Dalam wawancaranya dengan Parents, Dr. Nobile mengatakan, "Berbeda dengan generasi sebelumnya, gen alpha lebih mungkin mempertanyakan suatu aturan daripada langsung menerimanya. Jika generasi terdahulu cenderung mengatakan, 'Ya, Pak', 'Ya, Bu', atau 'Oke', gen alpha justru lebih sering bertanya, 'Mengapa?' atau 'Bisakah kamu menjelaskan alasannya?'"
Kenapa Gen Alpha Sering Dijuluki Generasi Asbun? Ini Faktanya!

- Generasi alpha dijuluki 'Gen Asbun' karena terbiasa menerima dan menyebarkan informasi instan dari internet tanpa selalu memeriksa sumber atau konteksnya terlebih dahulu.
- Pola asuh modern mendorong anak gen alpha untuk berani berbicara dan mengungkapkan pendapat, meski kadang kemampuan berpikir kritis mereka belum seimbang dengan keberanian tersebut.
- Media sosial dan budaya digital membentuk cara komunikasi gen alpha yang cepat, kreatif, namun perlu diimbangi literasi serta kemampuan berpikir kritis agar tidak sekadar mengikuti tren.
Belakangan ini julukan "Gen Asbun" atau "asal bunyi" semakin sering disematkan kepada generasi alpha di media sosial. Sebutan ini muncul karena sebagian anak dinilai lebih berani berbicara, spontan menyampaikan pendapat, dan kerap memberikan komentar dengan penuh percaya diri.
Di balik julukan tersebut, ada berbagai faktor yang memengaruhi cara gen alpha berkomunikasi, mulai dari pola asuh, lingkungan, hingga perkembangan teknologi digital yang membentuk keseharian mereka. Lantas, mengapa generasi alpha kerap dijuluki sebagai "Gen Asbun"?
1. Akses informasi yang instan membuat mereka lebih cepat berkomentar

Generasi alpha lahir ketika internet, media sosial, hingga kecerdasan buatan (AI) sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus mencari informasi melalui buku atau bertanya kepada orang lain, gen alpha terbiasa memperoleh jawaban hanya dalam hitungan detik melalui mesin pencari, video pendek, atau chatbot AI.
Kemudahan ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, mereka menjadi lebih cepat belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Namun di sisi lain, sebagian anak terbiasa menerima informasi secara instan sehingga cenderung langsung menyampaikan atau mempercayai apa yang mereka lihat tanpa mengecek sumber maupun konteksnya terlebih dahulu. Kebiasaan inilah yang membuat mereka kerap dianggap "asal bunyi", meskipun sebenarnya mereka hanya terbiasa hidup di lingkungan yang serba cepat.
2. Mereka dibesarkan untuk berani menyampaikan pendapat

Berbeda dengan generasi terdahulu yang lebih banyak diajarkan untuk mendengarkan, banyak anak gen alpha justru didorong untuk aktif bertanya, berdiskusi, dan mengungkapkan pendapat sejak usia dini. Di rumah maupun di sekolah, mereka lebih sering diajak berdialog daripada hanya menerima instruksi.
Keberanian ini sebenarnya merupakan keterampilan yang positif karena dapat melatih rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi. Namun ketika kemampuan menyampaikan pendapat berkembang lebih cepat daripada kemampuan berpikir kritis dan memahami konteks, cara berbicara mereka bisa dianggap terlalu spontan atau seolah-olah berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Dari sinilah stereotip "Gen Asbun" mulai muncul.
3. Mereka lebih berani mempertanyakan sesuatu daripada sekadar menurut

Menurut psikolog Catherine Nobile, PsyD, gen alpha tumbuh di lingkungan yang merayakan kecerdasan emosional, kebebasan berekspresi, dan terbiasa melihat berbagai sudut pandang. Kondisi tersebut membuat mereka tidak lagi menerima perintah begitu saja, tetapi cenderung ingin mengetahui alasan di balik setiap aturan.
Menurutnya, sikap tersebut sering disalahartikan sebagai bentuk pembangkangan atau kebiasaan "asal bicara". Padahal, perilaku itu menunjukkan bahwa gen alpha tumbuh di lingkungan yang mendorong mereka untuk berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan mencari alasan logis di balik setiap aturan.
4. Media sosial membentuk cara gen alpha berkomunikasi

Bagi gen alpha, media sosial bukan hanya tempat mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, berinteraksi, dan membentuk cara berkomunikasi. Paparan berbagai konten, tren, meme, hingga bahasa gaul yang terus berkembang membuat mereka terbiasa menyerap dan membagikan informasi dengan cepat, meski terkadang belum memahami konteks atau memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu.
Psikolog Nafees Alam, Ph.D. mengatakan, "Language isn't just a tool; it shapes our thoughts and connections" atau "Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga membentuk cara kita berpikir dan membangun hubungan," dikutip dari Psychology Today.
Menurutnya, bahasa gaul dan budaya digital memang dapat mendorong kreativitas serta memperkuat ikatan antarkelompok, tetapi tetap perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi agar informasi yang disampaikan tidak sekadar mengikuti tren.
Pada akhirnya, julukan "Gen Asbun" tidak bisa disematkan kepada seluruh generasi alpha karena setiap anak tumbuh dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda. Alih-alih memberi label, yang lebih penting adalah membimbing mereka agar berani berpendapat sekaligus mampu berpikir kritis, menyaring informasi, dan berkomunikasi secara bijak.





















