5 Buku Fiksi dan Nonfiksi untuk Tumbuhkan Kesadaran Kelas

- Artikel menyoroti fenomena pemujaan terhadap orang kaya dan terkenal yang berakar dari kurangnya kesadaran kelas di masyarakat modern.
- Lima buku fiksi dan nonfiksi direkomendasikan untuk memahami ketimpangan sosial, kapitalisme, serta proses gentrifikasi yang memengaruhi kehidupan kelas pekerja.
- Karya-karya seperti The Grapes of Wrath hingga Pedagogy of the Oppressed mengajak pembaca merefleksikan struktur sosial dan pentingnya membangun kesadaran kelas.
Ada fenomena yang cukup ngeselin di masyarakat, yakni pemujaan tak berdasar kepada orang kaya dan terkenal. Mungkin konsep parasosial bisa dipakai di sini, yakni bermula dari kebiasaan kita mengonsumsi kehidupan personal sosok-sosok itu lewat media sosial hingga kita merasa dekat dengan mereka. Walaupun itu hanya ilusi, tentunya mereka tak pula peduli dengan eksistensi kita.
Namun, kalau mau diulik lebih jauh lagi. Fenomena ini mungkin bisa ditarik dari absennya kesadaran kelas, yakni pengetahuan yang cukup soal divisi kelas dalam masyarakat yang ditentukan oleh status ekonomi dan pengaruhnya terhadap sistem atau struktur yang berlaku. Ketiadaan kesadaran kelas ini bikin orang percaya kalau akses terhadap sumber daya itu sudah merata, padahal tidak.
Biar melek, boleh coba baca lima buku fiksi dan nonfiksi berikut. Siapa tahu akan membuka wawasan barumu, nih!
1. The Grapes of Wrath (John Steinbeck)

Sebagai pembuka, kamu bisa mencoba membaca novel legendarisnya John Steinbeck yang berjudul The Grapes of Wrath. Novel ini berlatar di Amerika Serikat pada era Great Depression yang juga menandai meluasnya ideologi kapitalisme di negeri itu.
Novel berorbit pada sebuah keluarga yang mau tak mau harus meninggalkan lahan dan rumah mereka karena kekeringan hebat. Mereka menuju California yang katanya lebih subur dan menjanjikan. Namun, di sana mereka masih harus melalui cobaan berat. Banyak lahan yang sudah diprivatisasi dan orang-orang bermodal minim terpaksa bekerja serabutan.
2. The Ragged Trousered Philanthropists (Robert Tressell)

Kamu akan diajak mengulik ketimpangan kelas di Inggris lewat buku The Ragged Trousered Philanthropists. Lakonnya Frank Owen, pekerja konstruksi yang gajinya selama bertahun-tahun stagnan, sementara biaya kebutuhan semakin mencekik.
Di sisi lain, para pemberi kerja makin kaya dan nyaman hidupnya. Lewat buku ini, kamu bakal dibuat kesal melihat tak berdayanya para pekerja kelas bawah yang seolah menerima divisi kelas sosial itu sebagai sebuah sistem alamiah. Buku ini sering dikategorikan sebagai semi-biografi karena berbagai kemiripan dengan pengalaman pribadi Tressell.
3. The Death and Life of Gentrification (Japonica Brown-Saracino)

Lanjutkan ikhtiar sadar kelasmu dengan membaca buku The Death and Life of Gentrification: A New Map of a Persistent Idea. Ditulis oleh seorang sosiolog, buku ini mengupas proses gentrifikasi dalam berbagai aspek kehidupan. Ia mengambil beberapa contoh, salah satunya adalah transformasi ruang hidup (pemukiman) pekerja kelas bawah di Inggris pada 1960-an menjadi perumahan kelompok elite.
Tak terbatas di situ, hal-hal yang dulu identik dengan kelas bawah perlahan juga mengalami gentrifikasi, dikomodifikasi atau dikomersialisasi ketika kelas atas melihatnya sebagai potensi. Analisanya bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena gentrifikasi olahraga seperti Hyrox dan padel.
4. The Origin of Capitalism (Ellen Meiksins Wood)

The Origin of Capitalism adalah usaha Ellen M. Wood untuk memahami awal mula kemunculan kapitalisme. Menurut temuan-temuannya, kapitalisme bukan sebuah proses alamiah yang berakar dari keserakahan manusia saat melihat peluang. Sebaliknya, ia menemukan beberapa fenomena dan keputusan sekelompok manusia yang menciptakan dan melanggengkan sistem ini.
Dimulai dengan privatisasi lahan, dilanjutkan dengan pemisahan antara politik dan ekonomi yang ternyata membawa kepelikan baru bernama ketergantungan terhadap pasar. Buku ini memang memakai banyak contoh sejarah, tetapi relevansinya kuat dan mau tak mau mendorongmu untuk melakukan refleksi atas hidup kita yang juga tergantung kepada pasar sampai-sampai harus selalu produktif dan kompetitif hanya untuk bikin pemilik modal semakin kaya.
5. Pedagogy of the Opressed (Paulo Freire)

Meski awalnya membahas pendidikan ideal untuk kaum marginal, buku ini berisi konsep universal yang menjelaskan mengapa divisi kelas bisa terbentuk, langgeng, dan dianggap normal. Freire mengupas bagaimana kelas atas yang diuntungkan oleh ketidakadilan berusaha untuk mempertahankan status quo. Cara-caranya cukup familier, seperti memastikan kelas bawah selalu merasa inferior, memberikan ilusi bahwa keadilan akses itu nyata, mempertahankan konflik horizontal, dan lain sebagainya.
Sebagian dari lima buku tadi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lho. Waktu yang tepat untuk mencerdaskan diri, nih!










![[QUIZ] Dari Kebiasaanmu Sehari-hari, Kami Tebak Nilai Hidup Norwegia yang Paling Cocok untukmu](https://image.idntimes.com/post/20260107/woman-happy-20_40ba6f9e-0397-4425-9765-d08c2634ce66.jpg)











