. Selama lebih dari 40 tahun, yakni terhitung dari mulai tahun 1982 hingga tahun 2017, Goenawan Mohamad rutin menulis esai dalam rubrik Catatan Pinggir. Ini berarti tak ada yang pernah menggantikan beliau menulis di rubrik tersebut. Nah, kumpulan tulisan itu lalu dibukukan menjadi beberapa jilid.

    Banyak hal yang dibicarakan Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir, seperti kegelisahannya terhadap realitas politik, ketidakadilan, kekuasaan, dan isu-isu kemanusiaan. Gaya bahasa yang disajikan begitu memikat, puitis, dan mengalir. Kamu dan teman-temanmu bisa asyik bertukar pikiran mengenai isi buku ini tanpa dipusingkan oleh teori politik atau istilah hukum yang kompleks.

  2. 2. How Democracies Die karya Steven Levitsky & Daniel Ziblatt

    cover buku How Democracies Die karya Steven Levitsky & Daniel Ziblatt
    cover buku How Democracies Die karya Steven Levitsky & Daniel Ziblatt (www.amazon.com)

    Buku ini ditulis oleh dua profesor ilmu politik Harvard, yakni Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Meski begitu, kamu gak perlu khawatir kalau mau membacanya dalam bahasa Indonesia, karena sudah ada versi terjemahannya. Sebagaimana judulnya, buku ini berisi penjelasan mendalam terkait apa yang bisa menghancurkan demokrasi di suatu negara.

    Levitsky dan Ziblatt sebagai penulis buku ini telah melakukan penelitian bertahun-tahun terkait demokrasi. Dari penelitiannya itu, mereka beranggapan bahwa kemunduran demokrasi dimulai dari kotak suara, yakni ketika para pemimpin otoriter terpilih secara sah lewat proses Pemilu. Membaca buku ini membuat kamu memahami bahwa penggunaan kekuasaan dan lembaga demokrasi untuk menghancurkan demokrasi secara perlahan adalah pola yang nyata.

    Buku ini asyik dijadikan bahan diskusi saat nongkrong karena menyajikan perspektif baru dalam membedah fenomena politik. Selama ini, yang kita tahu, demokrasi bisa mati karena kudeta, kan?

  3. 3. Kuasa dan Moral karya Frans Magnis-Suseno

    ilustrasi orang membaca buku
    ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

    Frans Magnis-Suseno adalah filsuf sosial sekaligus ahli etika politik. Kuasa dan Moral pertama kali terbit pada tahun 1988. Sebagaimana judulnya, buku ini membahas mengenai pentingnya etika moral dalam suatu kekuasaan yang dituang dalam kumpulan esai pendek. Esai-esai yang disajikan punya gaya bahasa yang komunikatif sehingga mudah dipahami oleh pembaca awam.

    Karya Frans Magnis-Suseno ini cocok dijadikan pemantik diskusi karena isinya ringkas tapi berisi. Kamu dan teman-teman nongkrongmu bisa memilih satu topik dari sejumlah topik yang dibahas di buku ini, kemudian membedahnya bersama sambil menikmati gorengan dan kopi.

  4. 4. Politik Kuasa Media karya Noam Chomsky

    cover buku Politik Kuasa Media karya Noam Chomsky
    cover buku Politik Kuasa Media karya Noam Chomsky (berdikaribook.red)

    Kamu tertarik memahami dunia politik? Kalau iya, Politik Kuasa Media karya Noam Chomsky bisa menjadi referensi bacaan kamu. Buku ini amat tipis, hanya terdiri dari 50 halaman versi terjemahan bahasa Indonesia. Namun, sarat akan makna dan pengetahuan. Penulis buku ini, Noam Chomsky, merupakan pemikir kritis, pakar linguistik, dan pengamat politik. Buku ini berisi tentang analisis bagaimana media bekerja sebagai bagian dari kepentingan politik tertentu.

    Noam Chomsky melalui buku ini mengatakan bahwa para penguasa membangun propaganda melalui media massa untuk menggiring opini publik dan membangun citra. Membaca buku ini dijamin membuka kacamata baru soal permainan politik. Pembahasannya pun relevan dengan era digital sekarang yang mengangkat fenomena framing berita, hoaks, dan social branding lewat media sosial.

    Berdiskusi soal politik maupun hukum gak terbatas pada ruang kuliah maupun debat ya, dalam tongkrongan pun bisa. Nongkrong bisa tetap asyik dengan ngobrol isu-isu terkini. So, buku mana yang mau kamu obrolin lebih dulu di tongkronganmu nanti?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More