ilustrasi maba (pexels.com/Yan Krukau)
Sejak sekolah, banyak orang mendengar cerita bahwa teman kuliah akan menjadi sahabat seumur hidup. Cerita semacam itu memang bisa terjadi, tetapi tidak selalu datang dengan cepat. Akibat ekspektasi yang terlalu tinggi, perkenalan biasa sering dianggap gagal hanya karena belum terasa dekat. Padahal, hubungan yang nyaman membutuhkan waktu untuk berkembang.
Tidak semua teman kuliah harus langsung menjadi sahabat dekat. Ada teman yang cocok untuk belajar bersama, ada yang nyaman diajak berdiskusi, dan ada yang hanya sering bertemu di kelas. Semua bentuk pertemanan tersebut tetap memiliki nilai masing-masing. Ketika ekspektasi menjadi lebih realistis, tekanan untuk segera memiliki kelompok pertemanan biasanya ikut berkurang.
Menjadi maba memang membawa banyak penyesuaian baru, termasuk dalam urusan pertemanan. Kondisi maba sering overthinking soal pertemanan di awal kuliah umumnya berasal dari asumsi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Jika banyak orang ternyata masih sama-sama mencari tempat untuk merasa nyaman, apakah benar harus terburu-buru menilai diri sendiri tertinggal?