Hubungan yang sehat idealnya memberi ruang bagi dua orang untuk menyampaikan kebutuhan, batasan, dan perasaan tanpa tekanan emosional. Namun, komunikasi dalam hubungan gak selalu berjalan seperti itu karena rasa kecewa terkadang disampaikan dengan cara yang membuat pasangan merasa bersalah. Salah satu pola yang dapat muncul adalah guilt tripping, yakni penggunaan rasa bersalah untuk memengaruhi respons atau tindakan orang lain.
Masalahnya, guilt tripping gak selalu hadir melalui ucapan kasar atau pertengkaran besar sehingga bentuknya kerap sulit dikenali. Kalimat yang terdengar sederhana, sikap mendadak dingin, atau kebiasaan mengungkit pengorbanan dapat menciptakan tekanan apabila digunakan untuk memperoleh respons tertentu. Supaya pola komunikasi semacam ini lebih mudah dikenali dan gak terus dianggap sebagai sesuatu yang wajar, yuk pahami beberapa bentuknya berikut ini.
