Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Langit Mengambil, Karya Baru Ika Natassa Soroti Kisah Kelam dan Trauma

IMG_5996.jpeg
Book Launching Langit Mengambil karya Ika Natassa (31/1/26). (IDN Times/Dina Salma)
Intinya sih...
  • Langit Mengambil hadirkan alur yang fresh dengan tema kehilangan dan trauma
  • Ika Natassa mengangkat kisah tentang trauma besar dalam hidup seorang perempuan
  • Buku Langit Mengambil memberi sentuhan baru bagi karya Ika Natassa dengan pendekatan romansa yang berbeda
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Penulis Ika Natassa kembali merilis novel terbarunya, Langit Mengambil pada Sabtu (31/1/2026) di Museum MACAN, Jakarta Barat. Buku fiksi ini tak sekedar menambah daftar karyanya, melainkan turut menandai perjalanan kreatif 18 tahun Ika Natassa berkarya dalam dunia kepenulisan.

Dalam perjalanan 18 tahun berkarya, Ika mengakui dirinya tak menyangka akan berada di titik ini. Selama hampir dua dekade, Ika konsisten menghadirkan karya terbaiknya sehingga mendapat sambutan baik oleh pembaca setia. Tentunya Ika telah melahirkan sejumlah best seller, bahkan sejumlah judul telah diadaptasi ke layar lebar. Sebut saja The Architecture of Love dan Heartbreak Motel.

Melalui Langit Mengambil, Ika menghadirkan eksplorasi tema yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia memberi ruang pada tema orang ketiga, dibingkai lewat sudut pandang karakter utama bernama Tara. Cerita di balik proses kreatif tersebut, turut dibagikan Ika dalam sesi peluncuran buku Langit Mengambil di kesempatan yang sama.

1. Bukan sekadar cinta-cintaan, Langit Mengambil hadirkan alur yang fresh

Book Launching Langit Mengambil karya Ika Natassa (31/1/26). (IDN Times/Dina Salma)
Book Launching Langit Mengambil karya Ika Natassa (31/1/26). (IDN Times/Dina Salma)

Untuk pertama kalinya, Ika memberi ruang pada kisah tentang orang ketiga yang dibingkai melalui sudut pandang tokoh utama bernama Tara. Langit Mengambil menyoroti perjalanan perempuan yang kehilangan rahimnya dalam insiden keji. Ika menuturkan, premis utama dari novel teranyarnya sarat akan emosi yang mendalam dan kisah kelam.

Jika novel Ika sebelumnya kerap menghadirkan romansa dewasa, novel ini lebih banyak mengeksplorasi perasaan kehilangan dan duka. Menurut Ika, orang memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi kehilangan. Tidak semua individu memiliki keleluasaan secara emosi maupun psikologis untuk mengekspresikan kehilangan. Pergulatan inilah yang kemudian dituangkan dalam novel Langit Mengambil.

"Kayaknya makin tambah umur, aku makin sadar hidup ini dark. Kan kita udah lama dengan novel cinta-cintaan. Di sini juga ada cinta-cintaannya, cuma aku sadar dari sekian banyak rasa yang sering kita bicarakan, ada beberapa yang tidak kita sadari, yaitu kehilangan," ujar Ika.

Judul Langit Mengambil dipilih untuk menyiratkan pengalaman seseorang terhadap kehilangan, seolah sesuatu direnggut secara paksa, seolah langit merenggut miliknya. Namun secara tersirat, Ika juga ingin mengingatkan bahwa tidak semua hal yang 'diambil oleh langit' itu menyisakan kehampaan. Ada makna lain yang perlahan tumbuh dari peristiwa kehilangan itu sendiri.

"The clouds remind me of time. Langit itu mengingatkan aku pada waktu," ujarnya.

So, I guess the sky represent time. Dan mungkin, segala kejadian yang ada di hidup kita itu, saksinya adalah langit," tambah Ika.

2. Ika Natassa: catatan tentang trauma besar yang hadir dalam hidup

Book Launching Langit Mengambil karya Ika Natassa (31/1/26). (IDN Times/Dina Salma)
Book Launching Langit Mengambil karya Ika Natassa (31/1/26). (IDN Times/Dina Salma)

Di novel-novel sebelumnya, Ika acap kali menyoroti kehidupan perempuan metropolitan melalui kisah romansa yang penuh kejutan. Sementara dalam Langit Mengambil, Ika mengangkat kisah Tara, seorang jurnalis, pekerja lapangan, sekaligus perempuan yang terbiasa meliput kasus sensitif hingga muncul suatu peristiwa yang membuat dirinya mengalami trauma berat.

Perbuatan keji yang dialami Tara tak hanya menghancurkan dirinya, tetapi juga mengguncang orang-orang terdekatnya, termasuk sang suami, Raka. Kisah ini turut menyoroti ujian dalam pernikahan serta upaya keduanya untuk bertahan dan mempertahankan hubungan di tengah luka yang mendalam.

"Orang-orang selalu bilang bahwa waktu akan menumbuhkan segalanya, padahal nyatanya tidak seperti itu. Luka itu akan selalu ada. Kita cuma belajar hidup dengan bekas yang ditinggalkannya. Langit Mengambil adalah sebuah catatan tentang trauma besar yang hadir dalam hidup, luka menganga yang tidak akan bisa dimengerti orang lain meski kita bercerita. Tentang kehilangan dan menemukan," tutur Ika.

3. Buku Langit Mengambil beri sentuhan baru bagi karya Ika Natassa

IMG_5994.jpeg
Book Launching Langit Mengambil karya Ika Natassa (31/1/26). (IDN Times/Dina Salma)

Langit Mengambil berupaya mengangkat kisah romansa dua orang dewasa dengan pendekatan yang berbeda. Melalui karakter yang berprofesi sebagai jurnalis, karakter utama yang diciptakan oleh Ika menampilkan sosok yang terasa lebih familier bagi masyarakat urban. Meski demikian, bagi pembaca setia karya Ika, pola relasi dan dinamika cinta yang dihadirkan dalam Langit Mengambil masih terasa dekat untuk semua kalangan.

Mengusung tema yang menyayat hati, novel ini tetap mempertahankan ciri khas karya Ika Natassa dengan gaya bertutur, ringan, lucu, namun di sisi lain reflektif. Ika berhasil menggali kedalaman emosi bagi tiap tokohnya, menghasilkan cerita yang menguras perasaan.

Mengambil sudut pandang seorang reporter, ada pula unsur misteri dan crime yang turut disisipkan dalam karya ini. Tentunya, ini menjadi sesuatu yang menyegarkan bagi karya yang ditulis oleh Ika, yang tak hanya berkutat pada kehidupan personal karakter utamanya.

Perbedaan lain yang cukup menonjol dibandingkan tokoh perempuan dalam karya Ika sebelumnya adalah latar kehidupan Tara. Sebagai pekerja lapangan, Tara bukanlah sosok perempuan yang digambarkan hidup dengan barang-barang branded. Sebaliknya, hidup Tara menyiratkan karakter perempuan urban yang berjuang untuk dirinya, pekerjaannya, dan sesuatu dalam hatinya yang tak sepenuhnya dapat ia pahami. Dalam buku ini, Ika juga menyisipkan refleksi-refleksi personal yang terasa lebih matang dan emosional. Hal tersebut membuat buku ini tetap menarik untuk dibaca.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tugas Online Branding Consultant, Bantu Personal Branding Lebih Kuat

03 Feb 2026, 22:42 WIBLife