Riset EduPoint: Mahasiswa dan Profesional Pimpin Les Privat Online

Riset EduPoint Februari–Juni 2026 mencatat les tatap muka masih mendominasi 71 persen, sementara kelas online menyumbang 23 persen dan model campuran 6 persen.
Mahasiswa dan profesional memiliki kecenderungan belajar daring tertinggi dengan indeks 158, diikuti SMA serta persiapan tes 121; kecenderungan ini menurun pada jenjang usia lebih muda.
Pemrograman, AI, dan bahasa asing paling diminati secara daring, sementara musik, mengaji, serta calistung tetap kuat tatap muka; kelas online juga membuka akses tutor lintas wilayah.
Semakin dewasa seorang pelajar, semakin besar kemungkinan ia memilih les privat online. Indeks Adopsi Mode Belajar 2026 yang disusun Tim Riset EduPoint menempatkan mahasiswa dan profesional di angka indeks 158 untuk kecenderungan belajar daring. Angka ini tertinggi di antara semua jenjang dan jauh di atas rata-rata nasional yang ditetapkan pada angka 100.
1. Tatap muka masih dominan, online terus bertambah

Les privat di EduPoint (Dok. EduPoint) Riset ini membaca komposisi permintaan les privat di EduPoint sepanjang Februari hingga Juni 2026. Secara keseluruhan, sesi tatap muka masih memegang porsi terbesar, yakni sekitar 71 persen. Kelas online menyumbang sekitar 23 persen, sedangkan model campuran yang memadukan keduanya mengisi sekitar 6 persen.
EduPoint sendiri merupakan layanan les privat nasional yang mempertemukan pelajar dari segala usia dengan 20.000+ tutor terseleksi di 60+ kota di Indonesia. Layanannya hadir lewat dua jalur, yaitu kunjungan ke rumah dan kelas online, sehingga pelajar bisa memilih mode yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
2. Semakin dewasa, semakin condong ke layar

Ilustrasi wanita mengikuti kelas online (freepik.com/freepik) Polanya terlihat jelas ketika data dipilah per jenjang. Setelah mahasiswa dan profesional, kelompok SMA dan persiapan tes menyusul dengan indeks 121. Angkanya turun menjadi 96 pada jenjang SMP, 67 pada SD, dan 39 pada PAUD/TK. Dengan kata lain, semakin dewasa pelajarnya, semakin besar porsi sesi yang berlangsung lewat layar.
Head of Education EduPoint, Adhel Pradita, menilai pola ini lahir dari kemandirian belajar. "Pelajar dewasa sudah tahu apa yang mau dikejar, entah sertifikasi, skor tes bahasa, atau keterampilan untuk pekerjaan. Mereka mampu menjaga fokus sendiri di depan layar, sehingga kelas online memberi jam belajar yang pas dengan jadwal kuliah atau kantor," ujarnya.
3. Pemrograman, AI, dan bahasa asing paling diminati secara daring

ilustrasi mengambil kelas online (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com) Jenis materi ikut menentukan pilihan mode belajar. Dalam riset yang sama, klaster pemrograman dan kecerdasan buatan mencatat kecenderungan daring tertinggi dengan indeks 100, disusul bahasa asing seperti Inggris dan Mandarin di angka 82. Untuk kebutuhan seperti ini, les privat online EduPoint didukung 3.500+ tutor online yang berasal dari jaringan 20.000+ tutor EduPoint. Pelajar bisa mengambil kelas coding, persiapan IELTS dan TOEFL, bahasa Jepang, hingga persiapan UTBK dari kota mana pun di Indonesia.
4. Pelajar sebagai pusat layanan

ilustrasi mengikuti kelas online (freepik.com/freepik) Adhel menegaskan bahwa pusat layanan les privat adalah pelajar itu sendiri, berapa pun usianya. "Yang kami dampingi adalah orang yang belajar. Ada pelajar SMA yang mendaftar sendiri, ada karyawan yang ingin menaikkan level bahasa Inggrisnya, ada juga yang didaftarkan orangtua, teman, atau kantornya. Siapa pun yang mendaftarkan, tutor merancang sesi dari kebutuhan pelajarnya," katanya.
Pendekatan ini tercermin dari rentang pelajar yang dilayani. Hingga kini, EduPoint telah mendampingi 70.000+ pelajar, mulai dari anak usia dini hingga profesional yang sedang menyiapkan langkah karier berikutnya.
5. Kelas online jadi jembatan akses antarwilayah

Ilustrasi mengikuti kelas online. (www.pexels.com/Artem Podrez) Faktor wilayah juga berpengaruh. Kawasan metropolitan Jabodetabek mencatat indeks adopsi daring 133, sementara kota regional dan kabupaten berada di angka 76. Menurut Adhel, selisih ini menunjukkan ruang tumbuh kelas online sebagai jembatan akses.
"Pelajar di kota yang tutornya masih terbatas bisa belajar bersama tutor dari kota lain. Selama koneksinya siap, jarak berhenti menjadi penghalang," ujarnya.
6. Tatap muka tetap unggul untuk materi yang butuh kehadiran fisik

Ilustrasi belajar di sekolah (pexels.com/Ivan Samkov) Meski kelas online berkembang, tatap muka tetap kuat untuk materi yang menuntut kehadiran fisik. Musik, mengaji, dan calistung tercatat sebagai klaster yang paling bertahan di ruang tatap muka. Posisi jari di atas tuts piano atau cara menulis huruf pertama, misalnya, lebih mudah dituntun secara langsung.
Adhel menyarankan pelajar muda meracik keduanya sesuai tujuan. "Pakai tatap muka saat butuh penjelasan konsep yang mendalam, lalu pakai sesi online untuk latihan rutin. Cara belajar terbaik adalah cara yang paling cocok dengan ritme hidup pelajarnya," katanya. (WEB/AD)
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)









![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Motif Batik? Uji di Hari Batik Nasional](https://image.idntimes.com/post/20241001/kuis-seberapa-jeli-matamu-menebak-batik-1-9fae9f001557d4685f9725b18e4d801a.jpg)












