Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Algorthm: Warisan Budaya yang Tampil Modern Lewat Siluet Kontemporer

Algorthm: Warisan Budaya yang Tampil Modern Lewat Siluet Kontemporer
Opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8, Senopati, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)
Intinya Sih
  • Wilsen Willim memperkenalkan koleksi Algorithm bersama Dian Sastrowardoyo di ASHTA, Jakarta, dengan mengolah batik dan tenun menjadi siluet kontemporer untuk berbagai kesempatan.
  • Konsep Algorithm terinspirasi dari sistem tenun tradisional sebagai algoritme, serta kenangan Wilsen membuat kincir angin dari buku bergaris yang diterjemahkan menjadi motif batik modern.
  • Terinspirasi karakter Dasiyah, koleksi ini mendorong kebaya dipakai sehari-hari; pengerjaannya melibatkan Bokorokoti, Subeng Klasik, dan POE untuk sepatu, aksesori, serta leather wear.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Hari kemerdekaan akan selalu menjadi momentum berharga bagi seluruh masyarakat Indonesia. Setiap orang berlomba-lomba menyambutnya dengan inovasi dan kreativitas sebagai bentuk penghargaan bagi para pahlawan perjuangan. Salah satu cara untuk menciptakan semangat kemerdekaan adalah dengan melestarikan warisan budaya melalui siluet kontemporer yang tetap sejalan dengan gaya hidup masa kini.

Dalam opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8, Senopati, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026), Wilsen Willim menghadirkan koleksi busana hasil kolaborasi bersama Dian Sastrowardoyo. Melalui koleksi ini, keduanya ingin mengajak masyarakat melestarikan wastra Indonesia, seperti batik dan tenun, dengan menghadirkannya dalam siluet kontemporer yang lebih modern dan dapat dikenakan di berbagai kesempatan. Berikut cerita di balik koleksi "Algorithm"!

1. Filosofi dan cerita di balik koleksi Algorithm

Opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8
Opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8, Senopati, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Wilsen mengungkapkan bahwa untuk menghasilkan koleksi ini ia melewati proses yang terinspirasi dari konsep matematika yang cukup kompleks. Pola tenun lahir dari konsep "algorithm" yang dimaknai sebagai nyanyian dan suara para penenun. Menurutnya, teknik menenun tradisional sebenarnya telah menerapkan sistem algoritme yang jauh lebih maju daripada teknologi komputer pada masanya.

"Tenun itu kan dianggapnya tradisional, tapi sebenarnya penenun itu sudah figured out algoritma dan mereka itu jauh lebih advance dari komputer pada zamannya. Jadi aku mengangkat itu sebagai konsep," ungkapnya.

Selain itu, Wilsen juga menghadirkan motif yang sangat personal, terinspirasi dari kenangan masa kecilnya saat merobek buku tulis bergaris biru-merah untuk dijadikan kincir angin karena tidak memiliki kertas origami. Kenangan tersebut kemudian ia interpretasikan menjadi motif batik modern yang menjadi salah satu ciri khas koleksi Algorithm.

"Ini merupakan cerita pribadi aku, dulu ketika melipat kincir angin tuh aku ingat kita nggak punya luxury untuk pakai origami paper. Jadi aku ingat merobek buku tulis sendiri dengan spesifikasi garisnya biru, lalu ada garis merah. Makanya aku interpret menjadi batik modern," tambahnya.

2. Spesial kolaborasi bersama Dian Sastrowardoyo

Opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8
Opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8, Senopati, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Dalam menciptakan koleksi Algorithm, Wilsen Willim menggandeng Dian Sastrowardoyo. Koleksi kolaborasi ini terinspirasi dari karakter Dasiyah dalam serial Gadis Kretek yang diperankan oleh Dian.

Pada koleksi ini, Wilsen menerjemahkan gaya Dasiyah menjadi potongan yang structured dan well-made sehingga busana dapat dikenakan tidak hanya untuk acara tertentu, tetapi juga dalam berbagai kesempatan. Siluet kontemporer tersebut membuat kebaya dan wastra tampil lebih modern tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Melalui koleksi ini, Dian Sastro memiliki misi untuk mengubah persepsi masyarakat agar kebaya tidak hanya dipakai saat kondangan. Ia ingin kebaya bisa dipakai untuk bekerja maupun aktivitas sehari-hari dengan memadukannya bersama berbagai item fashion modern agar tetap stylish.

"Memang koleksi kita ini sangat terinspirasi sama gayanya Dasiyah, peran aku sebagai Dasiyah. Tapi, juga aku sendiri banyak terinspirasi dari gaya Dasiyah berbusana. Jadi, aku ingin mengajak teman-teman di sini untuk rethink about how we wear kebaya in a daily situation," tutur Dian

3. Proses kreatif dan kerja kolektif di balik koleksi Algorithm

Opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8
Opening event Heritage Reimagined bertajuk Algorithm: Universal Language Installation yang diselenggarakan ASHTA di ASHTA District 8, Senopati, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026) (IDN Times/Fadila N. Aziziyah)

Kolaborasi Algorithm tidak sekadar menghadirkan nama besar, melainkan keterlibatan penuh dari berbagai pihak. Bagi Wilsen, sebuah karya seni tidak dapat diciptakan seorang diri. Oleh karena itu, ia menggandeng sejumlah kolaborator yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing.

"Kalau saya belajar bahwa karya seni yang baik itu tidak dikerjakan sendiri. Semua ada kontribusi banyak orang. Jadi saya mengajak orang-orang yang memang ahli di bidangnya masing-masing," ujar Wilsen.

Selain koleksi busana, Algorithm juga menghadirkan koleksi sepatu, aksesori, dan leather wear. Wilsen bekerja sama dengan Bokorokoti untuk desain sepatu, Subeng Klasik untuk aksesori tradisional, serta POE untuk elemen kerajinan kulit (leather wear).

Melalui perpaduan teknologi, nostalgia, dan budaya populer, Wilsen dan Dian ingin menghadirkan napas baru bagi wastra Indonesia. Harapannya, batik, tenun, dan kebaya dapat terus hidup sebagai identitas yang tampil dalam siluet kontemporer, sekaligus tetap modis dan relevan untuk kehidupan modern.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More