Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

AI Bisa Ngerjain Tugas, tapi Apakah Bikin Kita Makin Malas?

AI Bisa Ngerjain Tugas, tapi Apakah Bikin Kita Makin Malas?
Ilustrasi mahasiswa ngerjain tugas (pexels.com/George Pak)
Intinya Sih
  • AI mempercepat pekerjaan dan pembelajaran, tapi pengguna tetap perlu berpikir kritis agar hasilnya akurat dan relevan.
  • Ketergantungan berlebihan pada AI dapat menurunkan kemampuan analisis serta berpikir kritis, terutama di kalangan muda.
  • Masa depan menuntut kolaborasi antara kecerdasan manusia dan AI, dengan fokus pada kreativitas, empati, dan kepemimpinan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara banyak orang belajar, bekerja, dan menyelesaikan tugas sehari-hari. Mulai dari membuat rangkuman materi kuliah, menyusun email, mencari ide konten, hingga membantu menulis laporan, AI mampu menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan detik yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.

Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan pertanyaan baru. Jika AI bisa mengerjakan hampir semua hal dengan cepat, apakah manusia akan menjadi lebih malas?

1. AI membuat pekerjaan lebih cepat, bukan selalu lebih mudah

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Khwanchai Phanthong)
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Khwanchai Phanthong)

Salah satu alasan AI begitu populer adalah kemampuannya menghemat waktu. Tugas yang sebelumnya membutuhkan riset panjang, kini dapat diselesaikan dalam beberapa menit. Bagi pekerja dan pelajar, hal ini tentu memberikan keuntungan besar dari sisi efisiensi.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa efisiensi tidak selalu berarti proses berpikir boleh dihilangkan. AI dapat memberikan jawaban, tetapi pengguna tetap perlu memeriksa akurasi, konteks, dan relevansi informasi yang diberikan.

Tanpa kemampuan berpikir kritis, seseorang justru berisiko menerima informasi yang salah. Mengutip Stanford Graduate School of Business, bukti empiris yang semakin banyak menunjukkan bahwa keputusan berisiko tinggi yang dibuat dengan bantuan AI, sering kali tidak lebih baik daripada keputusan yang dibuat tanpa bantuan AI.

“Kita belum memiliki banyak penelitian yang benar-benar serius mempertimbangkan desain antarmuka manusia-AI. Debat kita tentang AI dan kemampuan AI sebenarnya keliru karena semuanya hanya tentang ‘Apakah AI lebih baik daripada manusia?’. Saya pikir seharusnya kita bertanya, ‘Apa saja kegunaan AI yang saling melengkapi?’,” kata peneliti dan profesor madya bidang operasi, informasi, dan teknologi Jann Spiessm dalam laman yang sama.

2. Ketergantungan berlebihan bisa mengurangi kemampuan berpikir

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Psikolog telah lama mengenal fenomena yang disebut cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian tugas berpikir kepada alat bantu seperti kalkulator, GPS, atau teknologi digital lainnya. AI memperluas fenomena ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Ketika seseorang langsung meminta AI menjawab soal, membuat ringkasan, atau mencari solusi tanpa mencoba berpikir terlebih dahulu, otak menjadi lebih jarang berlatih. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kemampuan analisis dan pemecahan masalah.

"Temuan menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara penggunaan alat AI yang sering dan kemampuan berpikir kritis, yang dimediasi oleh peningkatan pelepasan beban kognitif. Peserta yang lebih muda menunjukkan ketergantungan yang lebih tinggi pada alat AI dan skor berpikir kritis yang lebih rendah dibandingkan dengan peserta yang lebih tua," tulis laporan jurnal berjudul "AI Tools in Society: Impacts on Cognitive Offloading and the Future of Critical Thinking" dalam MDPI.

3. AI bisa menjadi alat belajar yang sangat efektif

Ilustrasi mahasiswa diskusi (pexels.com/Photo by Zen Chung)
Ilustrasi mahasiswa diskusi (pexels.com/Photo by Zen Chung)

Di sisi lain, tidak semua penggunaan AI berdampak negatif. Jika digunakan dengan benar, AI justru dapat membantu seseorang memahami materi lebih cepat dan mendalam. Banyak pelajar menggunakan AI untuk meminta penjelasan tambahan, contoh soal, atau simulasi pembelajaran.

