Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gen Z mulai Bosan dengan Gaya Hidup Serba Produktif?

Kenapa Gen Z mulai Bosan dengan Gaya Hidup Serba Produktif?
ilustrasi menolak produktif (pexels.com/cottonbro studio)
Share Article

Kesibukan pernah menjadi bagian dari citra anak muda yang dianggap sedang berkembang. Semakin banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan, semakin padat jadwal yang dijalani, dan semakin banyak target yang dikejar, kehidupan seolah terlihat semakin berhasil. Tidak heran jika bekerja setelah jam kantor, mengambil pekerjaan sampingan, mengikuti berbagai kegiatan, sampai terus mengembangkan diri pernah dianggap sebagai hal yang patut dibanggakan.

Namun, cara pandang tersebut mulai berubah ketika kehidupan yang terlalu penuh justru terasa melelahkan. Sebagian Gen Z mulai mempertanyakan kebiasaan mengejar produktivitas tanpa henti dan memilih memberi ruang lebih besar untuk kehidupan di luar pekerjaan. Sebenarnya, kenapa Gen Z mulai bosan dengan gaya hidup serba produktif? Yuk, simak alasannya!

  1. 1. Hustle culture mulai terasa menguras mental dan fisik

    ilustrasi hustle culture
    ilustrasi hustle culture (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

    Hustle culture mendorong seseorang untuk selalu bekerja lebih banyak dan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Waktu setelah bekerja bisa diisi dengan pekerjaan sampingan, sementara akhir pekan digunakan untuk mengejar target lain atau meningkatkan kemampuan diri. Masalahnya, tubuh dan pikiran tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, sehingga kebiasaan terus bekerja tanpa pemulihan yang cukup dapat membuat seseorang mengalami kelelahan berkepanjangan.

    Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi burnout ketika tuntutan pekerjaan berlangsung terus-menerus dan seseorang tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan diri secara memadai. Rasa lelah tidak hanya muncul secara fisik, tetapi juga dapat disertai kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, mudah merasa tertekan, dan munculnya perasaan tidak mampu memenuhi tuntutan yang ada. Ketika bekerja menjadi sumber kelelahan sekaligus kegiatan yang tidak pernah benar-benar selesai, produktivitas justru dapat kehilangan maknanya.

    Persoalannya juga tidak berhenti pada jumlah pekerjaan. Ketika seseorang masih memikirkan urusan kantor setelah jam kerja, membalas pesan pekerjaan pada malam hari, atau merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur. Gen Z yang mulai menyadari dampak tersebut kemudian lebih mempertimbangkan work-life balance, bukan sekadar seberapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam satu hari.

  2. 2. Gen Z mulai mengubah ukuran kesuksesan

    ilustrasi sukses
    ilustrasi sukses (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Perubahan berikutnya terlihat dari cara sebagian Gen Z memandang karier. Bekerja dalam waktu panjang tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa seseorang lebih rajin atau lebih sukses. Hasil pekerjaan mulai dipandang lebih penting daripada sekadar lamanya seseorang berada di kantor, terutama ketika pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif tanpa harus mengorbankan seluruh waktu pribadi.

    Pandangan tersebut juga membuat kesehatan mental mendapat tempat lebih besar dalam menentukan pilihan karier. Jabatan tinggi dan penghasilan besar memang tetap menarik, tetapi keduanya tidak selalu dianggap sepadan jika harus dibayar dengan kelelahan terus-menerus, waktu bersama keluarga yang berkurang, atau kehidupan pribadi yang nyaris tidak tersisa. Bagi sebagian anak muda, memiliki pekerjaan yang cukup baik sekaligus masih bisa menikmati kehidupan justru menjadi gambaran kesuksesan yang lebih masuk akal.

    Perubahan nilai ini turut terlihat dari tren soft life yang banyak dibicarakan di kalangan anak muda. Konsep tersebut bukan berarti tidak mau bekerja atau menghindari tanggung jawab, melainkan keinginan untuk menjalani hidup dengan tekanan yang lebih sedikit dan tidak menjadikan kesibukan sebagai ukuran harga diri. Menikmati waktu luang, menjaga kesehatan, melakukan hobi, atau sekadar menjalani hari tanpa terus mengejar target mulai dianggap sebagai bagian yang sah dari kehidupan, bukan sesuatu yang harus dilakukan setelah semua pekerjaan selesai.

  3. 3. Kerja keras tidak selalu sejalan dengan kondisi finansial

    ilustrasi finansial
    ilustrasi finansial (pexels.com/olia danilevich)

    Ada alasan lain yang membuat hustle culture semakin sulit dipertahankan, yaitu realitas ekonomi yang dihadapi anak muda. Bekerja lebih lama atau mengambil pekerjaan tambahan memang dapat meningkatkan pemasukan, tetapi kenaikan penghasilan tersebut belum tentu cukup untuk mengimbangi biaya hidup yang terus meningkat. Harga tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya membuat kerja keras tidak selalu berujung pada kemapanan secepat yang dulu dibayangkan.

    Situasi tersebut membuat sebagian Gen Z mulai menghitung kembali apakah tambahan pekerjaan benar-benar sepadan dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Mengambil pekerjaan sampingan berarti ada waktu istirahat yang berkurang, sementara mengejar posisi lebih tinggi di perusahaan bisa berarti tanggung jawab semakin besar. Jika tambahan penghasilan atau kenaikan jabatan tidak memberikan perubahan berarti terhadap kualitas hidup, keputusan untuk terus mengejar keduanya mulai dipertanyakan.

    Hal ini juga berkaitan dengan munculnya istilah conscious unbossing, yaitu kecenderungan memilih untuk tidak mengejar posisi manajerial ketika promosi justru dipandang membawa beban baru yang tidak diinginkan. Menolak promosi tidak selalu berarti tidak punya ambisi, tetapi bisa menjadi keputusan sadar untuk mempertahankan waktu bersama keluarga, menghindari beban kerja berlebihan, atau menjaga kehidupan pribadi tetap berjalan. Bagi sebagian Gen Z, karier yang baik bukan lagi tentang seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai, melainkan apakah pekerjaan tersebut masih memungkinkan mereka menjalani kehidupan yang mereka inginkan.

    Sikap Gen Z mulai bosan dengan gaya hidup serba produktif tidak muncul karena mereka tiba-tiba kehilangan keinginan untuk bekerja atau mencapai sesuatu. Ada banyak sekali faktor yang membuat mereka semakin sadar bahwa waktu dan tenaga juga memiliki nilai. Karena itu, kehidupan yang lebih seimbang mulai dianggap bukan sebagai lawan dari ambisi, melainkan sebagai cara agar pekerjaan tetap punya tempat tanpa mengambil seluruh ruang dalam kehidupan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More