Puasa Ramadan sering kali bikin ritme harian berubah, termasuk buat kamu yang punya target menulis. Energi yang terbatas, jadwal ibadah, dan aktivitas lain kadang bikin fokus gampang buyar. Tapi sebenarnya, menulis saat puasa bisa tetap lancar kalau kamu tahu cara mengatur waktu dengan bijak. Time management jadi kunci biar tulisan gak terbengkalai dan ide tetap mengalir. Nah, berikut beberapa trik sederhana yang bisa bikin menulis tetap on track meski sedang berpuasa.
5 Trik Manajemen Waktu Biar Menulis Tetap On Track Saat Puasa

1. Tentukan jam menulis paling produktif
Setiap orang punya jam produktif yang berbeda, apalagi saat puasa. Ada yang lebih fokus setelah sahur, ada juga yang lebih segar menjelang berbuka. Kenali ritme tubuhmu dan pilih waktu terbaik untuk menulis. Dengan begitu, kamu bisa memanfaatkan energi maksimal tanpa harus memaksakan diri di jam lemas. Menulis jadi lebih efektif karena dilakukan di waktu yang tepat.
2. Gunakan teknik podomoro untuk jaga fokus
Menulis panjang tanpa henti sering bikin otak cepat lelah. Coba gunakan teknik Pomodoro: menulis selama 25 menit, lalu istirahat 5 menit. Pola ini bikin fokus lebih terjaga dan ide gak cepat habis. Saat puasa, teknik ini juga membantu menjaga energi karena ada jeda untuk tarik napas. Dengan ritme yang teratur, menulis terasa lebih ringan dan gak bikin burnout.
3. Buat to-do list khusus menulis
Deadline sering bikin panik kalau gak ada perencanaan. Coba bikin to-do list khusus untuk menulis, mulai dari ide, draft, sampai revisi. Dengan daftar yang jelas, kamu bisa tahu apa yang harus dikerjakan hari itu. To-do list juga bikin kamu merasa lebih terarah dan gak kebingungan. Menulis jadi lebih konsisten karena ada panduan yang bisa diikuti.
4. Sisipkan waktu refleksi di tengah menulis
Menulis bukan cuma soal kata-kata, tapi juga tentang makna. Saat puasa, sisipkan waktu refleksi di tengah proses menulis. Bisa dengan membaca doa singkat atau sekadar berhenti untuk merenung. Refleksi ini bikin tulisan lebih bernyawa dan terasa personal. Kamu gak hanya menulis untuk menyelesaikan tugas, tapi juga untuk memperkaya hati.
5. Jangan lupa reward diri setelah menulis
Motivasi menulis bisa lebih kuat kalau ada reward kecil setelah selesai. Misalnya, setelah menulis satu halaman, kamu bisa nonton video pendek atau menikmati camilan saat berbuka. Reward sederhana bikin proses menulis terasa lebih menyenangkan. Saat puasa, hal ini juga jadi cara untuk menjaga semangat tetap hidup. Dengan begitu, menulis gak terasa sebagai beban, tapi jadi bagian dari rutinitas yang menyenangkan.
Menulis saat puasa memang penuh tantangan, tapi bukan berarti gak bisa dijalani dengan lancar. Dengan mengenali jam produktif, menggunakan teknik Pomodoro, membuat to-do list, menyisipkan refleksi, dan memberi reward pada diri sendiri, kamu bisa tetap konsisten menulis. Time management jadi senjata utama biar tulisan gak terbengkalai. Jadi, biarkan Ramadan jadi momen produktif sekaligus penuh makna, bukan penghalang untuk berkarya.