Para ahli pendidikan menilai bahwa AI dapat berperan sebagai tutor pribadi yang tersedia kapan saja. Teknologi ini mampu menyesuaikan jawaban berdasarkan kebutuhan pengguna sehingga proses belajar menjadi lebih personal.

"Kolaborasi antara AI dan guru ini tidak hanya meningkatkan pendidikan, tetapi juga menjadi penting untuk mengatasi tantangan kritis, termasuk kelelahan guru dan stres akibat beban kerja yang berlebihan," kata Ketua dan Pendiri Squirrel Ai Learning, Derek Li Haoyang dikutip dari World Economic Forum.

“Teknologi menawarkan prospek akses universal untuk meningkatkan cara-cara pengajaran yang fundamentally baru. Tapi, saya ingin menekankan bahwa banyak AI juga akan mengotomatiskan cara-cara pengajaran yang buruk. Jadi, kita perlu memikirkannya sebagai cara untuk menciptakan jenis pengajaran baru,” tambah dekan sekolah pascasarjana pendidikan Daniel Schwartz dalam Stanford University.

4. Kemalasan bukan disebabkan AI, tetapi cara menggunakannya

Ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Photo by Mikhail Nilov)
Ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Photo by Mikhail Nilov)

Banyak pakar berpendapat bahwa AI sebenarnya bukan penyebab utama kemalasan. Teknologi hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya. Seseorang bisa menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan, lalu memanfaatkan waktu yang tersisa untuk belajar hal baru.

Sebaliknya, ada juga yang menggunakan AI sebagai jalan pintas untuk menghindari proses belajar dan berpikir. Perbedaannya terletak pada kebiasaan pengguna.

"Teknologi memang sangat maju, tetapi manusia tetap memiliki keunggulan. Masalahnya, banyak anak muda belum menyadari potensi ini. Di sinilah, AI dapat menjadi alat untuk membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi mereka," kata diplomat yang bekerja di bidang hubungan manusia Anup Mahajan dikutip dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

“Saya menggunakan AI bukan untuk menggantikan peran saya, tetapi untuk membantu saya menjadi manusia yang lebih baik di tempat kerja, memahami konteks dengan lebih baik, lebih terbuka terhadap perspektif lain, dan lebih siap untuk terlibat dalam dialog,” tambahnya.

5. Masa depan membutuhkan kombinasi AI dan kecerdasan manusia

Ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Photo by Andrea Piacquadio)
Ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Photo by Andrea Piacquadio)

Dunia kerja masa depan diperkirakan akan semakin banyak menggunakan AI dalam berbagai bidang. Karena itu, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi juga memahami kapan harus menggunakan AI dan kapan harus mengandalkan penilaian manusia.

Keterampilan seperti kreativitas, empati, komunikasi, kepemimpinan, dan berpikir kritis masih sulit digantikan oleh mesin. Justru ketika AI mengambil alih pekerjaan rutin, manusia memiliki lebih banyak kesempatan untuk fokus pada kemampuan-kemampuan tersebut.

"Pemikiran analitis tetap menjadi keterampilan inti terpenting bagi perusahaan, dengan tujuh dari 10 perusahaan menganggapnya penting," tulis hasil survey "Future of Jobs Report 2025" World Economic Forum.

"Pemikiran analitis tetap menjadi keterampilan inti yang paling dicari di kalangan perusahaan, dengan tujuh dari 10 perusahaan menganggapnya penting pada tahun 2025. Ini diikuti oleh ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan, bersama dengan kepemimpinan dan pengaruh sosial," tambahnya.

AI memang mampu mengerjakan banyak tugas dengan cepat dan efisien. Namun, teknologi ini tidak otomatis membuat manusia menjadi malas. Yang menentukan adalah cara kita menggunakannya. Jika AI digunakan sebagai alat bantu, bisa meningkatkan produktivitas dan mempercepat proses pembelajaran.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari

Related Articles

See More