Kamu tahu betul beratnya perjuangan untuk bisa punya rumah sendiri. Dirimu mungkin sudah berkali-kali menghubungi marketing perumahan dan mengecek lokasi. Namun, uang untuk DP belum juga terkumpul. Atau cicilannya masih kegedean untuk pendapatanmu. Dapat pula sekarang dirimu sudah mulai mencicilnya, tetapi beratnya bukan main-main. Pengeluaran untuk kebutuhan lain mesti diirit-irit biar kredit rumah gak macet. Sementara itu, ada teman atau saudaramu yang enak betul.
Kenapa Orangtua Mau Membelikan Rumah untuk Setiap Anaknya?

- Orangtua khawatir kenaikan harga properti tak sebanding dengan penghasilan anak, sehingga anak sulit memiliki rumah meski bekerja dan menabung bertahun-tahun.
- Sebagian orangtua menyiapkan rumah atau tanah sejak dini saat harga lebih terjangkau, sekaligus mempertimbangkan potensi rumah disewakan bila anak merantau.
- Rumah diberikan untuk mendukung kemandirian anak saat menikah, menghindari tinggal bersama mertua, serta memanfaatkan pengalaman orangtua memilih lokasi, legalitas, dan bangunan.
Dia dibelikan rumah oleh orangtuanya. Gajinya utuh, tak terpotong sama sekali buat biaya pembelian atau pembangunan rumah itu. Dirimu heran, kenapa ada orangtua mau membelikan rumah untuk setiap anaknya sekalipun mereka sendiri sudah atau mendekati pensiun? Keputusan orangtua membelikan rumah untuk setiap anaknya bukan hanya soal seberapa kaya mereka.
1. Takut anak selamanya tidak punya rumah

ilustrasi survei rumah (pexels.com/Pavel Danilyuk) Orangtua tahu betul mengenai ketidakseimbangan antara kenaikan pendapatan dengan harga properti. Bahkan mungkin sekarang anak mau kerja apa saja demi penghasilan yang tidak seberapa. Uang segitu buat sekadar hidup dan sedikit menabung memang masih bisa.
Namun, berat sekali kalau anak hendak membeli rumah sendiri. Orangtua telah memakai segala simulasi pembayaran dan tetap yakin penghasilan anak gak cukup buat beli rumah. Baik dalam waktu dekat maupun sampai beberapa tahun mendatang.
Orangtua menjadi khawatir kalau-kalau anaknya tidak akan pernah bisa memiliki rumah pribadi sekalipun yang terkecil. Daripada makin lama menunggu dalam ketidakpastian yang bikin kepikiran, orangtua segera memutuskan. Mereka yang membelikan atau membangunkan rumah buat setiap anak dan menanggung cicilannya selama mereka mampu.
2. Rumah dibeli atau dibangun saat harga masih miring

ilustrasi rumah (pexels.com/Quang Nguyen Vinh) Membeli rumah tidak pernah menjadi keputusan mudah. Apalagi ketika usia orangtua makin menanjak dan mendekati pensiun. Itu sebabnya ada orangtua yang telah memulai misi membelikan rumah buat anak sejak mereka masih cukup muda.
Begitu orangtua sudah memiliki rumah sendiri dan lunas, mereka segera menabung untuk membeli rumah kedua dan seterusnya. Meski saat itu anak masih kecil, rumah kedua tersebut telah diniatkan buatnya.
Mereka bisa mencicil pembelian tanahnya dulu. Anaknya dua, misalnya, masing-masing dibelikan tanah dulu. Setelahnya baru mencicil pembangunan. Mereka juga mengambil perumahan yang murah. Terpenting, akhirnya tabungan cukup untuk memperoleh rumah sesuai jumlah anak.
3. Bila pun gak dihuni bisa disewakan

