Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kuliah Online Penuh atau Paruh Waktu? Ini Hal yang Perlu Dipertimbangkan

4 min read
Kuliah Online Penuh atau Paruh Waktu? Ini Hal yang Perlu Dipertimbangkan
ilustrasi kuliah (unsplash.com/mikael_k)

Kuliah online menawarkan fleksibilitas bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus selalu datang ke kampus. Namun, selain memilih program yang sesuai, kamu juga perlu menentukan apakah akan mengambil kuliah secara full-time atau part-time berdasarkan kondisi dan kesibukan saat ini.

Pilihan tersebut gak hanya memengaruhi jumlah mata kuliah dan lama studi, tetapi juga beban belajar, biaya, serta waktu untuk pekerjaan dan kehidupan pribadi. Karena itu, jangan hanya mempertimbangkan keinginan untuk cepat lulus, tetapi pastikan ritmenya tetap bisa kamu jalani secara konsisten. Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih kuliah online full-time atau part-time.

  1. 1. Pertimbangkan kesibukan di luar kuliah

    ilustrasi mahasiswa memakai earphone (pexels.com/charlottemay)
    ilustrasi mahasiswa memakai earphone (pexels.com/charlottemay)

    Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah tanggung jawab yang sudah kamu miliki di luar pendidikan. Jika kamu bekerja penuh waktu, menjalankan bisnis, mengurus keluarga, atau memiliki kegiatan lain yang menyita banyak waktu, mengambil beban studi penuh bisa membuat jadwal semakin padat.

    Sebaliknya, full-time bisa lebih sesuai bagi kamu yang memiliki cukup waktu untuk memusatkan perhatian pada perkuliahan. Dengan beban studi yang lebih banyak, kamu dapat menjalani proses pendidikan dengan lebih intens dan menyelesaikan gelar dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan part-time.

    “Hal yang banyak kami diskusikan ketika berbicara dengan mahasiswa adalah bagaimana kamu bisa berdamai dengan apa yang kamu ambil untuk sekolah dalam hal tanggung jawab keluarga,” ujar Anna Keck, interim director of academic and professional programs, College of Continuing Education, California State University, Sacramento, dikutip dari U.S. News & World Report.

  2. 2. Perhatikan tingkat kesulitan mata kuliah

    ilustrasi mahasiswa belajar (pexels.com/icsa)
    ilustrasi mahasiswa belajar (pexels.com/icsa)

    Jumlah mata kuliah bukan satu-satunya hal yang menentukan berat atau ringannya kuliah online. Kamu juga perlu melihat jenis mata kuliah yang akan diambil karena beberapa kelas bisa membutuhkan waktu lebih banyak untuk membaca materi, mengerjakan tugas, mengikuti diskusi, atau mempersiapkan ujian.

    Jika dalam satu periode kamu harus menghadapi beberapa mata kuliah yang tergolong berat, mengambil beban studi yang lebih ringan dapat membantu menjaga ritme belajar. Sebaliknya, jika mata kuliah yang tersedia relatif ringan atau kamu memiliki banyak waktu untuk belajar, full-time mungkin lebih memungkinkan untuk dijalani.

    “Langsung saja, kalau kamu membicarakan kalkulus dan kimia, mungkin kamu gak ingin mengambil beban berlebihan pada semester pertama,” ujar Rhiannon Pollard, interim director of UF Online, University of Florida, dikutip dari U.S. News & World Report.

    Pollard juga menyarankan mahasiswa yang belum mengetahui tingkat kesulitan suatu mata kuliah untuk menghubungi dosen dan meminta silabus terlebih dahulu. Dengan begitu, kamu bisa memperkirakan beban belajar sebelum menentukan jumlah mata kuliah yang akan diambil.

  3. 3. Hitung kemampuan finansial selama kuliah

    ilustrasi mahasiswi sedang belajar dengan laptop  (pexels.com/timamiroshnichenko)
    ilustrasi mahasiswi sedang belajar dengan laptop (pexels.com/timamiroshnichenko)

    Biaya juga perlu masuk dalam pertimbangan sebelum memilih full-time atau part-time. Pada beberapa program, mengambil beban studi lebih sedikit memungkinkan pembayaran biaya kuliah dilakukan secara lebih bertahap, sementara kamu tetap bisa mempertahankan penghasilan dari pekerjaan.

    Namun, part-time gak selalu berarti biaya keseluruhan pasti lebih murah. Semakin lama masa studi, semakin panjang pula periode kamu harus membayar biaya pendidikan, sehingga struktur biaya yang diterapkan kampus perlu diperiksa sejak awal.

    “Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, tetapi pada akhirnya kemampuan mahasiswa untuk berhasil bertahan dan menyelesaikan studi harus menjadi prioritas,” ujar Whitnie Powell, assistant vice president for enrollment management and student services, Indiana University Online, dikutip dari U.S. News & World Report.

    Powell juga menyarankan mahasiswa yang masih ragu apakah mampu menjalani kuliah full-time untuk mempertimbangkan memulai dengan status part-time. Prinsipnya, pilihan beban studi sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan menjalani kuliah secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar jumlah mata kuliah yang lebih banyak.

  4. 4. Tentukan seberapa cepat ingin menyelesaikan studi

    ilustrasi belajar depan laptop (pexels.com/roxanneminnish)
    ilustrasi belajar depan laptop (pexels.com/roxanneminnish)

    Perbedaan full-time dan part-time juga berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pendidikan. Semakin sedikit mata kuliah yang diambil dalam satu periode, biasanya semakin panjang pula waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan seluruh kredit yang menjadi syarat kelulusan.

    Sebagai contoh, Monash University Indonesia menjelaskan bahwa mahasiswa full-time umumnya mengambil dua unit per term dan dapat menyelesaikan program magister dalam sekitar 1,5 hingga 2 tahun. Sementara itu, mahasiswa part-time mengambil satu unit per term sehingga masa studinya dapat menjadi sekitar 3 hingga 4 tahun, meski durasi sebenarnya tetap bergantung pada program yang diikuti.

    Demikianlah, pilihan full-time atau part-time sebaiknya disesuaikan dengan waktu, kemampuan finansial, dan tanggung jawab yang kamu miliki. Yang terpenting, pilih ritme kuliah yang realistis agar pendidikan tetap bisa dijalani dengan konsisten sampai lulus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More