“Hari ini, kita berkumpul untuk sama-sama merefleksikan bahwa beasiswa perlu dimaknai secara holistik, Lifelong Learning atau belajar sepanjang hayat tidak hanya berbicara akademis, namun juga pembelajaran non-akademis,” ucapnya saat memberikan sambutan di acara GSS.
Global Scholarship Summit 2026 Dorong Ekosistem Beasiswa Inklusif

- Global Scholarship Summit 2026 mempertemukan pemerintah, dunia usaha, filantropi, perguruan tinggi, dan mitra internasional untuk memperluas peluang pendidikan akademik maupun nonakademik bagi talenta muda Indonesia.
- AJBI menggelar dua lokakarya yang menghasilkan fokus penguatan ekosistem serta dua pilot: Grand Design Ekosistem Beasiswa Indonesia dan pemetaan pemangku kepentingan melalui pendekatan P4.
- Keberhasilan beasiswa didorong melampaui jumlah dana dan penerima, dengan menilai dampak pada kualitas hidup, mobilitas sosial, produktivitas, inovasi, serta pemerataan akses hingga wilayah terpencil.
Jakarta, IDN Times – Langkah kaki mulai menaiki panggung, membawa tujuan besar untuk menciptakan peluang pendidikan yang lebih inklusif bagi talenta muda Indonesia. Di atas panggung, Prof. Fasli Jalal, Ketua Dewan Kehormatan Forum Beasiswa Indonesia (Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia/AJBI), bersiap menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya pembaruan dalam ekosistem beasiswa. Melalui sambutannya, ia menjelaskan bagaimana beasiswa dapat berperan dalam mendukung talenta muda agar terus berkembang dan memperoleh akses pendidikan sesuai kebutuhan mereka.
Dalam acara Global Scholarship Summit (GSS) 2026 bertema “Co-Creating Indonesia’s Future-Ready Talent Ecosystem” yang digelar pada Kamis (15/10/2026) di SMESCO Nareswara Hall, SME Tower, Jakarta, Prof. Fasli menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi upaya untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, filantropi, perguruan tinggi, hingga mitra internasional.
Melalui kolaborasi tersebut, Forum Beasiswa Indonesia (Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia/AJBI) berupaya memperkuat pengembangan talenta Indonesia. Dengan aspirasi kolektif “Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia”, GSS mendorong perluasan kesempatan pendidikan dan pengembangan kompetensi melalui berbagai bentuk beasiswa, baik akademik maupun nonakademik.
1. Membuka ruang kolaborasi antarpemangku kepentingan

Acara Global Scholarship Summit (GSS) 2026 bertema “Co-Creating Indonesia’s Future-Ready Talent Ecosystem” yang digelar pada Kamis (15/10/2026) di SMESCO Nareswara Hall, SME Tower, Jakarta (IDN Times/Fadila N. Aziziyah) Berdiri di atas panggung, Prof. Fasli turut menjelaskan bahwa GSS menjadi ruang untuk melanjutkan dialog dan kolaborasi yang telah dibangun melalui berbagai kegiatan Forum Beasiswa Indonesia (AJBI) dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Sarasehan Jaringan Beasiswa. Sebagai ecosystem convener, AJBI berperan menghubungkan berbagai potensi dan membuka ruang kolaborasi bagi para pemangku kepentingan dalam ekosistem beasiswa.
Menurut Prof. Fasli, membangun ekosistem beasiswa yang inklusif membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar kesempatan pendidikan dapat menjangkau lebih banyak talenta muda. Kolaborasi antarlembaga diharapkan dapat saling melengkapi dengan berbagai inisiatif pemerintah, tanpa mengasumsikan adanya integrasi sistem atau kerja sama formal yang belum disepakati.
2. Menyelenggarakan dua lokakarya untuk merumuskan arah pengembangan ekosistem beasiswa

