Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Maba Sering Overthinking Soal Pertemanan di Awal Kuliah?
ilustrasi overthinking (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Banyak maba merasa tertinggal karena melihat pertemanan kampus tampak cepat terbentuk, padahal banyak mahasiswa lain juga masih beradaptasi dan belum memiliki teman dekat.
  • Grup angkatan sering menampilkan interaksi aktif yang tidak mencerminkan kenyataan, membuat sebagian maba salah mengira semua orang sudah punya lingkaran pertemanan sendiri.
  • Pertemanan di kampus butuh waktu dan tidak selalu muncul sejak orientasi; ekspektasi realistis membantu maba lebih tenang dalam membangun hubungan sosial secara alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masa awal kuliah sering terasa lebih melelahkan daripada yang dibayangkan. Bukan karena tugas yang menumpuk, melainkan karena banyak hal baru datang dalam waktu bersamaan, termasuk urusan mencari teman.

Tidak sedikit maba yang mulai membandingkan diri dengan orang lain sejak minggu pertama perkuliahan. Akibatnya, hal-hal kecil yang sebenarnya biasa saja bisa terasa jauh lebih besar di kepala. Supaya kamu tidak menjadi maba sering overthinking soal pertemanan di awal kuliah, ada beberapa sudut pandang yang menarik untuk dipahami.

1. Lingkungan kampus membuat pertemanan terlihat lebih cepat terbentuk

ilustrasi maba (pexels.com/George Pak)

Pada minggu-minggu pertama kuliah, banyak kelompok pertemanan terlihat sudah terbentuk. Padahal, yang terlihat akrab belum tentu benar-benar dekat. Banyak orang hanya kebetulan sering duduk bersama, satu kelompok tugas, atau berasal dari daerah yang sama. Dari luar, situasi tersebut sering menimbulkan kesan bahwa semua orang sudah menemukan lingkaran pertemanannya.

Perasaan tertinggal biasanya muncul karena yang terlihat hanya hasil akhirnya. Jarang ada yang memperlihatkan proses canggung saat berkenalan atau rasa tidak nyaman ketika pertama kali masuk kelompok baru. Karena itulah, maba sering merasa menjadi satu-satunya orang yang belum memiliki teman dekat. Padahal, cukup banyak mahasiswa lain yang mengalami hal serupa meski tidak menunjukkannya.

2. Grup angkatan sering memberikan gambaran pertemanan yang tidak utuh

ilustrasi maba (pexels.com/Yusuf Çelik)

Banyak percakapan di grup angkatan berlangsung sangat ramai sejak awal semester. Ada yang saling bercanda, membuat agenda jalan bersama, sampai mengunggah foto kegiatan kampus hampir setiap hari. Melihat hal tersebut terus-menerus dapat menciptakan kesan bahwa semua orang sudah memiliki tempat masing-masing. Padahal, grup besar sering kali hanya menampilkan bagian yang paling aktif.

Di balik layar, banyak mahasiswa yang memilih diam karena masih menyesuaikan diri. Ada yang membaca pesan tanpa ikut berbicara, ada pula yang belum berani memulai obrolan. Sayangnya, bagian itu jarang terlihat. Akibatnya, maba lebih mudah menyimpulkan bahwa dirinya tertinggal dibanding orang lain, padahal kenyataannya belum tentu demikian.

3. Pertemanan kuliah tidak selalu berasal dari orientasi kampus

ilustrasi maba (pexels.com/Yusuf Çelik)

Banyak orang mengira teman kuliah akan ditemukan saat masa orientasi atau minggu pertama perkuliahan. Kenyataannya, cukup banyak pertemanan dekat justru muncul beberapa bulan setelah semester berjalan. Ada yang akrab karena sering bertemu di laboratorium, organisasi, kepanitiaan, atau kelas pilihan yang sama. Waktu kemunculannya tidak selalu seragam.

Karena terlalu fokus pada awal perkuliahan, sebagian maba merasa kesempatan untuk membangun pertemanan sudah lewat ketika belum menemukan kelompok yang cocok. Padahal, lingkungan kampus terus berubah sepanjang semester. Orang yang hari ini hanya sekadar saling menyapa bisa saja menjadi teman dekat beberapa bulan kemudian. Pertemanan di kampus sering berkembang dari situasi yang tidak direncanakan.

4. Banyak orang sedang menampilkan versi terbaiknya

ilustrasi maba (pexels.com/Yusuf Çelik)

Awal kuliah sering menjadi masa ketika banyak mahasiswa ingin meninggalkan kesan yang baik. Ada yang terlihat sangat percaya diri saat berbicara di kelas. Ada yang tampak mudah bergaul dengan siapa saja. Ada pula yang terlihat selalu memiliki kegiatan setiap akhir pekan. Gambaran tersebut kadang membuat orang lain merasa dirinya kurang menarik.

Padahal, apa yang terlihat belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Mahasiswa yang tampak sangat percaya diri bisa saja masih berusaha menyesuaikan diri seperti orang lain. Banyak orang memilih menunjukkan sisi terbaiknya ketika berada di lingkungan baru. Ketika hal itu dilihat terus-menerus, maba lebih mudah merasa tertinggal meski sebenarnya semua orang sedang berada dalam tahap adaptasi yang sama.

5. Ekspektasi tentang teman kuliah sering terlalu tinggi

ilustrasi maba (pexels.com/Yan Krukau)

Sejak sekolah, banyak orang mendengar cerita bahwa teman kuliah akan menjadi sahabat seumur hidup. Cerita semacam itu memang bisa terjadi, tetapi tidak selalu datang dengan cepat. Akibat ekspektasi yang terlalu tinggi, perkenalan biasa sering dianggap gagal hanya karena belum terasa dekat. Padahal, hubungan yang nyaman membutuhkan waktu untuk berkembang.

Tidak semua teman kuliah harus langsung menjadi sahabat dekat. Ada teman yang cocok untuk belajar bersama, ada yang nyaman diajak berdiskusi, dan ada yang hanya sering bertemu di kelas. Semua bentuk pertemanan tersebut tetap memiliki nilai masing-masing. Ketika ekspektasi menjadi lebih realistis, tekanan untuk segera memiliki kelompok pertemanan biasanya ikut berkurang.

Menjadi maba memang membawa banyak penyesuaian baru, termasuk dalam urusan pertemanan. Kondisi maba sering overthinking soal pertemanan di awal kuliah umumnya berasal dari asumsi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Jika banyak orang ternyata masih sama-sama mencari tempat untuk merasa nyaman, apakah benar harus terburu-buru menilai diri sendiri tertinggal?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article