ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/ketutsubiyanto)
Meski AI memudahkan anak memperoleh jawaban, mereka tetap membutuhkan hubungan emosional dengan orang-orang di sekitarnya. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, mengobrol tanpa gawai, dan mengajarkan mereka mengenali serta mengelola emosi. Keterampilan ini tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Orangtua juga perlu memberi ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, dan bangkit tanpa selalu mengandalkan AI. Pengalaman tersebut dapat membangun ketahanan mental, rasa percaya diri, dan kemampuan menghadapi tantangan. Bekal ini akan membantu anak lebih siap menghadapi masa depan yang semakin dipengaruhi teknologi.
"Bagaimana kita mengajarkan mereka menjadi manusia? Caranya dengan membangun kecerdasan emosional mereka, memberi kesempatan untuk gagal, membiarkan mereka mengekspresikan emosi, membantu mereka memahami perasaan sendiri, serta menciptakan lingkungan yang lebih tenang," ujar Eliza Filby, pakar generasi dan sejarawan, dikutip dari Business Insider.
Mengenalkan AI kepada anak sejak dini tidak masalah selama disertai pendampingan dan batasan yang jelas. Dengan keseimbangan antara teknologi dan pengalaman di dunia nyata, gen Alpha dapat tumbuh menjadi generasi yang kreatif, kritis, sekaligus bijak memanfaatkan AI.