“Sangat penting untuk memiliki hubungan yang kuat, atau hubungan yang sehat, dengan atasan karena berbagai alasan. Pertama, atasan kamu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap stres di tempat kerja, baik nyata maupun yang dirasakan. Mereka dapat membuat tempat kerja menjadi menyenangkan dan sesuatu yang dinantikan setiap hari, atau tempat yang kamu takuti untuk dikunjungi. Singkatnya, kesehatan kamu dipertaruhkan," kata kepala eksekutif What’s For Work?, sebuah situs karier untuk perempuan Teri Hockett kepada Forbes.
5 Hal yang Sebaiknya Dilakukan Selama 90 Hari Pertama Kerja

Memulai pekerjaan baru merupakan momen yang penuh tantangan sekaligus peluang. Dalam 90 hari pertama, karyawan tidak hanya dituntut memahami tugas dan tanggung jawabnya, tetapi juga harus beradaptasi dengan budaya perusahaan, membangun hubungan dengan rekan kerja, serta menunjukkan bahwa mereka mampu memberikan kontribusi positif.
Masa ini sering disebut sebagai periode penyesuaian yang dapat menentukan kesuksesan seseorang dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk memanfaatkan masa 90 hari pertama sebagai kesempatan belajar, membangun kepercayaan, dan menunjukkan profesionalisme sejak awal.
1. Fokus memahami budaya kerja dan ekspektasi perusahaan

Pada minggu-minggu pertama bekerja, jangan terburu-buru ingin menunjukkan kemampuan tanpa memahami lingkungan kerja terlebih dahulu. Luangkan waktu untuk mengamati bagaimana tim berkomunikasi, cara pengambilan keputusan dilakukan, serta nilai-nilai yang dijunjung perusahaan. Memahami budaya kerja akan membantumu menyesuaikan diri lebih cepat dan mengurangi risiko terjadinya kesalahpahaman.
Selain budaya kerja, pahami pula ekspektasi atasan terhadap peranmu. Jangan ragu bertanya mengenai target yang harus dicapai, indikator keberhasilan pekerjaan, hingga prioritas yang perlu diselesaikan lebih dahulu. Semakin jelas ekspektasi yang kamu pahami, semakin mudah pula menentukan langkah kerja yang tepat.
2. Bangun hubungan baik dengan atasan dan rekan kerja

Kesuksesan di tempat kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga kualitas hubungan dengan orang-orang di sekitarmu. Oleh karena itu, manfaatkan 90 hari pertama untuk mengenal rekan satu tim, lintas divisi, maupun atasan. Bersikap ramah, mudah diajak berdiskusi, dan menghargai pendapat orang lain akan membantu membangun kepercayaan lebih cepat.
Membangun relasi juga berarti menjadi pendengar yang baik. Saat rekan kerja memberikan masukan atau menjelaskan proses kerja, dengarkan dengan saksama sebelum memberikan pendapat. Sikap ini menunjukkan bahwa kamu menghargai pengalaman mereka dan ingin belajar terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
3. Aktif meminta umpan balik agar bisa berkembang lebih cepat

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan karyawan baru adalah menunggu evaluasi resmi dari perusahaan untuk mengetahui apakah kinerjanya sudah sesuai harapan. Padahal, meminta umpan balik secara berkala dapat membantu mengetahui apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Semakin cepat kamu memperoleh masukan, semakin cepat pula proses belajarmu.
Saat meminta umpan balik, ajukan pertanyaan yang spesifik. Misalnya, "Apakah cara saya menyusun laporan sudah sesuai standar tim?" atau "Adakah hal yang bisa saya tingkatkan saat berkomunikasi dengan klien?" Pertanyaan yang jelas akan menghasilkan masukan yang lebih konkret dan mudah diterapkan dibandingkan pertanyaan yang terlalu umum.
4. Tunjukkan inisiatif, tetapi jangan terburu-buru mengubah segalanya

Memiliki semangat tinggi di pekerjaan baru tentu merupakan hal yang positif. Namun, hindari keinginan untuk langsung mengubah berbagai proses kerja sebelum benar-benar memahami alasan di balik sistem yang sudah berjalan. Luangkan waktu untuk mengamati, bertanya, dan memahami konteks setiap kebijakan terlebih dahulu.
Inisiatif yang baik tidak selalu berarti membuat perubahan besar. Kamu bisa memulainya dengan menyelesaikan tugas tepat waktu, membantu rekan kerja ketika memiliki kapasitas, menawarkan ide saat diminta, atau mencari solusi atas masalah-masalah kecil yang dihadapi tim. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa kamu proaktif sekaligus menghargai pengalaman orang lain.
"Di era perubahan yang cepat, struktur organisasi yang datar, dan kerja jarak jauh, inisiatif telah menjadi keterampilan bertahan hidup. Organisasi tidak lagi mampu memiliki karyawan yang hanya menunggu instruksi," kata ahli strategis operasional dan pertumbuhan senior Tara Minh dikutip dari Rework.
"Karyawan dengan inisiatif tinggi dipromosikan 23 persen lebih cepat daripada rekan-rekan mereka, mendapatkan penghasilan 15-20 persen lebih banyak selama karier mereka, dan melaporkan kepuasan kerja yang jauh lebih tinggi," tambahnya.
5. Tetapkan target belajar dan bangun reputasi yang positif

Selama 90 hari pertama, jangan hanya berfokus pada penyelesaian daftar tugas harian. Gunakan periode ini untuk menetapkan target belajar yang jelas, misalnya menguasai perangkat lunak yang digunakan perusahaan, memahami alur kerja setiap divisi, atau meningkatkan kemampuan presentasi dan komunikasi.
Target yang terukur akan membuat perkembanganmu lebih mudah dievaluasi dan membantu membangun rasa percaya diri dalam menjalankan peran baru. Di saat yang sama, bangun reputasi sebagai karyawan yang dapat diandalkan.
Datang tepat waktu, menepati janji, menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat, serta bersikap terbuka terhadap kritik merupakan kebiasaan sederhana yang memberikan kesan positif. Reputasi profesional tidak dibangun dari satu pencapaian besar, melainkan dari konsistensi dalam menunjukkan sikap yang bertanggung jawab setiap hari.
Sembilan puluh hari pertama bekerja merupakan fondasi penting bagi perjalanan karier di sebuah perusahaan. Pada masa ini, fokus utama bukanlah membuktikan bahwa kamu sudah mengetahui segalanya, melainkan menunjukkan kemauan untuk belajar, beradaptasi, membangun hubungan yang baik, serta memberikan kontribusi secara bertahap.




















