Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AI Bisa Menggantikan Pekerjaan? Kamu Mungkin Perlu Ketahui Hal Ini

AI Bisa Menggantikan Pekerjaan? Kamu Mungkin Perlu Ketahui Hal Ini
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)
Share Article

Perkembangan artificial intelligence (AI) membuat banyak orang mulai bertanya-tanya apakah pekerjaan manusia benar-benar akan hilang. Kemampuan AI generatif untuk menulis, membuat gambar, menganalisis data, menerjemahkan bahasa, membuat kode, hingga membantu pekerjaan administrasi memang berkembang sangat cepat.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan karena sebagian tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam, kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit dengan bantuan AI. Lalu pekerjaan seperti apa yang paling terdampak dan keterampilan apa yang akan semakin dibutuhkan?

1. AI lebih banyak mengubah tugas daripada menghapus pekerjaan

Ilustrasi sibuk bekerja (unsplash.com/Photo by Julio Lopez)
Ilustrasi sibuk bekerja (unsplash.com/Photo by Julio Lopez)

Salah satu fakta penting yang perlu dipahami adalah perbedaan antara pekerjaan dan tugas. Satu pekerjaan biasanya terdiri dari banyak aktivitas. Misalnya, seorang staf administrasi tidak hanya memasukkan data, tetapi juga berkomunikasi dengan rekan kerja, mengecek kesalahan, mengatur dokumen, membuat keputusan, dan menangani masalah yang tidak selalu bisa diprediksi.

AI mungkin dapat mengerjakan beberapa bagian, tetapi belum tentu mampu mengambil alih keseluruhan pekerjaan. Penelitian yang dilakukan International Labour Organization (ILO) dan NASK pada 2025 menemukan bahwa sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan tertentu terhadap AI generatif.

"Hanya sekitar 3,3 persen pekerjaan global yang berada dalam kategori paparan tertinggi," demikian laporan International Labour Organization.

ILO menekankan bahwa karena sebagian besar pekerjaan terdiri tersebut dari tugas yang tetap membutuhkan manusia. Dampak yang paling mungkin terjadi adalah transformasi pekerjaan, bukan penghapusan pekerjaan secara menyeluruh.

“Kami melampaui teori untuk membangun alat yang berlandaskan pada pekerjaan di dunia nyata. Dengan menggabungkan wawasan manusia, tinjauan ahli, dan model AI generatif, kami telah menciptakan metode yang dapat direplikasi yang membantu negara-negara menilai risiko dan merespons dengan tepat,” kata Pawel Gmyrek, peneliti senior ILO dan penulis utama studi tersebut.

Jadi, penelitian tersebut tidak sekadar memperkirakan masa depan berdasarkan teori. Tetapi juga melihat pekerjaan nyata dan tugas-tugas yang ada di dalamnya.

2. Pekerjaan yang paling rentan biasanya memiliki banyak tugas rutin

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

AI cenderung lebih mudah mengambil alih tugas yang memiliki pola jelas, berulang, berbasis data, dan dapat dilakukan secara digital. Contohnya adalah memasukkan data, membuat rangkuman, menyusun laporan standar, mengelompokkan informasi, melakukan pencarian awal, atau membuat draf dokumen.

Semakin terstruktur suatu tugas, semakin besar peluang AI membantu atau bahkan mengotomatiskannya. Kondisi ini terlihat jelas di kawasan ASEAN. Laporan ILO yang diterbitkan Juli 2026 memperkirakan sekitar 21,7 persen pekerja Indonesia berada dalam pekerjaan yang memiliki lebih dari tingkat minimal paparan terhadap GenAI.

"Di antara sembilan negara ASEAN dengan data yang tersedia, Singapura mencatat persentase tertinggi pekerja dengan tingkat paparan GenAI yang lebih dari minimal, yaitu sebesar 42,2 persen dari total lapangan kerja. Diikuti oleh Filipina (28,1 persen) yang sebagian mencerminkan perekonomian negara yang relatif berorientasi pada sektor jasa dan TI; Indonesia (21,7 persen); Vietnam (20,8 persen); dan Thailand (20,6 persen)," demikian laporan ILO.

Namun, paparan tersebut tidak otomatis berarti kehilangan pekerjaan. Dalam laporan International Labour Organization, kemampuan manusia untuk belajar dan beradaptasi menjadi faktor penting agar AI meningkatkan produktivitas, bukan sekadar menghilangkan pekerjaan.

“Peningkatan produktivitas bergantung pada investasi dalam modal manusia dan perlindungan sosial. Pada akhirnya, hasil pasar tenaga kerja di masa depan akan kurang bergantung pada paparan (AI) semata-daripada pada pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, dan lembaga,” kata Ekonom ILO dan penulis utama laporan tersebut, Christian Viegelahn.

3. AI justru bisa membuat pekerja lebih produktif

Ilustrasi sibuk bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
Ilustrasi sibuk bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

Tidak semua penggunaan AI berarti perusahaan ingin mengurangi jumlah karyawan. Dalam banyak kasus, AI digunakan sebagai alat bantu agar seseorang dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan waktu yang sama. Pekerja tetap mengambil keputusan, sedangkan AI membantu mengerjakan bagian yang memakan waktu seperti mencari informasi, membuat draf, menyusun ide, atau merangkum dokumen.

