Pernah gak kamu melihat anak yang belum terlalu lancar membaca, tetapi begitu guru mulai membacakan cerita, matanya langsung tertuju ke depan? Mereka mungkin belum mampu memahami semua kata dalam sebuah buku, tetapi bisa mengikuti alur cerita, menebak apa yang terjadi, bahkan tertawa ketika menemukan bagian yang lucu.
Momen sederhana seperti ini sebenarnya punya nilai yang besar dalam perkembangan literasi anak. Bagi anak sekolah dasar, kegiatan tersebut bisa menjadi pengalaman awal untuk mengenal bahwa buku punya cerita, informasi, dan sesuatu yang menarik untuk ditemukan. Sayangnya, kegiatan membaca nyaring kadang dianggap terlalu sederhana untuk dilakukan di kelas.
Guru mungkin merasa waktu pembelajaran lebih baik digunakan untuk menyelesaikan materi atau latihan soal. Padahal, beberapa menit membacakan buku bisa menjadi pintu masuk menuju banyak kemampuan lain. Anak mendengarkan, memperhatikan, membayangkan, bertanya, dan mencoba menghubungkan cerita dengan pengalaman mereka. Kalau dilakukan secara rutin dan menyenangkan, kebiasaan ini bisa membantu membangun hubungan positif antara anak dan buku. Lalu, apa saja manfaatnya?
