Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Buku yang Bahas Konflik dari Pengalaman Perempuan, Beda!
rekomendasi buku tentang konflik dari perspektif perempuan (dok. Penguin/The Womanly Face of War | dok. Penguin Random House/Against Our Will)
  • Lima buku menyoroti pengalaman perempuan dalam konflik dan perang, yang sering luput dari narasi dominan tentang laki-laki di garis depan.
  • The Womanly Face of War dan Paya Nie menggambarkan trauma, penolakan sosial, serta kerentanan perempuan Soviet dan Aceh yang terjebak konflik bersenjata.
  • Catch the Rabbit, Against Our Will, dan The Nightingale membahas memori perang, kekerasan seksual sebagai senjata, serta perjuangan perempuan menghadapi pendudukan dan kelangkaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama ini konflik dan perang lebih sering ditulis dan dipotret dari sudut pandang pria sebagai inisiator dan peserta di garis depan. Namun, sadarkah kamu kalau perempuan ikut terdampak dalam skala yang tak kalah besar? Dalam 5 buku berikut, kamu bakal dapat perspektif segar dari perempuan yang terjebak dalam konflik atau perang.

Darinya, kamu bakal sadar kalau pengalaman tiap gender bisa berbeda satu sama lain. Lanjut baca sinopsisnya, yuk!

1. The Womanly Face of War (Svetlana Alexievich)

The Womanly Face of War karya Svetlana Alexievich (dok. Penguin/The Womanly Face of War)

Dalam The Womanly Face of War, Svetlana Alexievich menawarkan testimoni oral dari penyintas Perang Dunia II di Uni Soviet yang bergender perempuan. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan tidak sedikit yang saat itu berkontribusi di sektor militer strategis. Namun, bukannya mendapat cerita heroik seperti yang biasa didapat ketika berbicara dengan penyintas pria, Alexievich justru mendapatkan banyak pengalaman-pengalaman pilu yang membuatnya tak bisa melihat peperangan sebagai sesuatu yang layak diromantisasi. Salah satu pengalaman paling menohok adalah fakta bahwa banyak veteran perang perempuan yang tertolak di masyarakat karena dianggap terlalu “maskulin”.

2. Paya Nie (Ida Fitri)

Paya Nie karya Ida Fitri (dok. Marjin Kiri/Paya Nie)

Dalam Paya Nie, Ida Fitri mencoba mereka ulang pengalaman perempuan-perempuan yang hidup pada era Gerakan Aceh Merdeka. Beda dengan para lelaki, pengalaman mereka lebih kompleks dan sayangnya kerap tak dianggap. Hidup di tengah masyarakat patriarkis yang menomorduakan peran perempuan, Paya Nie jadi sebuah novel tragedi yang perlu dibaca. Ada setidaknya 4 perempuan dengan beragam situasi yang jadi fokus di sini. Miris, mereka terjebak dalam pusaran konflik bersenjata ketika sedang mencari nafkah.

3. Catch the Rabbit (Lana Bastasic)

Catch the Rabbit karya Lana Bastašić (dok. Restless Books/Catch the Rabbit)

Catch the Rabbit adalah petualangan dua sahabat bernama Sara dan Lejla dari Bosnia ke Austria. Mereka sudah lama tak bersua sejak perang sipil menghancurkan rumah mereka dan Sara bermigrasi ke Irlandia. Namun, dalam perjalanan ini, keduanya seolah dipaksa untuk mengingat memori kelam yang berusaha mereka lupakan. Lejla yang seorang muslim Bosnia bahkan harus mengganti namanya demi keselamatan dan Sara, apa yang terjadi padanya kala itu?

4. Against Our Will: Men, Women and Rape (Susan Brownmiller)

Against Our Will: Men, Women, and Rape karya Susan Brownmiller (dok. Penguin Random House/Against Our Will)

Bukan buku yang sempurna, tetapi Against Our Will disebut salah satu buku revolusioner karena berhasil bikin orang memikirkan ulang definisi “rape” atau “pemerkosaan”. Ia berargumen bahwa pemerkosaan adalah isu politik, bukan lagi personal seperti yang selama ini dipercaya dan digaungkan orang. Ia membahas pula bagaimana kekerasan seksual itu dipakai sebagai “senjata” dalam berbagai peristiwa, mulai dari perang bersenjata sampai konflik rasial, dan perempuan masuk dalam pusara tersebut.

5. The Nightingale (Kristin Hannah)

The Nightingale karya Kristin Hannah (dok. Macmillan/The Nightingale)

Vianne dan Isabelle adalah dua saudari yang hidup di sebuah desa di Prancis pada Perang Dunia II. Orang mungkin mengira mereka menikmati kehidupan nyaman karena jauh dari garis depan, tetapi kenyataannya ternyata tak sesederhana itu. Vianne harus menghadapi bahaya lain seiring dengan kelangkaan pangan, pendudukan Nazi dan berbagai kerentanan lain yang mungkin tak pernah terbesit di benak kita. The Nightingale adalah cerita resiliensi perempuan di tengah konflik.

Konflik tak pernah hanya soal pria, perempuan kerap menanggung dampak dengan skala dan kompleksitas yang mungkin belum pernah kamu bayangkan. Buku-buku tadi menawarkan sudut pangan alternatif yang bisa mengubah opinimu soal konflik selamanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article