- Kelompok budaya yang berbeda
Contoh Asimilasi Budaya dan Faktor yang Memengaruhinya

- Asimilasi budaya adalah proses sosial ketika kelompok dengan latar budaya berbeda berinteraksi intens hingga melebur dan membentuk budaya baru yang lebih harmonis.
- Asimilasi dipengaruhi faktor pendorong dan penghambat, seperti toleransi, interaksi intensif, perkawinan antaretnis, serta sikap tertutup dan rasa superioritas.
- Contoh asimilasi budaya di Indonesia terlihat pada musik dangdut, baju koko, gambang kromong, kuliner, dan penyerapan bahasa asing dalam bahasa Indonesia.
Dalam kehidupan sosial, interaksi antara satu individu dan individu lainnya merupakan hal yang pasti terjadi. Interaksi ini kerap kali melahirkan nilai-nilai baru, budaya, dan pola perilaku.
Dalam perubahan sosial, terdapat suatu istilah yang mungkin jarang didengar masyarakat, yaitu asimilasi. Melalui asimilasi, keseragaman budaya di antara masyarakat dapat melebur dan menciptakan keselarasan. Agar lebih mudah dipahami, berikut ini penjelasan mengenai contoh asimilasi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
1. Pengertian asimilasi

Secara etimologi, asimilasi berasal dari kata “assimilare” yang artinya “menjadi sama”. Dalam buku Pengantar Sosiologi karangan Prof. Dr. Syamsiah Badrudin, dkk (2024), asimilasi merupakan proses sosial di mana dua kelompok atau lebih dengan latar budaya yang berbeda, berinteraksi dan menciptakan budaya baru.
Asimilasi biasanya ditandai dengan menurunnya sikap eksklusif, adanya peningkatan sikap toleransi, dan rasa keinginan untuk hidup berdampingan secara harmonis. Ketika dua kelompok dengan budaya yang berbeda menyatu, mereka akan melakukan interaksi yang intens dan saling beradaptasi hingga membentuk budaya yang lebih besar.
2. Syarat terbentuknya asimilasi

Proses terjadinya asimilasi tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa syarat yang harus terpenuhi agar asimilasi dapat berjalan dalam kehidupan bermasyarakat. Syarat-syarat tersebut adalah:
Proses terjadinya asimilasi hanya dapat terjadi bila ada kelompok masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda. Ketika dua kelompok budaya yang berbeda saling berinteraksi secara intens, maka interaksi tersebut berpotensi untuk menghasilkan perubahan sosial.
- Terjadinya interaksi
Proses terjadinya asimilasi juga memerlukan adanya interaksi yang berlangsung secara intens dan berkelanjutan. Ketika proses interaksi terjalin secara intens dan berkelanjutan, percampuran antara dua budaya berpotensi terbentuk hingga menjadi utuh.
- Adanya rasa saling percaya
Jalinan interaksi yang intens dan berkelanjutan membutuhkan adanya rasa saling percaya antara masing-masing kelompok. Jika kelompok masyarakat yang bertemu tidak memiliki rasa percaya dan toleransi, maka asimilasi tidak akan terjadi.
3. Faktor yang memengaruhi asimilasi

Terjadinya proses asimilasi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor pendorong dan penghambat. Berikut ini penjelasannya:
Faktor pendorong
- Toleransi antarkelompok
Kelompok yang bertemu harus saling membuka ruang budaya lain tanpa konflik untuk mempermudah terjadinya proses asimilasi.
- Interaksi sosial intensif
Hubungan yang sering dan mendalam antara dua kelompok dengan budaya yang berbeda dapat mempercepat proses terjadinya pembauran.
- Perkawinan antaretnis
Menyatukan dua budaya dalam keluarga akan memperkuat integrasi budaya, sehingga proses asimilasi akan cepat terbangun.
- Kesamaan kepentingan
Proses terjadinya asimilasi dapat didukung dengan adanya persamaan kepentingan antar kelompok yang berinteraksi, seperti kesamaan kepentingan dalam hal politik, ekonomi, dan lainnya.
Faktor penghambat
- Kurangnya pengetahuan tentang budaya lain
Ketika suatu kelompok kurang memiliki pengetahuan akan budaya lain, kelompok tersebut memiliki kecenderungan menyalahartikan suatu budaya baru.
- Ketakutan akan budaya lain
Perasaan takut akan dominasi budaya lain cenderung akan menghasilkan sikap melawan, menolak, atau bahkan menghambat pembauran budaya. Dengan demikian, proses asimilasi akan sulit terjadi.
- Rasa superioritas
Sikap superior suatu kelompok dengan menganggap bahwa mereka merupakan kalangan yang eksklusif akan menghambat terjadinya proses asimilasi.
4. Contoh asimilasi budaya

Berikut ini merupakan contoh asimilasi budaya yang mungkin tak asing dalam kehidupan sehari-harimu:
1. Musik dangdut
Dangdut merupakan perpaduan musik Melayu dan irama musik India yang kemudian dikombinasikan dengan elemen-elemen lokal, sehingga menghasilkan genre musik baru yang kita kenal seperti sekarang.
2. Baju koko
Baju koko merupakan salah satu hasil dari asimilasi budaya. Awalnya, baju koko merupakan pakaian khas pria Tionghoa, namun melebur menjadi pakaian muslim di Indonesia.
3. Kesenian Gambang Kromong
Gambang kromong merupakan kesenian musik antara budaya Tionghoa dan Betawi yang terbentuk dalam waktu lama. Perpaduan kedua budaya ini dapat dilihat dari unsur musik Tionghoa yang berpadu dengan irama khas Betawi.
4. Makanan
Beberapa makanan seperti bakso, bakmi, dan mie ayam merupakan salah satu kuliner yang berasal dari Tionghoa. Namun, makanan-makanan ini berasimilasi penuh dan dianggap sebagai makanan sehari-hari masyarakat Indonesia
5. Bahasa Indonesia dan bahasa asing
Kata-kata dalam bahasa Indonesia kebanyakan diserap dari bahasa asing seperti Belanda, Portugis, dan Arab. Salah satu contohnya adalah kantor yang berasal dari bahasa Belanda, zaman dari bahasa Arab, sepatu dari bahasa Portugis, dan sebagainya.
Asimilasi budaya merupakan proses sosial yang penting dalam membentuk kehidupan masyarakat yang harmonis. Dengan mengetahui contoh asimilasi dan berbagai hal penting terkaitnya, kamu jadi tahu bahwa perubahan sosial ini telah melewati proses dalam waktu yang lama dan menjadi budaya yang lebih besar dari sebelumnya.


















