6 Buku tentang Lahan dan Kolonialisme sebagai Lanjutan Pesta Babi

- Artikel ini mengaitkan film Pesta Babi (2026) dengan pentingnya memahami kolonialisme dan dekolonisasi melalui enam buku bertema lahan, eksploitasi, serta ketimpangan sosial.
- Keenam buku tersebut menyoroti berbagai bentuk kolonialisme lama dan baru, mulai dari perampasan lahan di Afrika hingga konflik tambang di Indonesia dan warisan penjajahan di Amerika Latin.
- Melalui bacaan fiksi dan nonfiksi ini, pembaca diajak menyadari dampak sistemik kolonialisme terhadap masyarakat lokal serta pentingnya memperjuangkan keadilan sosial dan lingkungan.
Masih belum bisa berhenti memikirkan film Pesta Babi (2026)? Ini memang momen yang tepat untuk menggaungkan pentingnya dekolonisasi. Sebelumnya, tentu kamu harus memahami kembali apa yang dimaksud dengan penjajahan (kolonialisme). Bukan sekadar pendudukan, tetapi ada perampasan dan penyimpangan sistemik yang dipelihara.
Kita sepakat kalau pelajaran soal sejarah kolonialisme masa sekolah memang belum komplet. Apalagi dekolonisasi, hampir tak tersentuh dan didiskusikan. Bolehlah sebagai ikhtiar memperkaya ilmu, kamu lirik keenam buku tentang lahan dan kolonialisme berikut. Fiksi dan nonfiksi sama-sama membuka mata, kok.
1. Land Grabbing: Journeys in the New Colonialism (Stefano Liberti)

Dalam buku ini, Stefano Liberti menyoroti bentuk kolonialisme baru di dunia, terutama lewat beberapa kasus berkedok investasi global. Salah satu pengamatannya berlatar sebuah perkebunan milik perusahaan Belanda di Ethiopia. Ia juga bakal mengajak kita ikut dalam sebuah konferensi internasional yang ternyata dijadikan ajang lelang lahan antara negara-negara dunia ketiga dengan negara yang sedang gencar menanam modal macam Arab Saudi.
2. Bukan Timah Hitam: Petani Dairi Melawan Tambang (Yayasan Diakonia Pelangi Kasih)

Konflik antara korporasi dengan warga lokal memang bukan kasus langka. Di Indonesia, isu ini sudah sering digaungkan dan beberapa viral, meski pada akhirnya kebijakan pro-rakyat masih jadi angan-angan. Dalam buku ini, kamu akan diajak pergi menyelami perjuangan masyarakat Kabupaten Dairi, Sumatra Utara yang ruang hidupnya rusak karena keserakahan perusahaan tambang timah dan seng PT DPM. Mirip dengan apa yang terjadi pada tokoh-tokoh di film Pesta Babi (2026).
3. How Europe Underdeveloped Africa (Walter Rodney)

Sejarawan beraliran sosialis, Walter Rodney, mencoba mengupas apa yang sebenarnya terjadi selama periode penjajahan Eropa di Afrika dalam buku How Europe Underdeveloped Africa. Saat membalik halaman demi halaman, Rodney akan menyuguhkan bukti yang memperkuat argumennya bahwa berbagai isu sosial, politik, dan ekonomi di Afrika bukanlah sebuah proses alamiah. Ada andil penjajah Eropa di dalamnya, sebuah desain besar yang berhasil.
4. A Grain of Wheat (Ngũgĩ wa Thiong'o)

A Grain of Wheat adalah novel klasik dari Kenya yang mengulik kehidupan beberapa tokoh fiktif menjelang kemerdekaan Kenya dari koloni Inggris. Trauma kolektif yang mereka rasakan memang tak kentara, tetapi perlahan menghantui dan mengacak-acak relasi personal masing-masing. Apa yang dibahas Walter Rodney bisa pula kamu temukan di buku ini, termasuk penyaplokan dan alih fungsi lahan secara sepihak yang dampaknya bagi warlok tak main-main.
5. Crooked Plow (Itamar Vieira Junior)

Meski fiksi, novel Crooked Plow berhasil memotre legasi menyedihkan dari kolonialisme di Brasil. Lewat dua saudara kembar yang lahir di tengah kemiskinan struktural, kita perlahan menyingkap sejarah kelam perdagangan budak trans-Atlantik dan privatisasi lahan yang tak pernah adil. Pemilihan lakonnya juga menarik, memungkinkan sang penulis mengekspos opresi ganda yang menimpa perempuan miskin.
6. 32 Tahun Menjarah Alam (A.S. Rimbawana, Dihan Amiluhur, Putro Wasista)

Buku 32 Tahun Menjarah Alam adalah kajian kebijakan politik Orde Baru yang ternyata masih memakai gaya kolonialisme. Yakni ekstraksi dan eksploitasi alam besar-besaran tanpa asas keberlanjutan.
Parahnya, penikmatnya pun hanya segelintir “elite”, tak ada distribusi yang merata, tak ada pula pertimbangan terhadap nasib warga lokal. Mereka digusur, disingkirkan, dan dibiarkan mencari cara bertahan hidup sendiri. Setelah membaca ini, kebiasaanmu memuja si super kaya, apalagi dorongan meromantisasi rezim Orde Baru, bakal sirna.
Bukan hiburan belaka, justru film Pesta Babi bisa jadi motivasi generasi kita untuk lebih mengenal negeri sendiri. Lanjutkan juga baca-bacaan penunjang soal esensi dekolonisasi. Rekomendasinya sudah ada, tinggal kumpulkan niat
![[QUIZ] Dari Cara Kamu Balas Chat, Ini Level Anxious-mu dalam Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20230928/pexels-timur-weber-8560347-3463f855bb52e5a13f545089c28eb1d4-ec2c6be58b7aacc39dc739d9ec78d646.jpg)
![[QUIZ] Dari Caramu Handle Diri, Kami Tahu Taktik Kamu Lari dari Masalah](https://image.idntimes.com/post/20260307/pexels-shkrabaanthony-7163362_c8640e5a-49bf-480b-b517-8e7ccf6bcb14.jpg)

















