TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Apa itu Hadis? Ini Pengertian dan Tingkatannya

Merupakan sumber hukum Islam yang kedua

ilustrasi membaca Al-Qur'an (pexels.com/Thirdman)

Ada empat sumber ajaran Islam yang disepakati ulama sebagai pedoman hidup sehari-hari, salah satunya adalah hadis. Hadis adalah sumber rujukan umat Islam untuk menerangkan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran.

Allah SWT telah berfirman melalui ayat-ayat Al-Quran agar umat Islam menaati Rasulullah SAW. Karena itu, hadis sebagai sumber hukum yang berasal dari Rasulullah SAW, maka umat Islam sangat dianjurkan menaati isi kandungannya. Lebih lanjut, berikut pengertian, fungsi, hingga tingkatan hadis.

1. Hadis merupakan hal-hal yang datang dari Rasulullah SAW

ilustrasi orang mengaji (unsplash.com/Rumman Amin)

Hadis secara bahasa berarti jadid (baru), qarib (dekat atau belum lama terjadi), dan khabar (sesuatu yang diperbincangkan). Sementara makna hadis menurut syara' adalah segala perbuatan, ucapan, keadaan, dan persetujuan yang berasal dari Rasulullah SAW.

Terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW lalu disandarkan pada Allah SWT dan dinisbahkan kepada-Nya, disebut dengan hadits Qudsi. Nisbahnya yaitu nisbah insya yang dikatakan dengan menyebut, "Allah berfirman".

Sementara hadis yang diriwayatkan lalu disandarkan pada Rasulullah SAW, dikatakan dengan menyebut, "Rasulullah SAW bersabda".

Baca Juga: 7 Perbedaan Al-Qur'an dan Hadits yang Wajib Dipahami

2. Kedudukan hadis

ilustrasi wanita membaca Al-Qur'an (freepik.com/freepik)

Terhadap Al-Quran, hadis berkedudukan sebagai bayani atau penjelas. Hadis memperluas makna hukum-hukum yang termaktub dalam kitab suci umat Islam.

Di sisi lain, terkadang hadis juga menetapkan hukum sendiri di luar ketetapan Allah SWT yang difirmankan melalui ayat-ayat Al-Quran. Dalam hal ini, hadis berkedudukan sebagai dalil yaitu sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Hadis juga melengkapi perbuatan, perkataan, dan taqrir para sabahat dan Tabi'in.

Hadis sebagai dalil sempat menjadi perdebatan sejumlah ulama, sebab Al-Quran yang diturunkan Allah SWT sudah sempurna sebagai petunjuk hidup paling utama. Namun, karena Allah SWT juga memerintahkan untuk mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW, maka hadis memiliki kekuatan untuk ditaati.

Sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Hasyr ayat 7 yang artinya:

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…" (QS. Al-Hasyr: 7).

3. Fungsi hadis

Seorang anak laki-laki yang sedang membaca Alquran (pixabay.com/darwisalwan)

Ulama Atsar menetapkan empat fungsi utama hadis, di antaranya:

1. Bayan at-Taqrir yaitu hadis berfungsi untuk menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam Al Quran.

2. Bayan at-Tafsir yaitu hadis berfungsi untuk memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran yang masih samar. Termasuk menetapkan penentuan khusus ayat-ayat yang masih umum, serta pesyaratan ayat-ayat yang masih mutlak.

3. Bayan at-Tasyri atau bayan za'id ala al kitab al-karim yaitu hadis berfungsi mengeluarkan suatu ajaran atau hukum yang tidak tercantum dalam Al-Quran.

4. Bayan an-Nasakh yaitu hadis sebagai dalil syara' yang dapat menghapuskan ketentuan yang sudah ada sebelumnya, karena adanya dalil selanjutnya.

Baca Juga: Sumpah dalam Islam: Jenis Sumpah, Penjelasan, dan Contoh

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya