Memahami perbedaan ketiga istilah ini penting agar tidak sembarangan melabeli perilaku seseorang. Sebab, setiap istilah mewakili bentuk manipulasi emosi yang berbeda. Yuk, kenali perbedaannya!
Mengenal Bedanya Gaslighting, Playing Victim, dan Guilt Tripping

- Gaslighting, playing victim, dan guilt tripping adalah tiga bentuk manipulasi emosi berbeda yang sering muncul dalam hubungan tidak sehat di media sosial.
- Gaslighting membuat korban meragukan persepsi diri, playing victim menempatkan diri sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab, sedangkan guilt tripping memanfaatkan rasa bersalah demi kepentingan pelaku.
- Memahami perbedaan ketiganya membantu seseorang mengenali manipulasi emosional serta merespons dengan tenang, menetapkan batasan, dan tetap percaya pada fakta yang diketahui.
Istilah seperti gaslighting, playing victim, hingga guilt tripping sering ditemui di media sosial untuk menggambarkan perilaku seseorang. Ketiga istilah tersebut kerap digunakan saat membahas hubungan yang tidak sehat atau tindakan manipulatif. Namun, masih banyak orang yang menganggap ketiganya memiliki arti yang sama, padahal masing-masing memiliki makna yang berbeda.
1. Apa itu gaslighting, playing victim, dan guilt tripping?

Gaslighting
Gaslighting merupakan bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mempertanyakan ingatan, perasaan, atau persepsi terhadap suatu kejadian. Pelaku sering kali menyangkal fakta, memutarbalikkan keadaan, atau membuat korban merasa bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakannya tidak benar.
Dilansir Time, Elisa Martinez, psikoterapis yang berbasis di California, mengatakan, "Tujuan gaslighting sebenarnya adalah untuk menimbulkan kebingungan dan memunculkan keraguan." Akibatnya perilaku gaslighting, korban dapat mulai meragukan dirinya sendiri dan bergantung pada sudut pandang pelaku.
Playing victim
Playing victim merupakan perilaku ketika seseorang terus-menerus memosisikan dirinya sebagai korban, meskipun ia juga memiliki peran dalam suatu permasalahan. Sikap ini sering dilakukan untuk menghindari tanggung jawab, memperoleh simpati, atau mengalihkan perhatian dari kesalahan yang telah diperbuat.
Guilt tripping
Guilt tripping adalah bentuk manipulasi emosi yang dilakukan dengan membuat orang lain merasa bersalah agar mengikuti keinginan pelaku. Rasa bersalah dimanfaatkan sebagai alat untuk memengaruhi keputusan atau perilaku seseorang. Dilansir pyschcentral.com, Liza Gold, pekerja sosial sekaligus Pendiri dan Direktur Gold Therapy NYC, menjelaskan, "Guilt tripping merupakan bentuk dari manipulasi emosional yang dilakukan secara sengaja untuk memunculkan rasa bersalah pada orang lain."
2. Perbedaan ketiga istilah

Gaslighting merupakan bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri terhadap suatu kejadian.
Contohnya:
"Itu cuma ada di pikiranmu."
"Kamu salah ingat."
"Aku gak pernah melakukan itu."
Akibatnya, korban dapat mulai merasa bahwa dirinya memang salah atau terlalu berlebihan dalam menanggapi suatu situasi.
Sementara itu, playing victim adalah perilaku ketika seseorang terus-menerus menempatkan dirinya sebagai korban, meskipun ia ikut berkontribusi terhadap masalah yang terjadi.
Contohnya:
Menolak mengakui kesalahan.=
Mengalihkan pembicaraan seolah-olah dirinya yang paling tersakiti
Mencari simpati agar orang lain membelanya
Berbeda lagi dengan guilt tripping, yaitu upaya membuat orang lain merasa bersalah agar bersedia melakukan sesuatu sesuai keinginan pelaku.
Contohnya:
"Kalau kamu sayang sama aku, kamu pasti mau melakukan ini."
"Setelah semua pengorbanan yang aku lakukan buat kamu..."
Tujuannya bukan untuk mencari solusi, melainkan memanfaatkan rasa bersalah orang lain agar keinginannya terpenuhi.
3. Cara merespons

Saat menghadapi seseorang yang melakukan gaslighting, cobalah tetap tenang dan percaya pada fakta yang kamu ketahui. Kamu dapat menyampaikan bahwa setiap orang mungkin memiliki sudut pandang atau ingatan yang berbeda, kemudian jelaskan apa yang benar-benar kamu alami tanpa terpancing emosi. Dengan begitu, percakapan dapat tetap berjalan tanpa harus meragukan diri sendiri.
Jika berhadapan dengan seseorang yang playing victim, usahakan untuk tetap tenang dan tidak terbawa suasana emosional yang diciptakannya. Kamu dapat mengakui bahwa ia memiliki perasaan tertentu tanpa harus membenarkan tuduhan atau mengabaikan fakta yang sebenarnya terjadi. Menetapkan batasan yang jelas juga penting agar kamu tidak terus-menerus terjebak dalam pola yang sama.
Sementara itu, saat menghadapi guilt tripping, cobalah mengevaluasi terlebih dahulu apakah rasa bersalah yang muncul memang berasal dari kesalahanmu atau justru karena sedang dimanipulasi. Dilansir Business Insider, Hui Ting Kok, konselor kesehatan berlisensi, menyarankan agar seseorang memeriksa kembali apakah rasa bersalah yang dirasakan memang beralasan atau muncul akibat manipulasi dari orang lain.
Ketiga istilah di atas sama-sama berkaitan dengan manipulasi emosi, tetapi memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Memahami perbedaannya dapat membantu kita menggunakan istilah tersebut secara lebih tepat, sekaligus mengenali perilaku yang kurang sehat dalam sebuah hubungan maupun kehidupan sehari-hari.





















