Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal yang Bisa Ditiru Gen Z dari Lamine Yamal, Juara Piala Dunia 2026

5 Hal yang Bisa Ditiru Gen Z dari Lamine Yamal, Juara Piala Dunia 2026
Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)
Share Article

Di usia yang baru menginjak 19 tahun, Lamine Yamal berhasil mencatat sejarah dengan membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026. Prestasi tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pesepak bola muda terbaik di dunia setelah sebelumnya juga menjadi bagian penting keberhasilan Spanyol di Euro 2024. Kesuksesannya menunjukkan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk memberikan dampak besar di panggung internasional.

Bagi Gen Z, kisah Lamine Yamal bukan hanya tentang sepak bola. Perjalanannya menjadi contoh bagaimana bakat perlu dipadukan dengan disiplin, mental yang kuat, kemauan belajar, dan kemampuan bekerja sama.

1. Konsisten berlatih, bukan hanya mengandalkan bakat

Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)
Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)

Lamine Yamal memang dikenal memiliki bakat luar biasa sejak kecil. Namun, keberhasilannya tidak lepas dari latihan yang konsisten di akademi La Masia. Bahkan menjelang final Piala Dunia 2026, ia tetap menjalani program latihan fisik, teknik, dan pemulihan secara disiplin agar selalu berada dalam performa terbaik.

“Di La Masia mereka mengajarkan bahwa bakat adalah titik awal, bukan tujuan. Kerja keraslah yang terpenting. Saya mempelajari itu ketika berusia delapan tahun dan saya tidak pernah melupakannya,” kata Lamine Yamal kepada media resmi La Liga dalam laman Owaves.

Hal ini menjadi pengingat bahwa bakat hanyalah titik awal. Di sekolah, kampus, maupun tempat kerja, seseorang akan berkembang lebih cepat jika terus mengasah kemampuan melalui latihan yang berulang. Konsistensi sering kali memberikan hasil yang lebih besar dibandingkan motivasi yang hanya muncul sesaat.

2. Tetap rendah hati meski berprestasi

Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)
Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)

Meski sudah menjadi bintang dunia, Lamine Yamal berkali-kali menunjukkan sikap rendah hati. Setelah menjadi juara dunia, ia mengatakan bahwa orangtuanya mengajarkan arti tekanan hidup yang sebenarnya sehingga baginya bermain sepak bola adalah sebuah kesempatan yang harus disyukuri, bukan beban.

"Saya tidak pernah merasakan tekanan saat bermain sepak bola. Bagi saya, tekanan sebenarnya adalah apa yang dihadapi orangtua saya: bekerja, menghidupi keluarga, mencukupi kebutuhan. Sebaliknya, sepak bola adalah tempat aman saya," katanya dikutip dari Six Pack Snacks.

Sikap seperti ini penting ditiru Gen Z. Prestasi memang layak dirayakan, tetapi tetap menghargai orang lain dan tidak merasa paling hebat akan membuat seseorang lebih mudah berkembang. Kerendahan hati juga membantu seseorang menerima kritik sebagai bahan evaluasi.

 

3. Tidak takut menghadapi tekanan

Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)
Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)

Bermain di final Piala Dunia pada usia 19 tahun tentu menghadirkan tekanan luar biasa. Namun, Lamine Yamal tetap mampu tampil tenang dan mengambil keputusan dengan baik di lapangan. Kemampuan mengelola tekanan inilah yang membuatnya tampil konsisten pada pertandingan-pertandingan besar.

"Saya berusaha untuk tidak terlalu memikirkan semua tekanan. Tujuan saya adalah menikmati bermain sepak bola, karena itulah yang terpenting. Ketika kamu terlalu banyak berpikir, saat itulah perasaan tekanan muncul," ujar Yamal.

Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan juga hadir dalam bentuk ujian, deadline pekerjaan, wawancara kerja, hingga presentasi. Menghindari tekanan bukanlah solusi, melainkan belajar mengelolanya agar tetap fokus pada tujuan.

4. Selalu mau belajar dan terus berkembang

Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)
Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)

Perjalanan Lamine Yamal menunjukkan bahwa pemain hebat tidak pernah berhenti belajar. Seiring bertambahnya pengalaman, ia terus mengembangkan cara bermain, meningkatkan pengambilan keputusan, dan beradaptasi dengan berbagai situasi pertandingan.

Hal yang sama berlaku bagi Gen Z. Dunia kerja berubah sangat cepat sehingga kemampuan belajar menjadi salah satu keterampilan paling penting. Mengikuti pelatihan, membaca buku, atau mempelajari teknologi baru akan menjadi investasi jangka panjang.

5. Mengutamakan tim daripada diri sendiri

Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)
Lamine Yamal (foto via Instagram.com/lamineyamal)

Walaupun sering mencetak gol dan menjadi sorotan, Lamine Yamal dikenal sebagai pemain yang tetap mengutamakan kepentingan tim. Banyak pelatih memuji kecerdasannya dalam memilih umpan terbaik dibandingkan memaksakan aksi individu. Keberhasilan Spanyol di Piala Dunia 2026 juga lahir dari filosofi permainan kolektif yang telah dibangun sejak usia dini.

"Saya hanya berpikir untuk bermain bagus, membantu tim saya, dan meningkatkan kemampuan setiap hari. Hanya itu yang bisa saya kendalikan," katanya.

Bagi Gen Z, kemampuan bekerja sama menjadi modal penting di dunia profesional. Perusahaan saat ini lebih menghargai individu yang mampu berkolaborasi dibandingkan mereka yang hanya ingin tampil sendiri.

Keberhasilan Lamine Yamal menjadi juara Piala Dunia 2026 pada usia 19 tahun membuktikan bahwa kesuksesan besar lahir dari perpaduan bakat, kerja keras, disiplin, kerendahan hati, semangat belajar, dan kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai tersebut tidak hanya relevan di lapangan sepak bola, tetapi juga dapat diterapkan oleh Gen Z dalam mengejar prestasi di sekolah, kampus, dunia kerja, maupun kehidupan sehari-hari.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More