Salah satu penelitian yang dilakukan Erik Brynjolfsson, Danielle Li, dan Lindsey Raymond terhadap 5.179 agen layanan pelanggan menemukan bahwa akses terhadap asisten AI meningkatkan produktivitas rata-rata sebesar 14 persen. Dampaknya bahkan mencapai sekitar 34 persen bagi pekerja pemula dan pekerja dengan keterampilan lebih rendah.

"Akses ke alat tersebut (AI) meningkatkan produktivitas, yang diukur berdasarkan jumlah masalah yang diselesaikan per jam, rata-rata sebesar 14 persen, termasuk peningkatan 34 persen untuk pekerja pemula dan berketerampilan rendah," dikutip dalam National Bureau of Economic Research.

"Kami menemukan bahwa bantuan AI meningkatkan sentimen pelanggan, meningkatkan retensi karyawan, dan dapat mendorong pembelajaran pekerja. Hasil kami menunjukkan bahwa akses ke AI generatif dapat meningkatkan produktivitas," jelasnya.

4. Pekerjaan baru akan muncul, tetapi skill lama tidak selalu cukup

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)

Ketika teknologi mengambil alih sebagian tugas, kebutuhan perusahaan biasanya ikut berubah. Pekerja bukan hanya dituntut bisa menggunakan AI, tetapi juga harus mampu memeriksa hasilnya, memahami konteks, mengoreksi kesalahan, menjaga kualitas, serta menentukan kapan hasil AI layak digunakan.

Oleh karena itu, kemampuan manusia seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pengambilan keputusan tetap memiliki nilai penting. World Economic Forum (WEF) dalam laporan Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa hingga 2030 akan ada sekitar 170 juta pekerjaan baru yang tercipta dan 92 juta pekerjaan yang terdampak displacement akibat berbagai perubahan besar di pasar kerja.

Hasil akhirnya diperkirakan berupa pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. AI dan teknologi informasi termasuk salah satu pendorong utama perubahan tersebut. Data WEF juga menunjukkan bahwa keterampilan teknologi seperti AI, big data, dan cybersecurity akan semakin dibutuhkan, tetapi keterampilan manusia seperti creative thinking, resilience, flexibility, dan agility tetap dianggap penting.

"Keterampilan teknologi di bidang AI, big data, dan keamanan siber diperkirakan akan mengalami pertumbuhan permintaan yang pesat, tetapi keterampilan manusia, seperti pemikiran kreatif, ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan, akan tetap sangat penting. Kombinasi kedua jenis keterampilan ini akan semakin krusial di pasar kerja yang berubah dengan cepat," dikutip dalam laporan tersebut.

5. Yang perlu dilakukan bukan takut pada AI, tetapi belajar menggunakannya

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Perubahan akibat AI sudah berlangsung dan tidak realistis jika seseorang hanya mengandalkan cara kerja lama. Pekerja dapat mulai dengan mengidentifikasi tugas-tugas yang paling sering dikerjakan, kemudian mencari tahu bagian mana yang dapat dibantu AI.

Misalnya, AI dapat digunakan untuk membuat kerangka tulisan, merangkum dokumen, mencari ide, mengolah data awal, atau membantu menyusun agenda kerja. Perkembangan terbaru juga memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap keterampilan baru semakin nyata.

Laporan International Monetary Fund (IMF) pada Januari 2026 menemukan bahwa sekitar satu dari 10 lowongan pekerjaan di negara maju dan satu dari 20 lowongan di negara berkembang sudah mensyaratkan setidaknya satu keterampilan baru. IMF juga menekankan bahwa kemampuan memperbarui keterampilan akan semakin menentukan kemampuan seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan.

"Namun, peran-peran baru juga muncul, seiring dengan menghilangnya peran-peran lainnya. Keterampilan baru, tugas-tugas baru, dan pekerjaan-pekerjaan yang sepenuhnya baru tercipta seiring dengan otomatisasi, menawarkan jalur alternatif menuju kemakmuran," kata Kristalina Georgieva, Managing Director IMF.

Oleh karena itu, strategi yang lebih masuk akal adalah menjadi pekerja yang mampu beradaptasi dengan AI. Bukan berusaha bersaing dengan AI dalam tugas yang memang dapat dikerjakan mesin dengan lebih cepat.

"Bagi para pekerja, menemukan atau mempertahankan pekerjaan akan semakin bergantung pada kemampuan untuk memperbarui keterampilan atau mempelajari keterampilan baru," tambahnya.

Jadi, apakah AI bisa menggantikan pekerjaan? Jawabannya: sebagian pekerjaan dan tugas memang berisiko tergantikan atau berkurang, tetapi bukti terbaru belum menunjukkan bahwa AI akan menghapus pekerjaan manusia secara massal. Karena itu, semakin cepat belajar menggunakan AI secara bijak sambil memperkuat kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah, semakin besar peluangnya untuk tetap relevan di dunia kerja yang terus berubah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More