"Tapi, saya masuk kampus itu tanpa tes. Itu sebuah kebahagiaan tentu saja bagi seorang anak desa," katanya.
Awal Mula Mendikdasmen Menjadi Pendidik: Ingin Seperti Genteng Kaca

ParagonCorp meluluskan 6.000 pendidik melalui WIT dan ILP 2026, menegaskan komitmen menyiapkan guru serta dosen Indonesia menghadapi era kecerdasan buatan.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menceritakan perjalanan dari desa di Kudus hingga studi lanjut berbeasiswa, terinspirasi menjadi “genteng kaca” yang menerangi lingkungan sekitarnya.
Mu'ti menekankan guru harus mencintai murid dan ilmu, menginspirasi tanpa menggurui, serta memuliakan guru, murid, dan ilmu melalui pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.
Jakarta, IDN Times - ParagonCorp kembali lagi dengan program Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) pada tahun 2026. Sabtu (26/9/2026) lalu, perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) tersebut menggelar graduation WIT dan ILP dalam acara bertajuk Inspiring Educators 2026 di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026).
ParagonCorp menegaskan komitmennya menyiapkan pendidik Indonesia menghadapi era kecerdasan buatan. Sebanyak 6.000 pendidik, terdiri atas 5.000 guru dan 1.000 dosen, lulus dari WIT dan ILP 2026 dalam penutupan program tersebut.
Dalam momen yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti hadir dan memberikan sambutannya. Diawali dengan kisahnya menjadi pendidik, ia juga tiga nilai hidup yang harus dimiliki seorang guru.
1. Dari kota kecil dan kampus yang kurang dikenal, Mu'ti terpacu menjalani pendidikan hingga jadi sarjana pertama di kampungnya

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti dalam acara bertajuk Inspiring Educators 2026 di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Febriyanti Revitasari) Mu'ti memiliki latar belakang Pendidikan Agama Islam IAIN Walisongo Semarang. Walau kampusnya tidak masuk dalam jajaran kampus ternama, Mu'ti patut bangga menjalani pendidikan di sana.
Mengambil konsentrasi IPA semasa sekolah, masuk ke IAIN sebenarnya tidak pernah masuk bayangannya. Padahal, saat itu ia sudah mendapatkan beasiswa tanpa ke sana dan akan tidak diambilnya.
"Kepala sekolah saya mengatakan satu kalimat yang sampai sekarang saya ingat dengan baik. 'Mu'ti, kalau kamu tidak mau masuk ke IAIN, kamu tidak saya akui sebagai murid saya seumur hidup'," kenangnya sambil tertawa.
Lantas, Mu'ti pulang dan mantap mengatakan ingin kuliah di IAIN. Ayahnya mendukung keputusan Mu'ti. Proses perkuliahan Mu'ti berjalan lancar dan dinyatakan lulus. Bahkan, ia diterima sebagai peserta program pembibitan calon dosen sebelum diwisuda.
"Saya sarjana pertama di kampung saya, sebuah desa di Kudus, Jawa Tengah yang sampai saya jadi dosen, belum ada sinyal handphone. Kalau pengin cari sinyal, harus ke sawah dulu supaya dapat sinyal," lanjut dia.
2. Orangtua ingin Mu'ti jadi PNS dan guru, tapi Mu'ti menolak. Ia ingin menjadi seperti 'genteng kaca' bagi sekitarnya

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti dalam acara bertajuk Inspiring Educators 2026 di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Febriyanti Revitasari) Orangtua Mu'ti punya keinginan agar Mu'ti bisa menjadi PNS dan guru selepas kuliah. Namun, Mu'ti menolak. Hal tersebut membuat mereka berdebat semalam suntuk tanpa kesimpulan. Baik Mu'ti dan orangtuanya memiliki prinsip hidup yang berbeda.
"Saya kuliah, kebetulan ada program pembibitan dosen yang banyak dari mahasiswanya itu kuliah di Semarang. Di situ, ia bertemu banyak profesor dari berbagai negara. Saya praktek Bahasa Inggris walau keliru-keliru, percaya diri aja, yang penting dia paham," katanya.
Saat itu, ia bertemu beberapa peserta yang akan kuliah lagi keluar negeri. "Ketika itu, muncul keinginan. Abdul Mu'ti orang kampung itu untuk, bagaimana kalau saya kuliah ke luar negeri ya? Saya terinspirasi dari peserta pembibitan dosen itu. Bagaimana ikut program mereka dan bagaimana bisa kuliah ke luar negeri?" Mu'ti menarasikan pikirannya kala itu.
Lantas, ia menemui dan menemani ibunya memasak di dapur. Ia menegosiasikan keinginannya itu dengan analogi genteng kaca.
"Saya menemani ibu memasak di dapur. Di rumah saya itu, ada genteng kaca karena tidak ada listrik. Saya ingin jadi genteng kaca. Kenapa genteng kaca? Genteng kaca itu hanya satu, tapi menerangi seisi ruangan," jelasnya sembari tersenyum.
Restu sang ibu pun meluncur. Mu'ti kembali mengenyam pendidikan di Flinders University of South Australia di Adelaide dengan beasiswa. Ia meraih gelar Master of Education dari School of Education pada tahun 1997. Ia juga mengikuti Short Course on Governance and Shariah the University of Birmingham UK pada 2005. Puncaknya, gelar Doktor dari Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ikut diraih pada 2008.
Pada akhirnya, Mu'ti tidak menjadi guru. Namun, ia menjadi dosen yang diangkat pemerintah. Ia menjadi gurunya para guru dan menjadi PNS, persis seperti apa yang diharapkan orangtuanya.
"Tapi, itulah kekuatan doa orangtua dan itulah kekuatan doa seorang guru," simpulnya.
3. Tiga nilai hidup yang menurut Abdul Mu'ti harus dimiliki guru

Ilustrasi guru dalam acara bertajuk Inspiring Educators 2026 di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Febriyanti Revitasari) "Menjadi guru itu harus menjadi orang yang cinta murid dan cinta ilmu. Itu kunci. Kalau guru sudah tidak cinta pada murid, hari-hari menjadi hari yang menyiksa," Mu'ti menyebutkan nilai hidup yang pertama. Ia juga menyebut mengajar sebagai misi profetik yang mengubah ketidaktahuan menjadi pemahaman.
Yang kedua adalah mendidik adalah menginspirasi. "Ini sudah jadi teori saya. Teaching is inspiring. Menginspirasi itu tidak harus menggurui," paparnya.
Menginspirasi pun tidak harus dari diri kita, melainkan bisa dari figur-figur yang kita hadirkan sebagai orang yang menginspirasi. Kisah-kisah semacam itu bisa menumbuhkan keyakinan bahwa siapa pun bisa berhasil, terlepas dari apa pun latar belakang keluarganya. Dikatakannya, investasi di bidang pendidikan itu perlu berpuluh-puluh tahun untuk benar-benar terlihat.
Terakhir adalah mendidik yang memuliakan. Pembelajaran mendalam (deep learning) dijalankan dengan memuliakan guru, murid, dan ilmu. Murid adalah rekan belajar, guru turut menjadi pembelajar di kelas. Pembelajaran harus mindful, meaningful, dan joyful.
"Guru adalah juga pembelajar sehingga selama dia mengajar, dia juga harus menjadi murid di kelas itu. Belajar bersama dengan murid-murid yang lainnya sehingga kata kuncinya adalah bukan fasilitator, tapi engagement with the process of learning, terlibat dalam proses belajar. Karena engagement, maka tidak terjadi student active learning, teacher active chatting," tutupnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























.jpg)