Acara Global Scholarship Summit (GSS) 2026 bertema “Co-Creating Indonesia’s Future-Ready Talent Ecosystem” yang digelar pada Kamis (15/10/2026) di SMESCO Nareswara Hall, SME Tower, Jakarta (IDN Times/Fadila N. Aziziyah) Di balik upaya membuka ruang kolaborasi, Prof. Fasli juga menyoroti tantangan dalam pengembangan beasiswa di Indonesia. Program beasiswa kini semakin beragam, tetapi informasi, data, pembiayaan, akses penerima, dan jalur pengembangan talenta masih belum terhubung secara menyeluruh. Sementara itu, pemerataan akses dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Untuk menjawab tantangan tersebut, AJBI telah menyelenggarakan dua lokakarya guna merumuskan persoalan bersama, menyepakati fokus penguatan ekosistem, serta menerjemahkannya menjadi agenda percontohan kolaboratif (pilot collaboration).
Lokakarya pertama, The Growth Lab: Designing Indonesia’s Scholarship Future, diselenggarakan pada 29 Agustus 2026 dengan mempertemukan 25 lembaga pengelola beasiswa dan mitra ekosistem. Pertemuan tersebut menghasilkan enam fokus pembahasan, yaitu kebijakan, rancangan ekosistem, kolaborasi, inklusivitas, platform data, dan pendanaan.
Selanjutnya, lokakarya kedua yang berlangsung pada 28 September 2026 merumuskan dua prioritas percontohan. Pertama, Grand Design Ekosistem Beasiswa Indonesia sebagai kerangka pengembangan talenta yang berkesinambungan, mulai dari pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, hingga transisi ke dunia kerja.
Kedua, Pemetaan dan Matriks Pemangku Kepentingan Ekosistem Beasiswa yang bertujuan mengidentifikasi peran, kebutuhan, sumber daya, dan kapasitas setiap lembaga. Melalui pendekatan kolaboratif Public–Private–Philanthropy–People (P4), pemerintah, sektor swasta, dan filantropi ditempatkan sebagai mitra penggerak, sedangkan masyarakat dan penerima beasiswa menjadi bagian penting dari ekosistem yang dikembangkan.
3. Mengukur keberhasilan beasiswa melalui dampak nyata dan pemerataan akses

Acara Global Scholarship Summit (GSS) 2026 bertema “Co-Creating Indonesia’s Future-Ready Talent Ecosystem” yang digelar pada Kamis (15/10/2026) di SMESCO Nareswara Hall, SME Tower, Jakarta (IDN Times/Fadila N. Aziziyah) Pembahasan mengenai pengembangan ekosistem beasiswa juga mengarah pada cara mengukur keberhasilannya. Prof. Fasli menjelaskan bahwa keberhasilan program beasiswa selama ini kerap dilihat melalui angka-angka administratif, seperti jumlah dana yang disalurkan, banyaknya mahasiswa yang menerima bantuan, hingga jumlah lulusan yang berhasil memperoleh ijazah. Padahal, keberhasilan beasiswa perlu dilihat lebih jauh melalui dampak nyata (real impact) serta pemerataan akses dan kesempatan yang berkeadilan bagi seluruh anak bangsa.
Ada tiga aspek yang menjadi perhatian dalam mengukur keberhasilan tersebut.
- Peningkatan kualitas hidup dan mobilitas sosial. Beasiswa diharapkan mampu membuka peluang bagi penerimanya untuk meningkatkan kualitas hidup, memutus rantai kemiskinan, dan mendorong mobilitas sosial.
- Peningkatan produktivitas dan inovasi. Keberhasilan juga dapat dilihat dari kemampuan lulusan penerima beasiswa dalam menghasilkan karya, melakukan riset, mengembangkan teknologi baru, mendorong hilirisasi, serta memperkuat daya saing.
- Transformasi gerakan kolaboratif. Pengembangan beasiswa perlu mendorong perubahan dari kegiatan seremonial atau program yang berjalan secara terpisah antarlembaga menjadi gerakan bersama (joint movement) yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan begitu, kesempatan pendidikan dapat menjangkau lebih banyak anak berbakat, termasuk mereka yang berada di pelosok desa, madrasah, dan pesantren.
Prof. Fasli menegaskan bahwa ukuran keberhasilan beasiswa perlu melampaui jumlah penerima dan dana yang telah disalurkan. Dampaknya terhadap kualitas manusia, produktivitas, inovasi, dan mobilitas sosial juga perlu menjadi perhatian dalam pengembangan ekosistem beasiswa di Indonesia.
“Karena itu, ukuran keberhasilan beasiswa tidak boleh hanya berhenti pada jumlah penerima, berapa besarnya dana yang disalurkan dan berapa banyaknya lulusan yang telah dihasilkan. Kita harus bertanya sejauh mana beasiswa tersebut meningkatkan kualitas manusia, memperkuat produktivitas, menghasilkan inovasi, mendorong hilirisasi dan juga mobilitas sosial dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.”
Melalui Global Scholarship Summit 2026, penguatan ekosistem beasiswa diharapkan tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan pendidikan, tetapi juga pada perluasan akses dan dampak jangka panjang bagi penerimanya. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, filantropi, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi salah satu langkah untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi talenta muda Indonesia. Dengan begitu, beasiswa dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam menciptakan generasi yang lebih kompeten, inovatif, dan siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa.















![[QUIZ] Kamu Lagi Burnout, Bosan, atau Memang Sudah Saatnya Resign?](https://image.idntimes.com/post/20250731/pexels-mart-production-7605197_dc361a96-710c-45c2-8241-59436766b720.jpg)