ilustrasi rumah (pexels.com/Daniel Lee) Membelikan rumah untuk anak tentu bukan urusan gampang bagi orangtua. Selain terkait pembiayaannya, belum tentu kelak anak menempati rumah tersebut. Anak mungkin akan merantau bahkan sejak kuliah.
Lalu ia bekerja di kota yang sama atau di kota yang berbeda lagi, dan rumah yang disediakan buatnya tetap kosong. Namun, orangtua yang bijak tidak melihatnya sebagai kesia-siaan. Rumah tersebut masih dapat disewakan.
Rumah fisik akan tetap diberikan kepada anak. Sementara penghasilan dari sewa rumah dapat masuk ke rekening orangtua, sepenuhnya untuk anak sebagai tambahan pendapatan, atau dibagi dua. Tergantung kesepakatan di antara mereka.
4. Menjaga martabat anak yang akan menikah

ilustrasi pasangan lansia (pexels.com/SHVETS production) Seorang pria ketika akan menikahi seorang perempuan biasanya akan dinilai dari segala aspek. Salah satunya, mengenai kemapanan yang ditandai dengan kepemilikan rumah pribadi. Kalau rumah belum ada, entah hasil beli sendiri atau dibelikan orangtua, restu buat lanjut ke pernikahan bisa sulit didapatkan.
Orangtua gak mau anaknya gagal menikah hanya karena urusan rumah. Demikian pula, anak perempuan dimodali rumah supaya lawan jenis lebih respek padanya. Bukan sembarang pria yang bisa mendekatinya.
Hanya pria-pria selevel dari segi kemapanan yang berani merapat. Bila pun anak perempuan didekati pria yang kemampuan finansialnya di bawahnya, pasti ia punya sesuatu dalam dirinya yang membuatnya percaya diri. Misalnya, kepandaian. Seleksi alam pun bekerja.
5. Mereka tak mau tinggal serumah dengan menantu dan cucu

ilustrasi pasutri lansia (pexels.com/James Ampong Quilario) Orangtua yang sejak awal tidak mau kelak tinggal dengan menantu serta cucu bukan berarti tak menyayangi mereka. Kalau mereka gak sayang sama pasangan anaknya, kenapa diterima sebagai menantu? Namun, mereka menjaga batasan demi kebaikan keluarga anak mereka sendiri.
Pisah rumah menurut mereka adalah keharusan. Untuk mengantisipasi anak dan calon pasangannya yang belum mampu membeli rumah sendiri menjelang pernikahan, orangtua memutuskan untuk membelikannya. Mereka juga yakin cucunya bakal tumbuh serta berkembang lebih baik di rumah yang tetap daripada ikut orangtua pindah-pindah rumah kontrakan, apalagi kos-kosan.
6. Lebih banyak pengalaman dalam memilih rumah untuk jangka panjang

ilustrasi rumah (pexels.com/Pew Nguyen) Kalau hanya sekadar beli rumah, boleh jadi sebagian anak muda juga bisa melakukannya sendiri. Apalagi mereka dapat mengambil tenor yang lebih panjang daripada orangtuanya. Akan tetapi, pengalaman orangtua dalam memilih lokasi serta mencermati konstruksi bangunan lebih banyak. Alasan inilah yang menjadikan sebagian orangtua mau membelikan rumah untuk setiap anaknya.
Berdasarkan pengalaman orangtua selama ini, mereka dapat lebih cepat memperkirakan kawasan yang akan makin berkembang. Orangtua juga lebih berhati-hati dalam menerima berbagai penawaran. Gak seperti anak yang baru pertama kali mencari rumah, gampang tergoda oleh iklan dan iming-iming. Padahal, legalitasnya saja belum jelas atau pengembangnya sering bermasalah.
Membandingkan nasibmu yang mesti berjuang buat beli rumah dengan teman atau saudara yang dibelikan rumah oleh orangtua memang bisa bikin iri. Meskipun begitu, jangan lantas menganggap keputusan orangtua mereka terlalu memanjakan anak. Fisik rumah nyata, nilainya terus naik, dan bisa menghasilkan uang jika disewakan. Daripada nilai setara rumah diberikan dalam bentuk uang malah gampang habis tanpa kejelasan pemakaian.






















